Jayapura, Jubi – Pengunjuk rasa Inggris mengutuk pembunuhan aktivis keturunan Turki-Amerika di Tepi Barat. Mereka menyerukan pemerintah Amerika Serikat, dan Inggris menuntut pertanggungjawaban Israel atas kejahatan tersebut.
Charlie Burt, seorang demonstran menyatakan pembunuhan tersebut merupakan tindakan biadab. Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris harus menuntut pertanggungjawaban Israel.
“Pemerintah Inggris, dan Amerika Serikat perlu meminta pertanggungjawaban Israel atas pembunuhan ini. Sejujurnya, ini [pembunuhan itu perbuatan] menjijikkan,” kata Burt, dikutip Anadolu.
Dia menilai Pemerintah Inggris selama ini terlalu lunak terhadap Israel meskipun mereka telah menangguhkan 30 lisensi senjata kepada rezim zionisme tersebut. Menurutnya, Pemerintah Inggris harus berbuat lebih banyak untuk mencegah pembunuhan di Israel.
“Semua [bantuan] harus dihentikan, termasuk suku cadang [pesaat tempur] F-35. Kita [komunitas internasional] harus memberi sanksi, mencabut hak milik, serta memboikot sepenuhnya Israel sampai genosida berakhir, dan Palestina bebas [merdeka],” kata Burt.
Vicki Narcin, pengunjuk rasa lain mengatakan membunuh aktivis karena menentang genosida sudah menjadi hal biasa bagi Israel. Karena itu, tindakan tersebut harus segera diakhiri sekarang.
“Ini [tindakan Israel] merupakan genosida, melanggar hukum internasional. Menurut saya, mereka ialah penjahat perang,” kata Narcin.

Kemarahan publik
Tentara Israel dilaporkan menembak mati Aysenur Ezgi Eygi, 26 tahun, seorang aktivis hak asasi manusia, keturunan Turki-Amerika Serikat. Penembakan terjadi ketika Eygi mengikuti demonstrasi damai untuk menentang permukiman ilegal Israel di Kota Beita, dekat Nablus, Tepi Barat.
Eygi selama ini aktif dalam gerakan solidaritas terhadap Palestina. Gubernur Nablus Ghassan Daghlas menyatakan laporan autopsi menunjukkan Eygi tewas akibat peluru dari penembak jitu Israel bersarang di kepalanya.
Pernyataan Daghlas sejalan penjelasan Direktur Rumah Sakit Rafidia di Nablus Fouad Nafia. Nafia menyatakan Eygi dibawa ke rumah sakit dengan luka tembak pada kepala. Dia dinyatakan meninggal meskipun telah dilakukan upaya resusitasi.
Pembunuhan terhadap Eygi memicu kemarahan dan seruan pertanggungjawaban dari masyarakat lokal maupun internasional. Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pun turut mengutuk kejadian tersebut.
Departemen Ekspatriat PLO menyatakan pembunuhan terhadap Eygi merupakan kebrutalan Israel terhadap warga sipil. Tujuannya ialah mengintimidasi dan menekan dukungan publik bagi Palestina.
Sekretaris Jenderal PLO Hussein al-Sheikh menyebut pembunuhan terhadap Eygi menambah panjang rentetan tindak kekejaman yang sering dianggap biasa oleh Israel. Karena itu, dia menyerukan Pengadilan Internasional mengadili militer Israel.
“Tel Aviv bertanggung jawab sepenuhnya atas pembunuhan Eygi. Kami juga menuntut kepatuhan [Israel] terhadap resolusi internasional dan diakhirinya pendudukan [atas Palestina],” kata al-Sheikh, dikutip Anadolu.

Upaya pemulangan Jenazah
Eygi berkewarganegaraan Amerika Serikat dan Turki. Pemerintah Turki masih terus berupaya memfasilitasi pemulangan jenazah Eygi supaya pihak keluarga bisa memakamkannya.
“Kami terus melakukan upaya untuk menyerahkan jenazah warga negara kami, Aysenur Ezgi Eygi, yang dibunuh tentara Israel di Tepi Barat, kepada keluarganya untuk dimakamkan. Kami sedang berkomunikasi dengan anggota keluarga almarhumah yang tinggal di Amerika Serikat dan kerabatnya di Turki,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Turki Oncu Keceli melalui akun X.
Dia mengatakan jenazah Eygi akan dibawa ke Israel, sebelum diterbangkan ke Turki melalui Yordania. Mereka berharap pihak berwenang di Palestina segera menyerahkan laporan hasil autopsi kepada Konsulat Jenderal Turki di Yerusalem.
Pembunuhan terhadap Eygi mengingatkan publik dunia pada kasus yang dialami jurnalis Amerika-Palestina, Shireen Abu Akleh. Dia juga dibunuh dengan cara serupa oleh tentara Israel pada 2022.
Shireen ialah jurnalis senior dari Kantor Berita Al Jazeera. Dia dihormati karena liputan ekstensifnya tentang genosida Israel atas Palestina.
Shireen tewas akibat tembakan di kepala pada 11 Mei 2022. Saat itu, dia tengah meliput serangan militer Israel di kamp pengungsi Jenin, Kota Hebron, Tepi Barat. Meskipun Shireen mengenakan jaket pers, dan helm saat meliput serangan tersebut, dia tetap menjadi sasaran penembakan tentara Israel. (*)























Discussion about this post