Jayapura, Jubi – Palestina mempersiapkan pengajuan pengaduan kasus pembunuhan aktivis Aysenur Ezgi Eygi ke Pengadilan Kriminal Internasional atau ICC. Mereka juga telah berkoordinasi dengan pihak berwenang Amerika Serikat dan Turki untuk memastikan penyelidikan yang adil terhadap perkara tersebut.
Kesiapan pengajuan pengaduan ke ICC itu disampaikan Presiden Mahmoud Abbas melalui telepon kepada ayah Eygi, Mehmet Suat Eygi, Sabtu waktu setempat. Demikian laporan Kantor Berita Wafa yang dikutip Anadolu.
“Pemerintah Palestina telah berkoordinasi dengan pihak berwenang Amerika Serikat dan Turki untuk memastikan penyelidikan yang adil atas pembunuhan Aysenur. Saat ini, sedang dipersiapkan pengajuan pengaduan ke Pengadilan Kriminal Internasional, terkait kejahatan tersebut,” kata Abbas.
Abbas menyampaikan belasungkawa kepada Rakyat Turki atas pembunuhan Aysenur. Dia menyebut Aysenur sebagai putri pemberani Palestina dan Turki yang dibunuh oleh pendudukan Israel. Selain itu, mendiang menjadi simbol nyata solidaritas antara Rakyat Turki dan Palestina yang bersaudara.
Abbas juga mengumumkan penganugerahan Medali Bintang Yerusalem kepada Aysenur. Itu sebagai penghormatan atas pengorbanan besarnya dalam memperjuangkan hak kebebasan dan kemerdekaan Rakyat Palestina. Abbas juga mengundang orang tua dan keluarga Aysenur berkunjung ke Palestina.
Tentara Israel dilaporkan menembak mati Aysenur, 26 tahun, seorang aktivis hak asasi manusia, keturunan Turki-Amerika Serikat. Penembakan terjadi ketika Eygi mengikuti demonstrasi damai untuk menentang permukiman ilegal Israel di Kota Beita, dekat Nablus, Tepi Barat, Jumat (6/9/2024).
Aysenur selama ini aktif dalam gerakan solidaritas terhadap Palestina. Gubernur Nablus Ghassan Daghlas menyatakan laporan autopsi menunjukkan Eygi tewas akibat peluru dari penembak jitu Israel, yang bersarang di kepalanya.
Pernyataan Daghlas sejalan penjelasan Direktur Rumah Sakit Rafidia di Nablus Fouad Nafia. Nafia menyatakan Aysenur dibawa ke rumah sakit dengan luka tembak pada kepala. Dia dinyatakan meninggal meskipun telah dilakukan upaya resusitasi.
Jenazah Aysenur dipindahkan dari Tel Aviv ke Baku, Azerbaijan, kemudian ke Istanbul, dan Izmir. Jenazahnya diterima dalam upacara resmi, di bawah koordinasi Kedutaan Besar Turki di Tel Aviv, dan Konsulat Jenderal di Yerusalem. Setelah menjalani pemeriksaan forensik di Izmir, jenazah Aysenur diberangkatkan ke Kota Didim di Provinsi Aydin untuk dimakamkan di kawasan Aegea.

Perlindungan terhadap jurnalis
Sementara itu, sekitar 90 jurnalis Jerman menyerukan perlindungan terhadap keselamatan rekan-rekan seprofesi mereka di Palestina. Mereka juga menuntut akses bagi jurnalis internasional di Jalur Gaza.
Para jurnalis yang mendirikan situs web Protect Journalists in Gaza tersebut menekankan pentingnya diversifikasi sumber serta memastikan kerja sama yang setara dan profesional. Mereka juga menegaskan setiap laporan pemberitaan harus tetap kritis terhadap pernyataan oleh pihak-pihak terkait.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa situasi jurnalis di Gaza lebih berbahaya daripada di wilayah lain di dunia. Mereka mencatat ada 140 pekerja media tewas dalam serangan Israel sejak 7 Oktober tahun lalu. Mereka pun menekankan serangan terhadap jurnalis merupakan kejahatan perang.
“Tentara Israel terus membunuh rekan-rekan kami yang dengan jelas diidentifikasi sebagai personel media berdasarkan label di rompi, dan helm mereka. Tidak ada zona konflik tertutup bagi jurnalis [untuk meliput beritanya] seperti dilakukan Israel terhadap Jalur Gaza,” kata para jurnalis Jerman, Sabtu waktu setempat, dikutip Anadolu.
Para jurnalis juga mengkritik media di Jerman karena memproduksi berita yang pro-Israel dan hanya mengandalkan informasi dari pejabat negara zionis tersebut. Karena itu, mereka mendesak perusahaan media di Jerman lebih berimbang dalam menayangkan berita tentang pendudukan Israel atas Palestina. (*)





















Discussion about this post