Manokwari, Jubi – Badan Pengarah Percepatan pembangunan Otonomi khusus Papua atau BP3OKP mendapat pengaduan dari masyarakat terkait air sumur dan udara yang tercemar diduga dari Dapur Makan Bergizi Gratis atau MBG Ash Sidiq Prafi Mulya yang beralamat di Jalan Gunung Salju Kelurahan Amban, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Dalam aduannya warga mengeluhkan air sumur yang tercemar karena limbah Ipal dari Dapur MBG berdekatan dengan sumur. Selain itu udara panas dari atap yang menyebabkan penghuni rumah kos di kawasan itu terpaksa hengkang sehingga merugikan pemilik usaha rumah kos di kawasan Amban.
Pokja Politik Hukum dan Keamanan BP3OKP Papua Barat Ismail Sirfefa mengaku bahwa setelah menerima pengaduan pihaknya langsung ke lokasi.
“Kami melihat langsung ke lokasi dan memang dapur sangat dekat dengan pemukiman warga bahkan berdasarkan pengakuan warga air sumur tercemar,” kata Ismail Sirfefa Senin (13/4/2026).
Dapur MBG Ash Sidiq menyuplai makanan ke sekolah di bawah Yayasan Pendidikan Islam atau Yapis Manokwari.
“Yang kita lihat tadi kan (dapur) tidak memenuhi syarat itu, artinya secara pengelolaan di dalam itu oke tetapi lingkungan tidak memberi ruang, berdampak terhadap masyarakat” kata Ismail.
Ismail kemudian mempertanyakan syarat pendirian dapur dan pengawasan yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional BGN Region Papua Barat terhadap dapur-dapur MBG di Papua Barat.
“Ini domain Badan Gizi Nasional melakukan kajian survei kelayakan dapur memperhatikan lingkungan, rupanya tidak dilakukan (BGN),” kata Ismail
Dikatakan prasarana lingkungan tidak memadai bahkan mesti jauh dari pemukiman warga.
“Tadi ketika saya mendengar keluhan warga itu bisa jadi persoalan hukum,” kata Ismail.
Pihak BP3OKP kemudian menemui pemilik dapur namun mendapatkan jawaban keluhan pemilik terkait dengan keterbatasan anggaran.
“Tadi ada tawaran kalau memang Ibu (pengelola Dapur) ada lahan lebih baik bangun di lahan lain, tetapi rupanya ibu juga menyebut tidak ada, tapi kalau memang ada lahan anggaran dari mana?” ujarnya.
“Ini kalau jadi persoalan serius karena mungkin yang lain belum ngomong soal dampak pencemaran terhadap air sumur dan pencemaran udara,” kata Sirfefa
Salah satu orangtua mahasiswa yang menitipkan anaknya di rumah kos putri di Amban terpaksa memindahkan anaknya ke rumah kos lain. Padahal anaknya sudah empat tahun tinggal di rumah kos tersebut, namun kini mengalami ketidaknyamanan.
“Terpaksa anak saya dipindahkan cari kos lain karena tidak nyaman, padahal sudah lama tinggal di kos putri,” kata Salah satu orang tua mahasiswa.
Pemilik rumah kos di dekat dapur tersebut mengaku rugi karena penghasilan berkurang sejak adanya keresahan para penghuni atas Air dan udara dari Dapur MBG.
“Anak-anak kos pada keluar hanya beberapa yang bertahan namun mereka tidak mau bayar kos karena alasan terganggu dengan kenyamanan selama ini,” kata pemilik rumah kos Purwati
Rumah kos yang hanya menampung mahasiswi itu sudah berdiri lama sekitar 10 tahun, namun adanya MBG menyebabkan sekitar delapan kamar kosong ditinggalkan penghuni karena tak nyaman.
“Sebelumnya saya diam karena faktor malu hati karena tetangga lalu saya inisiatif sendiri buat pagar, tetapi larinya ke air,” katanya.

Air sumur yang terkena awalnya rasa minyak namun 6 bulan berlangsung air sumur mulai keruh sehingga saat dia memanggil tukang untuk menggali ternyata rembesan dari pembuangan MBG.
“Setelah saya kuras sumur saya tegur pengelola, kemudian pihak pengelola menyebut bahwa urusan dengan pemilik tanah, namun setelah lebaran baru mereka pindahkan Ipal yang dekat dengan sumur,” ujarnya.
Salah satu pengelola Dapur MBG mengakui kelalaian tersebut bahkan setelah mendapatkan komplain pihaknya memindahkan Ipal ke depan.
Kepala Badan Gizi Nasional BGN Region Papua Barat Erika Vionita Warinusa dikonfirmasi terkait hal ini namun hingga berita ini diterbitkan belum merespon. (*)























Discussion about this post