Sorong, Jubi – Kota Sorong, Papua Barat Daya, kembali menegaskan perannya sebagai gerbang peradaban laut dunia melalui penyelenggaraan ReSea Global Seascape Experience, sebuah forum lingkungan internasional yang mempertemukan pemimpin, pengambil kebijakan, dan organisasi global dari tujuh negara untuk membahas masa depan pengelolaan laut yang berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat adat, Senin (9/2/2026). Kegiatan ini menempatkan Sorong dan Kabupaten Raja Ampat sebagai contoh praktik konservasi laut dan ekonomi biru yang telah berjalan hampir dua dekade di Tanah Papua.
Direktur Program Konservasi Indonesia di Papua, Roberth Mandosir, menegaskan bahwa ReSea Global Seascape Experience bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang belajar kolektif lintas negara jadi kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari tujuh negara.
“Ini menunjukkan bahwa kerja sama antara pemerintah, masyarakat adat, dan mitra pembangunan di wilayah ini telah berlangsung cukup lama, hampir 20 tahun. Apa yang terjadi di Raja Ampat dan Bentang Laut Kepala Burung adalah praktik baik yang ingin dipelajari oleh negara-negara lain,” ujar Roberth
Ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan laut di Papua Barat Daya lahir dari kolaborasi yang konsisten, bukan kerja sepihak konservasi tidak mungkin berjalan sendiri. “Ini adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, mitra pembangunan, dan masyarakat lokal. Masyarakat adat adalah aktor utama, bukan pelengkap tanpa mereka, keberhasilan ini tidak akan ada,” ujarnya
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Menurut Roberth, ReSea Global Seascape Experience juga menjadi momentum strategis untuk memperkuat pembelajaran lintas kawasan, terutama dengan negara-negara di Afrika yang memiliki tantangan dan karakter bentang laut yang serupa jadi tujuan utama pertemuan ini adalah memperkuat pembelajaran lintas negara dan mengembangkan kesepakatan bersama, khususnya dengan negara-negara Afrika. “Kita berbagi praktik baik, sekaligus belajar dari pengalaman mereka,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya diharapkan memainkan peran kunci sebagai penghubung kerja sama internasional dan Provinsi Papua Barat Daya. “Kami dorong menjadi leading institution yang menghubungkan kerja sama antarnegara dalam menjaga kawasan laut penting secara kolektif,” lanjut Roberth.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausrau, mewakili Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu. Dalam sambutannya, Gubernur menegaskan bahwa laut bagi orang Papua bukan sekadar sumber ekonomi. “Bagi masyarakat Papua, laut bukan hanya ruang ekonomi dan laut adalah ruang hidup, ruang budaya, dan ruang masa depan bagi generasi yang akan datang,” kata Gubernur
Ia juga menegaskan bahwa upaya menjaga laut harus berangkat dari penghormatan terhadap alam dan masyarakat adat pengelolaan laut harus dilakukan dengan menghormati alam dan masyarakat adat sebagai penjaga pertama wilayah ini
P”engalaman di Bentang Laut Kepala Burung mengajarkan kita bahwa ketika masyarakat dilibatkan, adat dihormati, dan pemerintah hadir sebagai fasilitator, maka konservasi dan kesejahteraan dapat berjalan bersama,” ujarnya
Menurut Gubernur, pertukaran pembelajaran internasional ini memiliki makna lebih luas dari sekadar diskusi lingkungan kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang perlindungan alam, tetapi juga tentang keadilan, keberlanjutan, dan harapan bagi masa depan masyarakat pesisir.
Ia juga menyampaikan selamat datang kepada seluruh delegasi internasional yang hadir di Tanah Papua.
“Kami menyambut saudara saudara semua di Papua Barat Daya, wilayah yang dikenal dunia melalui Bentang Laut Kepala Burung dan kehadiran Anda bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai mitra dan keluarga untuk belajar bersama dan berbagi pengalaman,” katanya.
Gubernur menekankan pentingnya pengelolaan laut yang ditopang oleh pembiayaan berkelanjutan dan pariwisata yang bertanggung jawab.
“Kita belajar bagaimana pengelolaan kawasan laut dapat didukung oleh pembiayaan berkelanjutan, pariwisata yang bertanggung jawab, serta kemitraan yang saling menguatkan antara pemerintah, masyarakat, dan dunia internasional,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, lanjutnya, berkomitmen membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. “Kami berkomitmen menjaga laut sebagai warisan bersama dengan memperkuat peran masyarakat adat dan lokal, serta memastikan manfaat pengelolaan sumber daya alam benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” katanya
Gubernur menyampaikan pesan kuat dari Tanah Papua untuk dunia Dari Tanah Papua akan lahir pesan bagi dunia bahwa laut dapat dijaga secara adil, bermartabat, dan berkelanjutan.
ReSea Global Seascape Experience dihadiri delegasi 7 negara
Kegiatan ini mendelegasikan 7 negara, diantaranya Menteri Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan Republik Madagaskar Menteri Muda Bidang Agroindustri, Ketahanan Pangan, Ekonomi Biru, dan Perikanan Republik Mauritius
Sekretaris Negara Bidang Pertahanan dan Lingkungan Hidup Republik Mozambik, Direktur Jenderal Ekonomi Republik Madagaskar, Direktur Provinsi untuk Pengembangan Wilayah dan Lingkungan Provinsi Inhambane Republik Mozambik, Direktur Kabinet Gubernur Moheli, Republik Komoro, Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup Republik Komoro.
Acara ini juga dhadiri delegasi 6 organisasi internasional dan nasional, yaitu UCN ESARO Kantor Regional Afrika Timur dan Selatan, UNICE Komisi Ekonomi PBB untuk Afrika, Fauna Flora Mission Inclusion (MI), Conservation International Konservasi Indonesia
“Melalui Resea Global Seascape Experience, kami ingin mendorong kolaborasi lintas sektor untuk masa depan laut yang berkelanjutan,” ujar salah satu perwakilan Resea Global.
Dalam forum tersebut, para delegasi internasional juga menyoroti pentingnya menjadikan Bentang Laut Kepala Burung sebagai model global pengelolaan seascape berbasis Masyarakat.
“Apa yang kami lihat di Raja Ampat dan Papua Barat Daya adalah contoh nyata bagaimana konservasi tidak meminggirkan masyarakat, tetapi justru memperkuat peran mereka. Ini adalah pelajaran penting bagi negara-negara berkembang lainnya,” ujar salah satu perwakilan delegasi Afrika dalam sesi diskusi.
Para peserta sepakat bahwa keberhasilan pengelolaan laut di kawasan ini tidak terlepas dari pengakuan terhadap hak-hak masyarakat adat serta konsistensi kebijakan pemerintah daerah jadi pengakuan wilayah adat, kepemimpinan lokal yang kuat, serta kemitraan jangka panjang dengan organisasi konservasi menjadi fondasi utama keberhasilan Bird’s Head Seascape. Ini bukan hasil instan, tetapi proses panjang yang patut dihormati.
Melalui ReSea Global Seascape Experience, Papua Barat Daya diharapkan tidak hanya menjadi tuan rumah pembelajaran, tetapi juga pusat lahirnya komitmen global baru untuk perlindungan laut. Dari Sorong, mereka ingin mengirim pesan ke dunia bahwa laut dapat dikelola secara adil, berkelanjutan, dan bermartabat, selama masyarakat adat ditempatkan sebagai penjaga utama dan mitra sejajar dalam setiap kebijakan.
Melalui kegiatan ini, Sorong dan Raja Ampat kembali menegaskan dirinya bukan hanya sebagai destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga sebagai laboratorium hidup konservasi laut global, tempat dunia belajar bahwa menjaga laut Papua berarti menjaga manusia, budaya, dan masa depan bersama di tanah Papua .(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua
























Discussion about this post