Sorong, Papua Barat Daya Jubi – Komunitas aksi produktif atau ATAP Papua bersama Balai Pelestarian Budaya Wilayah XXIII Papua dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sorong menggelar pelatihan pembuatan anak panah atau karef untuk kalangan generasi muda di Kelurahan Klamalu, Kabupaten Sorong Selasa hingga Rabu, (30 – 31/07/2024)
Pendiri Komunitas Atap Papua, Desy Karunia Oktoviana Sentuf menjelaskan ini merupakan upaya Komunitas Atap Papua bersama Balai Pelestarian Budaya Wilayah XXIII mendorong warisan budaya karef melalui pelatihan dan pengenalan oleh sanggar pengrajin anak panah karef hamit.
“Komunitas kami dalam melestarikan budaya Karef Anak Panah tidaklah mudah. Kami harus berhadapan dengan berbagai tantangan, seperti dunia teknologi digital dan kurangnya minat generasi muda keterbatasan sumber daya atau perubahan gaya hidup,” katanya di Klamalu, Rabu, (31/07/2024).
Kerajinan Anak Panah karya warga Aifat ini pernah merajai Kota Sorong sebagai cinderamata khas Papua yang biasa kita temukan di pasar, toko, terutama di Pelabuhan Sorong saat kapal PELNI sandar dan berlabuh. Namun kini kerajinan tersebut sangat langka dijumpai di pelabuhan apalagi di toko toko cinderamata
“Souvenir ini sudah tidak diproduksi lagi. Pengrajinnya terdiri dari enam orang tua, tiga diantaranya telah meninggal dunia. Masalah lain ditemukan dari keenam pengrajin Karef ini tidak memiliki penerus yang konsen untuk melanjutkan souvenir anak panah (karef) khas suku aifat ini,” jelasnya.
Karef merupakan warisan budaya leluhur masyarakat lokal di wilayah Aifat Kabupaten Maybrat. Seni ukir yang dibuat menggunakan kayu khusus, masyarakat lokal Maybrat menyebutnya kayu kroi, kayu saif, kayu susu, dan kayu gagar.
“Biasanya bisa mereka temui di hutan kemudian diukir cantik menggunakan motif, motif khas yang menggambarkan kehidupan masyarakat Aifat di Kabupaten Maybrat.”
Sentuf menjelaskan Keref adalah salah satu karya seni khas Kabupaten Maybrat Suku Aifat yang terancam punah. Melalui budaya Karef komunitas ATAP Papua ingin menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan.
“Sayangnya proses transfer pengetahuan ini sudah mulai ditinggalkan, yang mengakibatkan putusnya rantai keahlian, ilmu, dan praktik tradisi budaya lokal,” katanya.

Para pengrajin dari KSM Ayosam yang menjadi mentor pada pelatihan ini, pada hari pertama mengajarkan pembuatan pola pada kayu yang kemudian dipahat halus, diukir membentuk motif pada ukiran di kayu yang telah digambar.
Pada hari kedua para peserta belajar mengukir motif pada karef hingga proses menghiasi dengan pernak pernik seperti,manik-manik dan bulu ayam
“Kami sangat senang dapat berbagi pengetahuan dan keterampilan dengan Komunitas Atap Papua. Semoga kerjasama ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Ketua KSM Ayosami, Willem Saut.
Ia berharap selain melestarikan budaya, ia berharap pelatihan ini juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pengembangan produk kerajinan tangan.
Kepala Seksi Sejarah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sorong, Yulianus Ulim berharap para peserta dapat menguasai keterampilan.
“Kami sebagai pemerintah kabupaten Sorong akan siap memberikan dukungan kepada mereka. Kami minta pemerintah provinsi dan kabupaten kota perlu diperhatikan baik seni ukir di provinsi Papua Barat Daya agar menjadi nilai ekonomi masyarakat di masing-masing wilayahnya,”katanya.
Komunitas Atap Papua adalah komunitas pemuda yang berdiri pada 20 Februari 2019 di Kabupaten Sorong. Atap papua merupakan komunitas pemuda yang konsen mempertahankan nilai-nilai budaya dan melestarikannya, dengan mendong seni tari tradisional di rumah-rumah belajar binaan. dengan tujuan untuk mengangkat kembali budaya entitas Papua lebih khusus lagi di Provinsi Papua Barat Daya, Kabupaten Maybrat.(*)























Discussion about this post