• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Tanah Papua

Persepsi keliru pembangunan untuk perdamaian di Papua

April 19, 2022
in Tanah Papua
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: - Editor:
pembangunan

Ilustrasi, demo Papua- Jubi/IST

0
SHARES
9
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jakarta, Jubi – Diskusi Imparsial yang mengundang sejumlah ahli, tokoh masyarakat, dan juru damai awal minggu ini menguak kenyataan bahwa pembangunan bukan jawaban mengakhiri konflik dan menciptakan perdamaian di Papua.

Alat mencapai tujuan itu adalah dialog antarpemangku kepentingan bersama seluruh elemen masyarakat.

Dalam berbagai diskusi mengenai konflik di Papua, kemiskinan kerap jadi sorotan karena diyakini sebagai salah satu akar masalah. Namun, problemnya kemiskinan kemudian dipahami secara sempit sebagai kurangnya pembangunan infrastruktur di Papua.

Dengan demikian, Pemerintah pun menggelontorkan triliunan rupiah untuk membangun berbagai macam infrastruktur, seperti jembatan, jalan, sekolah, rumah sakit, bandara, renovasi pasar, stadion, pos lintas batas negara, dan pelabuhan.

Ragam bangunan itu mengandung asa dapat meningkatkan aktivitas perekonomian di Papua sehingga dapat menekan tingkat kemiskinan dan masyarakat makin sejahtera. Jika misi itu tercapai, tujuan utama menciptakan perdamaian di Tanah Papua pun bakal terwujud.

Namun, asumsi itu luput mempertimbangkan akar masalah konflik di Papua, bukan hanya kemiskinan. Ada banyak isu yang menurut para peneliti tidak hanya terkait dengan masalah ekonomi, tetapi juga politik, sosial, hukum, dan budaya.

BERITATERKAIT

KNPB: Situasi kemanusiaan di Tanah Papua makin memburuk

Papua Branch of Indonesian National Sports Committee (KONI) Opens Registration for Chairperson Election

Dedi Mulyadi: Papua Development Must Be Rooted in Culture and Local Wisdom

KONI Papua buka pendaftaran ketua umum

Kompleksitas akar konflik itu perlu diakui bersama sehingga upaya menciptakan perdamaian di Papua tidak lagi mengandalkan kebijakan dan program pembangunan infrastruktur, tetapi mempertimbangkan faktor-faktor lain di luar itu.

Irine Morada Santiago, juru runding perdamaian asal Filipina, pada acara diskusi yang digelar oleh Imparsial sebagaimana diakses di Jakarta, Senin (18/4/2022), mengingatkan banyak pihak salah kaprah saat menyamakan pembangunan sebagai alat mewujudkan perdamaian.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Pembangunan (development) bukan perdamaian, dan perdamaian bukan pembangunan. Peacebuilding (upaya menciptakan perdamaian), kata Irine, adalah sebuah proses yang bertujuan memperbanyak titik temu (connectors) dan mengurangi pemecah belah (dividers) sehingga pembangunan dapat berlangsung. Sementara itu, pembangunan adalah proses meningkatkan kapasitas dan mengurangi kerentanan yang dialami masyarakat.

Pembangunan juga harus dipahami sebagai upaya memperluas akses dan memperbanyak pilihan yang dapat diambil oleh masyarakat dalam melanjutkan hidup dan menentukan nasibnya sendiri.

Dalam praktiknya, pembangunan dan upaya menciptakan perdamaian (peacebuilding) sering beririsan. Namun, situasi itu tidak boleh jadi pembenaran bahwa pembangunan adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan perdamaian.

“Harus punya pemahaman soal definisi yang jelas, teori-teori yang jelas, dan rencana perubahan yang jelas (untuk mewujudkan perdamaian di daerah konflik),” kata Irine Santiago, negosiator damai yang punya pengalaman lebih dari 20 tahun membantu penyelesaian konflik di Filipina.

Pendapat Irine itu kemudian ditambahkan oleh Delsy Ronnie, praktisi dan peneliti yang fokus mempelajari resolusi konflik.

Ia mengajak para pembuat keputusan untuk mengevaluasi kembali pembangunan seperti apa yang telah berjalan di Papua. Alasannya, ada jenis pembangunan yang justru memperkeruh konflik dan tidak berkontribusi terhadap upaya menciptakan perdamaian.

Ronnie, yang punya pengalaman terlibat dalam penyelesaian konflik di Aceh, menyampaikan pembangunan harus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Jika pembangunan itu tidak mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat, berbagai bangunan fisik itu tidak banyak berkontribusi pada upaya mewujudkan perdamaian di Papua.

Ia menyebutkan beberapa jenis pembangunan justru berpeluang memperburuk ketegangan, misalnya pembangunan infrastruktur yang tidak menguntungkan masyarakat setempat, program-program pelayanan yang memperkuat praktik diskriminasi, proyek yang mendukung kekerasan terus berlanjut, dan pembangunan infrastruktur yang diprotes masyarakat.

Di sisi lain, pembangunan yang berkontribusi positif pada upaya perdamaian, antara lain, penguatan layanan kesehatan, pendidikan, dan layanan publik lainnya yang mengikutsertakan masyarakat yang terdampak oleh konflik, para eks pemberontak dan kelompok minoritas lainnya. Ronnie menyebut itu sebagai pembangunan yang transformatif.

Pembangunan transformatif, menurut Ronnie, juga dapat dilakukan melalui program-program yang melibatkan partisipasi kelompok masyarakat lebih luas, terutama terkait dengan pengelolaan dana subsidi/bantuan.

Suara Orang Papua

Ketua Jaringan Damai Papua, Pastor John Bunay, sependapat dengan pemikiran Irine dan Ronnie. Ia menyampaikan pembangunan fisik terbukti tidak berhasil membantu upaya menciptakan perdamaian.

John Bunay mengingatkan ada sentimen yang tumbuh di masyarakat bahwa jembatan dan jalan yang dibangun bukan untuk kesejahteraan orang asli Papua (OAP), melainkan untuk kepentingan elite pengusaha. Ada anggapan bahwa aktivitas ekonomi elite pengusaha itu tidak sejalan dengan nilai-nilai masyarakat Papua yang ingin merawat dan melestarikan lingkungan sebagai alam hidupnya.

“Masyarakat Papua, yang mereka butuhkan pendidikan yang baik, kesehatan, perekonomian baik. Masyarakat lebih membutuhkan itu,” ujar dia.

Namun, perbaikan layanan publik itu merupakan langkah kedua. Langkah pertama, John Bunay memandang perlu ada dialog atau langkah-langkah yang mampu memetakan masalah di akar rumput. Ia pun mengusulkan kepada Presiden RI Joko Widodo dan pemerintah membentuk tim khusus yang terdiri atas anggota Majelis Rakyat Papua (MRP)

Tim khusus itu nantinya bekerja sama dengan tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat setempat, membangun dialog demi mendengar kebutuhan dan aspirasi orang asli Papua (OAP).

Ia meyakini satu-satunya jalan mewujudkan perdamaian yang abadi di Papua melalui jalur dialog. Namun, dialog hanya mungkin terwujud jika para pengambil keputusan di Jakarta mendengar aspirasi dan keinginan masyarakat Papua.

Pemikiran Irine dalam paparannya saat diskusi sejalan dengan John Bunay. Irine mengingatkan sering kali para pengambil keputusan memikirkan strategi jangka panjang yang rumit untuk menciptakan perdamaian.

Padahal, langkah awal yang dibutuhkan adalah membuka ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi dan kebutuhannya mengingat selama ini mereka bungkam akibat kekerasan dan konflik berkepanjangan.

Irine menceritakan pengalamannya saat berupaya membangun perdamaian di Davao, kota di Mindanao yang selama puluhan tahun terjebak konflik antara pemberontak dan militer.

Langkah pertama saat itu membuka kanal aduan bagi masyarakat dan memperbanyak ruang dialog di akar rumput sehingga pemerintah lantas mengetahui ada dua masalah yang perlu diselesaikan secepatnya.

Rasa takut dan lapar, hanya ada dua itu yang butuh diselesaikan segera. Masyarakat merasa mereka terjebak di antara dua kubu, yaitu pemberontak dan militer. Pihaknya tidak dapat berbuat apa-apa dengan pemberontak sehingga berbicara dengan militer.

Komandan batalion saat itu mendukung langkah perdamaian pemerintah dan mereka tidak lagi menunjukkan wajah yang dingin dan kasar, tetapi bersahabat kepada masyarakat.

Para prajurit, kata Irine, memeriksa warga dengan rasa hormat saat mereka melintas di pos jaga, tidak ada sekolah dan rumah yang dibakar, para tentara juga membantu masyarakat membangun kembali rumah dan sekolah.

Dalam waktu beberapa bulan, setelah wajah militer tidak lagi keras terhadap warga, kebutuhan pangan terpenuhi, dan suara mereka didengar oleh Pemerintah, kepercayaan masyarakat terhadap militer dan pemerintah pun tumbuh. Perlahan, kelompok pemberontak pun kehilangan pengaruh.

“Kami punya sejarah konflik 50 tahun, tetapi dalam sembilan bulan itu berakhir. Pemberontak berusaha kembali, tetapi masyarakat mengusir mereka. Jadi, menurut saya, pemberontakan tidak dapat tumbuh tanpa dukungan masyarakat,” ujar Irine Santiago.

Berbekal pengalaman itu, dia mengusulkan upaya menciptakan perdamaian di Papua juga harus melalui langkah-langkah kecil yang menyasar masyarakat di akar rumput.

Adanya dialog antara pemerintah dan orang-orang berpengaruh di tengah masyarakat Papua, kemudian memperluas jangkauan dialog sampai menyentuh ke lebih banyak orang dari berbagai lapisan. Makin banyak yang terlibat, yang berpartisipasi dalam dialog, maka itu lebih baik. (*)

Tags: konflikPapuapembangunanperdamaianpersepsi keliruPolhukam
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Direktorat Koordinasi dan Supervisi (Korsup) Wilayah V Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dian Patria perwakilan saat menjadi pembicara pada diskusi hari pangan internasional di Sorong, Sabtu (18/10/2025). – Jubi/Gamaliel

Membongkar praktik buruk investasi di Tanah Papua

October 18, 2025
pastor

Pastor Yance Yogi mengutuk pelaku penembak warga sipil di Intan Jaya

October 18, 2025

LP3BH Manokwari protes: Relawan dianiaya aparat di Moskona Utara

October 18, 2025

Pinehas Torey, Anggota Nieuw Guinea Raad dari Teluk Wondama

October 18, 2025

Polda Papua Barat kirim 169 personel BKO amankan perayaan 1 abad peradaban di Wondama

October 17, 2025

Pelajar dan Mahasiswa Mimika-Puncak desak penyelesaian konflik antar warga di Kwamki Narama

October 17, 2025

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
  • Latest
  • Trending
  • Comments
Peserta lomba single Male saat melakukan pemanasan sebelum mengikuti perlombaan di Kota Jayapura, Papua pada Sabtu (30/5/2026).-Jubi/Silpester Kasipka

Corelab Jayapura promosikan gaya hidup sehat lewat hybrid race

May 30, 2026
KNPB

KNPB: Situasi kemanusiaan di Tanah Papua makin memburuk

May 30, 2026
Film Pesta Babi

Tim kolaborasi film Pesta Babi: Publik jangan hakimi Mama Yasinta Moiwend

May 30, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Mahasiswa Indonesia di London nobar film Pesta Babi

May 30, 2026
Provinsi Papua Tengah

Kepala Disdikbud Papua Tengah bagikan strategi efektif atasi anak tidak sekolah

May 30, 2026
KONI

Papua Branch of Indonesian National Sports Committee (KONI) Opens Registration for Chairperson Election

May 30, 2026
Dedi Mulyadi

Dedi Mulyadi: Papua Development Must Be Rooted in Culture and Local Wisdom

May 30, 2026
MBG

Pengelola dapur MBG dilaporkan ke Polda Papua Barat terkait dugaan pencemaran lingkungan

May 29, 2026
Film Pesta Babi

Tim kolaborasi film Pesta Babi: Publik jangan hakimi Mama Yasinta Moiwend

May 30, 2026
Persipura

Komding PSSI ringankan hukuman Persipura satu putaran tanpa penonton

May 30, 2026
KONI

KONI Papua buka pendaftaran ketua umum

May 29, 2026
Dedi Mulyadi

Dedi Mulyadi: Pembangunan Papua mesti berbasis budaya dan kearifan lokal

May 29, 2026
Pohon

Ratusan relawan tanam 420 pohon cemara di bukit Telaga Ria

March 14, 2026
Kesehatan

Kementerian Kesehatan Vanuatu kirim pasokan darurat ke Pulau Ambae

March 17, 2026
Peserta lomba single Male saat melakukan pemanasan sebelum mengikuti perlombaan di Kota Jayapura, Papua pada Sabtu (30/5/2026).-Jubi/Silpester Kasipka

Corelab Jayapura promosikan gaya hidup sehat lewat hybrid race

0
KNPB

KNPB: Situasi kemanusiaan di Tanah Papua makin memburuk

0
Film Pesta Babi

Tim kolaborasi film Pesta Babi: Publik jangan hakimi Mama Yasinta Moiwend

0
Nobar Film Pesta Babi

Mahasiswa Indonesia di London nobar film Pesta Babi

0
Provinsi Papua Tengah

Kepala Disdikbud Papua Tengah bagikan strategi efektif atasi anak tidak sekolah

0
Persipura

Komding PSSI ringankan hukuman Persipura satu putaran tanpa penonton

0
Kaledonia Baru

Dewan Konstitusi Prancis menyetujui perubahan daftar pemilih Kaledonia Baru

0

English Stories

KONI
Pacnews

Papua Branch of Indonesian National Sports Committee (KONI) Opens Registration for Chairperson Election

May 30, 2026
Dedi Mulyadi
Pacnews

Dedi Mulyadi: Papua Development Must Be Rooted in Culture and Local Wisdom

May 30, 2026
SETARA Alliance
Pacnews

Papuan Women Call for Resistance Against Oppression and National Strategic Projects (PSN)

May 30, 2026
Kamuyend Indigenous
Pacnews

President Urged to Order Military Non-Involvement in Indigenous Land Conflict in Merauke

May 30, 2026
Meki Nawipa and Deputy Governor Deinas Geley hand over assistance for church construction projects in Puncak Regency on Monday (25/05/2026). — Central Papua Provincial Government Public Relations.
Pacnews

Meki Nawipa Hands Over Rp2 Billion in Church Construction Assistance in Puncak Regency

May 29, 2026

Trending

  • MBG

    Pengelola dapur MBG dilaporkan ke Polda Papua Barat terkait dugaan pencemaran lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tim kolaborasi film Pesta Babi: Publik jangan hakimi Mama Yasinta Moiwend

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Komding PSSI ringankan hukuman Persipura satu putaran tanpa penonton

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KONI Papua buka pendaftaran ketua umum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dedi Mulyadi: Pembangunan Papua mesti berbasis budaya dan kearifan lokal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara