Jayapura, Jubi – Keberagaman budaya dari berbagai daerah di Tanah Papua ditampilkan dalam Kilas Budaya Papua 2026, di Taman Budaya, Kota Jayapura, Provinsi Papua saat pembukaan, Selasa (14/7/3026).
Sanggar dan kelompok seni dari berbagai daerah membawakan tarian tradisional yang tidak hanya sebagai hiburan, juga mengangkat nilai sejarah, adat istiadat, dan warisan leluhur yang terus dijaga hingga kini pada event yang berlangsung pada 14-16 Juli 2026 itu.
Ketua Sanggar Tari Youtefa Ria, Alfred Drunyi mengatakan kelompoknya menampilkan tari persatuan berjudul “Kematian Taban Nimrod” yang diangkat dari cerita rakyat masyarakat Enggros-Tobati di Kota Jayapura, Papua.
Menurut Alfred, tarian tersebut mengisahkan seorang raja bernama Mer yang memiliki 11 anak laki-laki dan satu perempuan bernama Safu.
Konflik bermula ketika putra sulung raja bernama Yase, menikahi adik perempuannya sendiri sehingga memicu perselisihan besar dalam keluarga.
“Akibat peristiwa itu, Yase harus meninggalkan keluarganya dan melepaskan haknya sebagai penerus takhta,” kata Alfred Drunyi.
Ia mengatakan, Yase kemudian berpindah ke Nus Mont sebelum akhirnya membuka permukiman yang berkembang menjadi Kampung Injros.
Melalui tarian tersebut, masyarakat diajak memahami pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan, persatuan, dan keharmonisan dalam kehidupan bersama.
Sementara itu, Ketua Sanggar Tari Rafaiby Kampung Riseisayati, Kabupaten Waropen, Jhon Ramandey mengatakan kelompoknya membawakan tarian penyambutan bagi seorang anak kampung yang kembali dari perantauan.
Ia menjelaskan, tarian tersebut menggambarkan kebahagiaan masyarakat saat menyambut kepulangan seorang perantau.
“Dalam prosesi adat, warga menyanyikan lagu penyambutan, kemudian mempersilahkan anak yang baru datang itu menginjak piring sebagai simbol bahwa ia tetap menjadi bagian dari anak adat,” ucap Jhon Ramandey.
Menurutnya, prosesi itu dilanjutkan dengan pemasangan kalung manik-manik adat dan mahkota sebagai bentuk penghormatan sekaligus penerimaan kembali ke dalam masyarakat adat.
Tarian tersebut dibawakan oleh 20 penari dari Kampung Riseisayati, Kabupaten Waropen, yang dikenal sebagai wilayah Waropen Seribu Bakau
Perwakilan Suku Bauzi dari Kabupaten Mamberamo Raya, Matias Alle menyatakan keikutsertaan kelompoknya menjadi momentum memperkenalkan budaya Suku Bauzi kepada masyarakat luas.
“Penampilan kami di Kilas Budaya Papua 2026 merupakan kesempatan pertama bagi masyarakat Bauzi untuk menampilkan budaya kami pada kegiatan budaya tingkat Provinsi Papua ini,” ujar Matias Alle.
Ia menjelaskan, salah satu simbol kehormatan dalam adat Suku Bauzi adalah suling bambu yang selalu digunakan dalam berbagai upacara adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Selain itu, tarian yang ditampilkan menggambarkan kehidupan masyarakat Bauzi, mulai dari penyambutan tamu, penyambutan pemburu yang kembali membawa hasil buruan, hingga perayaan adat setelah penyelesaian konflik antarsuku tanpa menimbulkan korban jiwa.
Katanya, dalam penampilan tersebut, dua anak yang berada di barisan depan menjadi simbol penghormatan terhadap warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebanyak 25 orang terlibat dalam penampilan tersebut sebagai bentuk komitmen masyarakat Bauzi untuk terus melestarikan identitas budayanya.
“Kilas Budaya Papua ini diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan tradisi sekaligus pentingnya pelestarian budaya sebagai identitas masyarakat Papua,” katanya. (*)


























Discussion about this post