Jayapura, Jubi – Tampilkan keunikan budaya dan bahasa daerah, sebanyak 10 kota/kabupaten di Tanah Papua meriahkan pagelaran Festival Tunas Bahasa Ibu atau FTBI Se-tanah Papua Tahun 2024 di Kabupaten Jayapura, Papua pada Rabu (20/11/2024).
Kepala Balai Bahasa Provinsi Papua, Sukardi Gau mengatakan, pagelaran Bahasa Festival Bahasa Ibu 2024 melibatkan peserta dari Kabupaten Jayapura, Mimika, Sarmi, Jayawijaya, Merauke, Keerom, Biak dan Kota Jayapura serta Kabupaten Sorong.
“Mereka yang dilibatkan hari ini merupakan wilayah yang bahasa daerahnya telah kami lakukan revitalisasi. Festival ini merupakan pesta apresiasi kepada anak-anak Papua yang telah terlibat mempelajari bahasa daerahnya,” kata Sukardi saat diwawancara Jubi pada pagelaran festival yang digelar Balai Bahasa Provinsi Papua di Hotel Suni Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (20/11/2024).
Sukardi mengatakan persiapan yang dilakukan pihaknya untuk gelaran itu, dilakukan melalui dua tahapan dan menyasar para guru dan murid pada berbagai sekolah dari 10 kota/kabupaten tersebut.
“Tahap pertama, kami lakukan pendekatan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dengan 10 bahasa daerah. Kedua kami bikin bimtek, latih para guru utama [bahasa], lalu mereka kembali ke sekolah, komunitas, dan sanggar-sanggar untuk menyiapkan peserta,” katanya.
Mereka yang terlibat, lanjut Sukardi, merupakan peserta yang sebelumnya telah terlibat dalam pagelaran Festival bahasa-bahasa daerah yang digelar pada masing-masing kota/kabupaten. “Jadi ini berjenjang, mereka sudah pernah terlibat dari kabupaten atau kotanya, kemudian kamu libatkan lagi ke jenjang Se-tanah Papua,” tuturnya.
Sukardi berharap keterlibatan para murid pada kegiatan-kegiatan budaya yang mengangkat bahasa daerah masing-masing kota/kabupaten, pada murid mulai menyadari pentingnya berbahasa dan mempelajari bahasa daerahnya secara aktif.
“Kami sudah pakai berbagai metode, mereka bawakan cerpen, cerita dongeng, cerita rakyat, pertunjukan nyanyian rakyat, cerita mop [komedi]. Metodenya sederhana itu semoga relevan dengan mereka punya minat belajar bahasa daerah,” katanya.
Sementara itu, mewakili Gubernur Provinsi Papua, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah Provinsi Papua, John Wicklif Tegai, mengatakan bahasa ibu atau bahasa asli daerah merupakan jati diri dan eksistensi hidup orang Papua.
Menurutnya, bahasa daerah merupakan suatu karya seni mahal yang dibuat dan diwariskan oleh para leluhur kepada setiap generasi di tanah Papua. “Ini penting, sekalipun seorang mahasiswa sekolah bahasa, tidak mungkin bisa ciptakan satu bahasa lain. Maka bahasa merupakan anugerah mahal yang pernah ditinggalkan leluhur, salah jika tidak dilestarikan,” katanya. (*)





















Discussion about this post