Jayapura, Jubi – Festival Tunas Bahasa Ibu atau FTBI tingkat Kota Jayapura, Papua yang akan digelar pada 11 September 2025 hingga 12 September 2025, akan memperlombakan tentang kebudayaan dan empat bahasa ibu di Kota Jayapura.
FTBI akan digelar di Kota Jayapura oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Disdikbud Kota Jayapura. Ini merupakan program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang bertujuan melestarikan bahasa dan sastra daerah Indonesia.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Jayapura, Grace Linda Yoku mengatakan, FTBI akan dimeriahkan oleh puluhan hingga ratusan murid Sekolah Dasar atau SD dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Jayapura.
“Para peserta akan menampilkan 12 mata lomba,” kata Grace Linda Yoku saat diwawancarai usai sosialisasi FTBI di salah satu hotel di area Abepura, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Jumat (22/8/2025).
Menurutnya, lomba kebudayaan dalam FTBI diantaranya cerita pendek (cerpen), baca puisi, bernyanyi, stand up komedi, berpidato. Sedangkan bahasa ibu yang diperlombakan adalah bahasa Kayu Batu-Kayu Pulo, Skouw, Nafri dan Sentani.
“Ada lima bahasa daerah [atau bahasa ibu di Kota Jayapura], tetapi salah satunya tidak diikutsertakan yaitu bahasa Enggros-Tobati,” ucapnya.
Katanya, setiap sekolah yang ingin terlibat, mesti mempersiapkan pesertanya secara matang, karena peserta yang akan tampil, sepenuhnya menggunakan bahasa ibu.
Menjelang pelaksanaan, Disdikbud Kota Jayapura pun melakukan berbagai persiapan, salah satunya mensosialisasikan FTBI kepada para kepala sekolah SD dan SMP untuk ‘merangsang’ mereka menyiapkan peserta dari sekolah masing-masing, sesuai jenis lomba yang ditawarkan.
“Mereka (pihak sekolah) harus ke kampung-kampung mencari penutur aktif bahasa ibu, untuk mengajar para siswa yang bakal ikut lomba kebudayaan sesuai jenis mata lomba yang diminati,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pemateri sosialisasi FTBI, Jean Rollo menegaskan, keterlibatan generasi muda dalam upaya revitalisasi bahasa ibu sangat penting. Rollo mengapresiasi upaya yang dilakukan secara intens oleh Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Jayapura.
“Bahasa merupakan sebuah identitas yang dimiliki baik pribadi atau kelompok masyarakat. Lima bahasa yang berbeda di Kota Jayapura perlu terus dikembangkan menjadi warisan generasi muda,” kata Jean Rollo. (*)





















Discussion about this post