• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Rilis Pers

Umat Katolik Papua: Lebih Baik Kehilangan Agama daripada Tanah Adat

December 21, 2025
in Rilis Pers
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Alberth Yomo
Umat Katolik

Ketua Suara Kaum Awam Katolik Regio Papua, Stendlhy Dambujai ( Foto : Dok.Jubi.id)

0
SHARES
11.9k
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi — Sejumlah umat Katolik dan masyarakat adat di Tanah Papua menyatakan keprihatinan sekaligus penolakan moral terhadap arah pastoral Gereja Katolik yang dinilai semakin menjauh dari keberpihakan pada perlindungan tanah adat dan ruang hidup orang Papua.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam siaran pers bertajuk “Lebih Baik Umat Katolik di Tanah Papua Kehilangan Agama Daripada Kehilangan Tanah Adatnya”, yang diterima Jubi.id, Minggu(21/12/2025).

Mereka menilai tanah adat, hutan, sungai, dan kebun bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi fondasi iman dan martabat orang Papua.

“Tanah adat adalah tempat iman berinkarnasi. Kehilangan tanah berarti kehilangan martabat dan masa depan,” demikian pernyataan tertulis yang dikeluarkan oleh Suara Kaum Awam Katolik Regio Papua.

Kritik terhadap PSN Merauke

Dalam pernyataan tersebut, umat Katolik Papua menyoroti Proyek Strategis Nasional (PSN) Merauke yang dinilai telah memicu perampasan tanah adat, kerusakan ekologi, banjir, hilangnya sumber pangan lokal, serta peminggiran masyarakat adat.

Mereka juga mengkritik sikap Mgr. Petrus Canisius Mandagi, yang dinilai memberikan legitimasi moral terhadap proyek pembangunan yang berdampak langsung pada ruang hidup umatnya sendiri. Dukungan tersebut disebut telah melahirkan luka pastoral dan krisis kepercayaan di kalangan umat.

BERITATERKAIT

Penggusuran paksa tanah masyarakat adat Biak diadukan ke Komnas HAM

‘Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita’: Perjuangan mempertahankan tanah adat

Ruang hidup masyarakat adat Papua dikepung oligarki

PB NU: Mesti melihat Tanah Papua dari isu kemanusiaan, bukan agama dan ras

Sebagai Uskup Agung Merauke dan uskup metropolitan yang menaungi sejumlah keuskupan di Tanah Papua, Mandagi dinilai memperlihatkan wajah Gereja Katolik yang semakin tidak netral dan independen, serta cenderung bersekutu dengan kepentingan negara dan modal.

Sawit dan Krisis Ekologis

Arahan pengembangan perkebunan sawit di Papua juga dipandang menambah beban ekologis dan sosial. Menurut umat, kebijakan tersebut mengulang pola lama ekstraksi sumber daya alam yang tidak adil bagi masyarakat adat.

Mereka menegaskan bahwa kebijakan pembangunan yang mengorbankan keutuhan tanah dan hutan adat bertentangan dengan Ajaran Sosial Gereja, termasuk ensiklik Laudato Si’ tentang keadilan ekologis.

“Agama tidak boleh menjadi alat pembenaran perampasan. Ketika agama bersekutu dengan kekuasaan dan kapital, ia kehilangan jiwa profetisnya dan merusak wibawa Gereja,” tulis mereka.

“Lebih Baik Kehilangan Agama”

Dalam pernyataan yang bernada keras, umat Katolik Papua menyatakan lebih baik kehilangan agama daripada kehilangan tanah adat. Namun mereka menegaskan bahwa yang ditolak bukanlah Allah, melainkan praktik keagamaan yang kehilangan keberpihakan.

“Kami mempertahankan iman kepada Allah kehidupan yang berakar pada tanah dan hutan adat, sambil menolak agama yang membenarkan perampasan atas nama pembangunan, kemajuan, dan kesejahteraan,” demikian pernyataan itu.

Tuntutan dan Seruan

Melalui siaran pers tersebut, umat Katolik Papua menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain:

Menghentikan dan mengevaluasi PSN Merauke serta seluruh ekspansi sawit yang mengancam tanah adat dan ekologi Papua.

Menghormati hak masyarakat adat, termasuk prinsip persetujuan bebas, didahului, dan diinformasikan (FPIC), pemetaan wilayah adat, serta perlindungan hukum atas tanah ulayat.

Meminta Uskup Agung Merauke melakukan koreksi pastoral, mendengarkan umat terdampak, dan menyatakan sikap yang jelas berpihak pada perlindungan tanah adat.

Mendesak negara meninjau ulang kebijakan pembangunan Papua dengan prioritas pada kedaulatan pangan lokal, ekologi, dan martabat manusia Papua.

Memanggil Gereja Katolik di Tanah Papua kembali menjadi Ecclesia pro pauperibus—Gereja bagi kaum kecil dan tertindas.

Stendlhy Dambujai
Ketua Suara Kaum Awam Katolik Regio Papua, Stendlhy Dambujai ( Foto : Dok.Jubi.id)

Mereka juga secara tegas mendesak agar Uskup Agung Merauke mengundurkan diri dan digantikan oleh pemimpin gereja yang berpihak pada keadilan ekologis dan martabat manusia.

“Jika tanah adat dijaga, iman akan tetap hidup. Jika tanah adat dirampas, agama kehilangan maknanya. Tidak ada agama tanpa tanah adat. Tidak ada kemanusiaan tanpa martabat,” tulis mereka.

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh Ketua Suara Kaum Awam Katolik Regio Papua, Stendlhy Dambujai, dan Sekretaris Chris Dogopia.(*)

Tags: AgamaTanah adatUmat Katolik Papua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Komnas HAM

Penggusuran paksa tanah masyarakat adat Biak diadukan ke Komnas HAM

March 17, 2026
Kolonialisme

‘Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita’: Perjuangan mempertahankan tanah adat

March 7, 2026

Ruang hidup masyarakat adat Papua dikepung oligarki

February 27, 2026

PB NU: Mesti melihat Tanah Papua dari isu kemanusiaan, bukan agama dan ras

February 21, 2026

Gereja dan lembaga pendidikan perlu edukasi masyarakat untuk mempertahankan tanah adatnya

February 7, 2026

Koalisi: Danton Yonif TP 817 jangan intervensi konflik tanah masyarakat adat dengan investor

January 26, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Smoke haze blankets Jayapura City and Regency
13 October 2026
Smoke haze blankets Jayapura City and Regency

Jayapura, Jubi – Jayapura City and Jayapura Regency in Papua Province have been blanketed by smoke haze in recent days, [...]

West Papua Marks 27 Years as Poverty Rate Falls
13 October 2026
West Papua Marks 27 Years as Poverty Rate Falls

Manokwari, Jubi – West Papua Governor Dominggus Mandacan says poverty has declined and the economy has continued to grow during [...]

Merauke prison riot: Buildings Set Ablaze, Several Inmates Escape
12 October 2026
Merauke prison riot: Buildings Set Ablaze, Several Inmates Escape

Merauke, Jubi – A riot broke out at Merauke Class IIB Correctional Facility in South Papua on Friday morning, 9 [...]

LBH APIK Jayapura Urges Papua Police to Protect Child Sexual Abuse Victims and Their Advocates
12 October 2026
LBH APIK Jayapura Urges Papua Police to Protect Child Sexual Abuse Victims  and Their Advocates

Jayapura, Jubi – The Jayapura Legal Aid Institute of the Indonesian Women’s Association for Justice (LBH APIK Jayapura) has urged [...]

Papuan Indigenous Communities Achieve Self-Reliance Through Customary Forest Management
10 October 2026
Papuan Indigenous Communities Achieve Self-Reliance Through Customary  Forest Management

Teminabuan, Jubi – Indigenous Papuans have their own ways of managing customary forests to ensure they remain protected. They harvest [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Modifikasi cuaca

Pemprov Papua Barat gunakan 8 ton garam untuk modifikasi cuaca

October 14, 2026
Puskesmas Sentani

Puskesmas Sentani terkendala anggaran BPJS Kesehatan

October 14, 2026
Pengawas BPJS Kesehatan RI

Dewan Pengawas BPJS Kesehatan RI tinjau pelayanan kesehatan di Kabupaten Jayapura

October 14, 2026
Peluncuran aplikasi SIAP

Aplikasi SIAP: Mencegah pungli pelayanan pemerintahan di Papua Tengah

October 14, 2026
Kompetensi petani Papua Tengah

Kompetensi petani langkah penting meningkatkan kemandirian pangan di Papua Tengah

October 14, 2026
Produksi petani lokal mesti ditingkatkan

Produksi petani lokal Papua Tengah mesti ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan

October 14, 2026
Komisioner KPU Papua Barat

Kasus perzinaan: Komisioner KPU Papua Barat diberhentikan sementara

October 14, 2026
Perwakilan PBB ke Papua

Gereja Baptis dukung perwakilan PBB berkunjung ke Tanah Papua

October 13, 2026
Seruan pastoral PGI terkait karhutla

PGI keluarkan seruan pastoral terkait karhutla

October 13, 2026
Marga Ateta tuntut ganti rugi hak ulayat

Marga Ateta tuntut PT Genting Oil Kasuri evaluasi kompensasi tanah ulayat

October 14, 2026
Komisioner KPU Papua Barat

Kasus perzinaan: Komisioner KPU Papua Barat diberhentikan sementara

October 14, 2026
Kesehatan

Kementerian Kesehatan Vanuatu kirim pasokan darurat ke Pulau Ambae

March 17, 2026
pedagang pakaian

Potret lesu pedagang pakaian kaki lima jelang Idulfitri di Jayapura

March 17, 2026
RSUD Yowari

Keluarga pasien berharap Pemkab Jayapura evaluasi menyeluruh RSUD Yowari

March 17, 2026
Modifikasi cuaca

Pemprov Papua Barat gunakan 8 ton garam untuk modifikasi cuaca

0
Puskesmas Sentani

Puskesmas Sentani terkendala anggaran BPJS Kesehatan

0
Pengawas BPJS Kesehatan RI

Dewan Pengawas BPJS Kesehatan RI tinjau pelayanan kesehatan di Kabupaten Jayapura

0
Peluncuran aplikasi SIAP

Aplikasi SIAP: Mencegah pungli pelayanan pemerintahan di Papua Tengah

0
Kompetensi petani Papua Tengah

Kompetensi petani langkah penting meningkatkan kemandirian pangan di Papua Tengah

0
Produksi petani lokal mesti ditingkatkan

Produksi petani lokal Papua Tengah mesti ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan

0
Komisioner KPU Papua Barat

Kasus perzinaan: Komisioner KPU Papua Barat diberhentikan sementara

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara