Jayapura, Jubi – Satuan Tugas Penegakan Hukum Operasi Damai Cartenz menangkap Lupa Waker, anggota kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB. Kepala Operasi Damai Cartenz 2024 Komisaris Besar Faizal Ramadhan membeberkan sepak terjang Waker dalam dugaan serangkaian aksi kriminal di Papua Tengah sejak 2017.
Menurut Faizal, Waker diduga terlibat dalam penembakan terhadap mobil LWB putih di MP 69 Timika pada 3 November 2017. Dia juga ditengarai terlibat dalam penembakan yang menewaskan seorang personel TNI dan melukai tiga personel lain pada 19 Desember 2019.
Tidak hanya itu, Waker pun diduga terlibat dalam penembakan di Kuala Kencana, Timika pada 27 Maret 2020. Kejadian itu menewaskan seorang warga Selandia Baru dan melukai dua karyawan PT Freeport Indonesia.
“Lupa Waker merupakan anggota aktif TPNPB pimpinan Goliath Tabuni. Selain terlibat pembakaran alat berat, dan kamp PT Unggul Mundidok di Kabupaten Puncak, Lupa Waker terlibat dalam tiga aksi penembakan,” kata Faizal melalui pesan instan seluler pada Selasa (21/5/2024).
Waker ditangkap di Tembagapura, Mimika pada Minggu kemarin. Tim Penyidik Satuan Tugas (Satgas) Penegakkan Hukum Operasi Damai Cartenz masih terus mengusut peran Waker di TPNPB, sayap militer Organisasi Papua Merdeka.
Waker diketahui berusia 21 tahun, dan berdomisili di Kampung Kimbeli, Distrik Tembagapura, Mimika. Dia bernama asli Junius Waker, dan bergabung di TPNPB sejak 2015.
Satgas Damai Cartenz 2024 bersama Kepolisian Resor (Polres) Dogiyai juga menangkap Peni Pekei alias Petrus Pekei, Komandan TPNPB Wilayah Dokoge, Paniai pada Jumat pekan lalu. Dia ditangkap saat dalam perjalanan dari Kabupaten Nabire menuju Kabupaten Paniai. Lokasi persis penangkapan Pekei berada di kawasan Tanjakan Pugo di Kampung Ekaugida, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai.
Kepala Satgas Humas Operasi Damai Cartenz Ajun Komisaris Besar Bayu Suseno mengatakan Pekei juga terlibat dalam aksi kriminal. Dia diduga memeras, mengancam, dan merampok Nicolas Worabay di Kampung Witai, Distrik Yatamo, Paniai pada 2015. Pekey pun ditengarai menguasi senjata api milik korban.
Aksi kriminal Pekei tersebut tercatat pada sebuah laporan polisi tertanggal 1 Februari 2015 yang diterbitkan Polres Paniai. Pekei juga menjadi buron polisi sejak 11 November 2016.
“Yang bersangkutan [Pekei] ditangkap karena terlibat beberapa kasus [kriminal]. Saat ini ia masih menjalani pemeriksaan di Polres Nabire, untuk menyelidiki keterlibatannya dalam jaringan TPNPB,” kata Bayu.

Sanggah tuduhan
Kepala Staf Angkatan Darat TPNPB Kawasan West Papua Otto Jimmi Magai Yogi menyangkal semua tuduhan terhadap Pekei. Menurutnya, mereka telah mempertanggungjawabkan serangkaian aksi yang dituduhkan oleh Satgas Damai Cartenz tersebut.
“Tuduhan perampasan terhadap senjata api milik Nikolas Worobai itu, tidak benar. Kami saat itu juga mengembalikan pistol tersebut kepada Polres Paniai. Jadi, sekarang polisi cari masalah apa lagi?,” kata Otto dalam sebuah rekaman video yang diterima Jubi, Senin.
Menurut Otto, dia bersama Damianus Magai Yogi, dan Aloysius Kayame telah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nabire pada 2016–2017 untuk mempertangungjawabkan aksi yang belakangan dituduhkan kepada Pekei itu. Dia menyebut pelaku utama kasus tersebut ialah mendiang Leo Magai Yogi, pemimpin militer mereka saat itu.
“Saya, Damianus Magai Yogi, dan Aloysius Kayame [hanya] menjadi korban penangkapan Polda Papua di Jayapura. Pelaku [sebenarnya] ialah Leo Magai Yogi, yang ditembak Polisi di Nabire pada 2014, dan hingga sekarang mayatnya belum diketahui [ditemukan],” kata Otto, yang bermarkas di Dokoge, Paniai.
Otto menyatakan semua tuduhan polisi terhadap Peni Pekei hanya akal-akal belaka. Merekalah yang telah membuat situasi saat ini menjadi kacau di wilayah adat Meepago.
Otto pun membantah keterlibatan Peni Pekei dalam penembakan terhadap Komandan Rayon Militer Aradide. Karena itu, mereka menuntut Polda Papua segera membebaskan Pekei.
“Peni Pekei bukan pelakunya. Maka, Peni Pekei harus dibebaskan tanpa syarat [apa pun],” ujar Otto, yang juga memastikan wilayah Meepago masih relatif kondusif sejak 2015. (*)





















Discussion about this post