• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

Jadi saksi Paniai Berdarah, Danki Yonif 753 mengaku tak tahu ada penganiayaan di Pondok Natal

October 14, 2022
in Polhukam, Tanah Papua
Reading Time: 5 mins read
0
Penulis: - Editor:
Pengadilan HAM Paniai Berdarah

Mayor Inf Prasenta Imanuel Bangun saat memberikan kesaksian dalam kasus Paniai Berdarah di Pengadilan HAM Makassar, Rabu (12/10/2022). - Jubi/Eko Rusdianto

0
SHARES
73
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Makassar, Jubi – Pengadilan Hak Asasi Manusia Makassar pada Rabu (12/10/2022) melanjutkan sidang perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia berat Paniai Berdarah. Pada sidang Rabu, tim Jaksa Penuntut Umum menghadirkan tujuh orang saksi terkait tragedi penembakan massa dalam peristiwa Paniai Berdarah yang terjadi pada 8 Desember 2014. Dalam sidang itu, Komandan Kompi Batalion Infanteri Raider 753/Arga Vira Tama, Mayor Inf Prasenta Imanuel Bangun mengaku tidak tahu ada prajurit TNI yang menganiaya sejumlah anak di Pondok Natal Gunung Merah pada 7 Desember 2014.

Dalam perkara Paniai Berdarah itu, Mayor (Purn) Isak Sattu menjadi terdakwa tunggal yang diperiksa dan akan diadili majelis hakim yang dipimpin Hakim Ketua Sutisna Sawati bersama Hakim Anggota Abdul Rahman, Siti Noor Laila, Robert Pasaribu, dan Sofi Rahman Dewi. Isak Sattu didakwa dengan dua delik kejahatan terhadap kemanusiaan yang diancam hukuman terberat pidana mati, dan hukuman teringan pidana 10 tahun penjara.

Dalam sidang Rabu, majelis hakim mendengarkan kesaksian Mayor Inf Prasenta Imanuel Bangun. Dalam kesaksiannya, Prasenta menyatakan tidak mengetahui penganiyaan yang dilakukan sejumlah prajurit TNI terhadap Benyamin Kudiai, Yosafat Yeimo, Noak Gobai dan Oktofince Yeimo pada 7 Desember 2014. Padahal, penganiayaan pada 7 Desember 2014 itulah yang memicu protes warga pada 8 Desember 2014, yang berunjung tragedi Paniai Berdarah hingga menewaskan Alpius Youw, Alpius Gobay, Yulian Yeimo, dan Simon Degei.

Menurut Prasenta, pada 8 Desember 2014 ia meminjam mobil Toyota Rush milik warga, dan bersama lima prajurit TNI lainnya pergi dari Enarotali menuju Madi untuk menghadiri rapat dengan Pemerintah Kabupaten Paniai. Di tanjakan utama perlintasan itu, ratusan orang telah memalang jalan di Gunung Merah.

Prasenta bersama lima anggota TNI lainnya akhirnya terjebak di sana. Suara warga terdengar meminta mobil yang dikemudikan Serda Dodi Carlo Takapaha itu kembali ke Eranotali. Upaya Prasenta meminta izin agar rombongan TNI itu diizinkan melintas tak ditanggapi massa.

Menurut Prasenta, jumlah warga menutup jalan di Gunung Merah itu sekitar 100 orang. Massa terus merapat ke arah mereka, dan kemudian merusak mobil yang mereka tumpangi. Keadaan menjadi kalut, dan rombongan itu mengeluarkan tembakan peringatan ke udara,  kemudian berlari menuruni jalanan ke sisi jalan menuju Madi.

“Kami tinggalkan mobil di lokasi pertama. Kami tidak sempat memutarnya, karena situasi yang tidak memungkinkan,” katanya.

BERITATERKAIT

Keluarga Pratu Andi Bugis mengadu ke Panglima TNI dan DPR RI

Nilai Indonesia alami kemunduran kebebasan sipil, Civicus soroti Papua

Biarkan Komisioner Tinggi PBB berkunjung ke Papua Barat

Gereja Baptis dukung perwakilan PBB berkunjung ke Tanah Papua

Saat berlari, Prasenta menyatakan ia dan anak buahnya mendengar suara tembakan lain. “Kami dengar suara tembakan lain, sekitar 400 meter dari arah bukit,” kata Prasenta.

Pengadilan HAM Kasus Paniai Berdarah
Tim Jaksa Penuntun Umum dalam sidang kasus Pelanggaran HAM Berat Paniai Berdarah di Pengadilan HAM Makassar, Rabu (12/10/2022). – Jubi/Eko Rusdianto

Setelah menjauhi massa hingga berjarak sekitar 300 meter, mereka bertemu dengan Wakil Kepala Kepolisian Resor Paniai, Kompol Hanafiah dan pasukan Paskhas yang dipimpin oleh Kapten Hengki. Sekitar tiga menit, kata Prasenta, mereka berbicara dan mencoba jalan keluar atas pemalangan jalan yang dilakukan massa itu.

Selanjutnya, kerumunan massa kemudian mendekat. Pasukan TNI yang lain kemudian datang menjemput, menggunakan mobil Hilux Single Cabin bak terbuka. Prasenta dan anak buahnya lantas diantar kembali ke barak di Eranotali. “Di pos, saya cek personil dan memerintahkan untuk semuanya standby [atau bersiap],” kata Prasenta.

Aksi pemalangan jalan utama Eranotali-Madi di kawasan Gunung Merah itu dilaporkan melalui pesan WA kepada Komandan Resort Militer (Danrem) dan Kasi Operasional yang saat itu dijabat mayor Herman. “Tunggu perintah lebih lanjut, dan tidak ada perintah lagi,” kata Prasenta.

Menurut Prasenta, keberadaan Batalion Infanteri Raider 753/Arga Vira Tama di Kabupaten Paniai merupakan bagian dari Satuan Tugas Operasi Pengamanan Daerah Rawan. Prasenta sebagai komandan membawahi enam pos penjagaan, dengan jumlah anggota sebanyak 125 orang. Penempatan unit Batalion Infanteri Raider 753/Arga Vira Tama telah ada sejak 2004, dan berakhir pada 2014.

Hakim anggota Robert Pasaribu meminta Prasenta menjelaskan alasan prajurit TNI melakukan tembakan peringatan. “Apakah keadaannya sudah segenting itu? Hanya pemalangan jalan kok mencekam?,” katanya.

“Siap, massa sudah mulai anarkis,” jawab Prasenta.

“Apakah anda tahu jika ada anggota TNI yang bicara kasar, ke warga pada saat pemalangan jalan,” lanjut Pasaribu.

“Siap. Tidak ada,” jawabnya.

Bagi Pasaribu, keberadaan tim khusus Raider sebagai pasukan elit seharusnya bisa dengan cepat membaca situasi dan kondisi lingkungan. Pasaribu sangsi, keberadaan intel atau pasukan di Paniai tidak mendapatkan informasi penganiayaan yang dilakukan sejumlah prajurit TNI terhadap sejumlah orang di Pondok Natal Gunung Merah pada 7 Desember 2014.

“Kami hanya tahu kejadian pemalangan pada tanggal 8 itu yang mulia,” jawab Prasenta.

Prasenta menjelaskan di Paniai, selain terdapat prajurit Batalion Infanteri Raider 753/Arga Vira Tama, juga terdapat unit Paskhas, Brimob, unit intel Kodam, unit intel Korem, Koramil, dan Kopasus. Ia menjelaskan pos setiap unit tersebar.

Salah satu pos satgas yang terdekat dari Gunung Merah adalah pos Madi, yang jaraknya sekitar 4 kilometer dari lokasi penganiayaan pada 7 Desember 2014. Pos utama di Eranotali berjarak sekitar 5 kilometer dari lokasi itu. “Waktu kejadian pada tanggal 7 dan 8 [Desember 2014], informasi kami dapat dari tukang ojek. Tidak ada informasi dari unit intel Kodam maupun Korem,” kata Prasenta.

Tim jaksa mengejar pernyataan itu. Bagi jaksa, tim khusus semacam Raider seharusnya tidak pasif atau menunggu informasi untuk melihat sebuah peristiwa. “Apakah Satgas melakukan patroli?,” kata jaksa.

Prasenta memaparkan satuan yang dipimpinnya melakukan patroli lingkungan tiga kali setiap pekan. Jadwalnya tak menentu karena dilakukan dengan acak, agar pola pengamanan tak terdeteksi. Rute patroli itu dilakukan hingga radius 5 kilometer.

“Jadi Gunung Merah masik dalam patroli pos yang mana?,” kata Siti Noor, salah seorang hakim anggota dalam persidangan.

“Patrolinya tidak sampai kesitu Ibu,” kata Prasenta.

“Kan Gunung Merah, jaraknya masih 4 kilometer dari Pos Madi?,” lanjut Siti.

“Patroli hanya sekitaran pos ibu. Kami belum pernah lakukan di situ,” kata Prasenta.

“Apakah saudara merasa tidak penting peristiwa tanggal 7 [Desember] itu. Yang semua korbannya adalah anak-anak?” tanya Siti.

“Tanggal 7 [Desember], kami tidak tahu ada kejadian, makanya tidak patrol di situ,” jawab Prasenta.

TNI hanya membawa peluru tajam

Serda Dodi Carlo Takapaha, yang juga menjadi saksi pada Rabu membenarkan bahwa ia menyetir mobil Toyota Rush yang mengantar Dodi dan empat prajurit TNI lain menuju Madi pada pagi 8 Desember 2014 pagi, sebelum tragedi Paniai Berdarah terjadi. Menurut Dodi, setelah mereka melakukan apel pagi di pos Satuan Tugas Pengamanan Daerah Rawan di Enarotali, mereka memulai perjalanan menuju Madi.

Dalam perjalanan, ketika lintasan mulai menanjak, dia masih dengan enteng melajukan kendaraan. Tapi, di ujung tanjakan dia melihat kerumunan orang dan telah melakukan pemalangan.

Pengadilan HAM Kasus Paniai Berdarah
Serda Dodi Carlo Takapaha diambil sumpahnya sebelum memberikan kesaksian pada sidang kasus pelanggaran HAM berat Paniai Berdarah di Pengadilan HAM Makassar, Rabu (12/10/2022). – Jubi/Eko Rusdianto

Dia kaget dan menghentikan kendaraannya. “Kami tidak tahu sejak awal. Nanti pas di atas tanjakan baru lihat massa. Ada sekitar 200 orang,” kata Dodi.

Menurutnya, semua prajurit yang berada dalam mobil itu membawa senjata lengkap, sesuai dengan protokol keamanan mereka. “Kami terdesak, karena massa sudah mengepung kami. Mereka merusak mobil. Makanya kami lakukan tembakan peringatan,” kata Dodi.

Tembakan peringatan yang diarahkan ke langit itu menggunakan peluru tajam. Menurut Dodi, di semua unit Paniai, prajurit TNI tak membawa peluru hampa maupun peluru karet, dan hanya membawa peluru tajam.

Brimob melepas tembakan di depan pos TNI

Menurut Prasenta, setelah tim yang dipimpinnya kembali ke pos mereka di Madi, sekitar pukul 09.00 WP ia melihat pasukan Brimob melintas. Pasukan itu kemudian berhenti dan memarkirkan kendaraannya di pos. Prasenta melihat pasukan Brimob itu dari jarak sekitar 10 meter, dan melihat mereka membawa senjata jenis AK 47.

Menurut Prasenta, pasukan Brimob itu hendak menuju Lapangan Karel Gobay yang jaraknya sekitar 300 meter dari pos. Lapangan Karel Gobay adalah lokasi terjadinya tragedi Paniai Berdarah.

Akan tetapi, sebelum pasukan Brimob itu berjalan, Prasenta melihat mereka menembakkan senjata ke arah langit. Tembakan itu dilepaskan di dekat Bank BRI. “Anggota kami bilang, ‘jangan tembak-tembak di depan pos pak’,” kata Prasenta menirukan.

Ia menyatakan pasukannya tetap bertahan di dalam pos, dan tidak terlibat dalam tragedi Paniai Berdarah. Sekitar pukul 16.00 WP, bersama tujuh orang pasukan TNI, Prasenta pergi menuju Lapangan Karel Gobay. Saat itu massa sudah bubar, dan dia menyaksikan empat jenazah di sana. di dekat tiang bendera.

Prasenta dan pasukannya kemudian memasuki Markas Komando Rayon Militer (Koramil) Paniai Timur, dan melihat beberapa kaca pecah. Prasenta juga melihat batu yang tergeletak di sana, ia menduga batu itu adalah batu yang dilemparkan massa.

Prasenta tak mendekat ke kumpulan warga yang sedang berada di dekat mayat. Dia menyatakan menemui beberapa orang anggota Koramil Paniai Timur, dan termasuk terdakwa Mayor (Purn) Isak Sattu. Dari Isak, Prasenta mendapatkan informasi awal mengenai aksi massa di lapangan itu, tapi ia tidak mencari tahu mengenai korban yang meninggal dalam tragedi Paniai Berdarah itu.

Di akhir persidangan, Isak Sattu menyanggah kesaksian Prasenta. “Seingat saya, saksi [Imanuel Prasenta] tidak pernah ke Koramil, dan saya tidak pernah ada komunikasi [dengannya],” kata Sattu.

Bantah pasukannya terlibat

Menurut Prasenta, beberapa hari setelah peristiwa Paniai Berdarah itu, barulah ia mendapat kabar jika awal mula peristiwa Paniai Berdarah di Lapangan Karel Gobay pada 8 Desember 2014 itu adalah peristiwa penganiayaan yang diduga dilakukan sejumlah prajurit TNI terhadap anak-anak di Pondok Natal Gunung Merah pada 7 Desember 2014.

Saat itu, Prasenta menelusuri apakah ada anggotanya di Pos Madi yang terlibat penganiayaan itu. “Kami melakukan pengecekan dua kali setiap hari untuk memastikan kelengkapan pasukan. Setiap pukul 06.00 dan pukul 19.00,” katanya.

Dari pos Madi, kata Prasenta, komandan pos melaporan kelengkapan pasukan foto di layanan pesan WhatsApp. “Jika ada yang keluar pos di atas jam tersebut, maka harus izin langsung pada Komandan Pos. Bisa tulisan, bisa lisan,” lanjutnya.

“Apakah pada tanggal 7 [Desember 2014], antara jam 17.00 dan 19.00 adakah pasukan yang meminta izin?” tanya Siti Noor Laila.

“Tidak ada yang mulia,” jawab Prasenta. (*)

 

Tags: Hak Asasi ManusiaHAMKekerasan Aparat Keamanan di PapuaPaniai BerdarahPelanggaran HAM BeratPengadilan HAM Kasus PaniaiPengadilan HAM MakassarTNI
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Keluarga mengadu ke Panglima TNI dan DPR RI

Keluarga Pratu Andi Bugis mengadu ke Panglima TNI dan DPR RI

October 26, 2026
Suasana demonstrasi di Perumnas III Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (15/08/2026) - Jubi/Larius Kogoya

Nilai Indonesia alami kemunduran kebebasan sipil, Civicus soroti Papua

October 19, 2026

Biarkan Komisioner Tinggi PBB berkunjung ke Papua Barat

October 14, 2026

Gereja Baptis dukung perwakilan PBB berkunjung ke Tanah Papua

October 13, 2026

Koalisi: Berikan akses kepada PIF memantau kondisi HAM di Tanah Papua

October 11, 2026

Departemen Hukum dan HAM GIDI luncurkan LBH GIDI

September 28, 2026
Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Nduga lawmaker calls for review of security force deployment after fatal shooting
26 October 2026
Nduga lawmaker calls for review of security force deployment after fatal shooting

Sentani, Jubi – A member of the Nduga Regency Legislative Council has called on Indonesia’s central government to review the [...]

Thobias Bagubau warns against sidelining Indigenous landowners in illegal mining crackdown
26 October 2026
Thobias Bagubau warns against sidelining Indigenous landowners in illegal mining crackdown

Jayapura, Jubi – A member of the Central Papua Legislative Council has warned that efforts to crack down on illegal [...]

Amnesty urges Indonesia to stop suppressing forest fire protest and declare national disaster
24 October 2026
Amnesty urges Indonesia to stop suppressing forest fire protest and declare national disaster

Jayapura, Jubi – Amnesty International has called on the government to stop suppressing protest over forest and land fires and [...]

Residents condemn suspected forest arson in Papua Highlands
24 October 2026
Residents condemn suspected forest arson in Papua Highlands

Jayapura, Jubi – Residents of Mulima village in Libarek district, Jayawijaya regency, Papua Highlands, have condemned suspected arson after a [...]

Papua rights group reports alleged military abuses in Tolikara
23 October 2026
Papua rights group reports alleged military abuses in Tolikara

Jayapura, Jubi – The Papua Justice and Human Integrity Foundation (YKKMP) has reported alleged military sweeps, intimidation, interrogations and physical [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Dinkes Papua Tengah siapkan ILP

Pembangunan RS Provinsi Papua Tengah ditargetkan dimulai pada 2027

October 27, 2026
Dinkes Papua Tengah siapkan ILP

Dinkes Papua Tengah siapkan penguatan ILP di delapan kabupaten

October 27, 2026
Anggaran daerah untuk kesejahteraan masyarakat

Gubernur Nawipa: Anggaran daerah mesti berorientasi untuk kesejahteraan masyarakat

October 27, 2026
Penyusunan RDTR Depapre dan Genyem

Penyusunan RDTR Depapre dan Genyem tidak mengabaikan hak masyarakat adat

October 27, 2026
Pelaku perkelahian dengan WNA

Polisi tangkap pelaku perkelahian dengan WNA di Manokwari

October 27, 2026
Mahasiswa dan pelajar Nduga

Pelajar dan mahasiswa Nduga nyatakan sikap terhadap penembakan tiga warga

October 27, 2026
Sekolah Budaya

Sekolah Budaya untuk menyelamatkan bahasa Tepera

October 27, 2026
Keluarga mengadu ke Panglima TNI dan DPR RI

Keluarga Pratu Andi Bugis mengadu ke Panglima TNI dan DPR RI

October 26, 2026
Pimpinan pro-kemerdekaan Kaledonia Baru

Pemimpin pro-kemerdekaan Kaledonia Baru boikot Kesepakatan mineral Uni Eropa

October 26, 2026
Masyarakat PNG menghadapi kekeringan

Masyarakat PNG berjuang menghadapi kekeringan akibat El Nino

October 26, 2026
Pemerintah Distrik menata Pasar Lama Sentani

Pemerintah Distrik Sentani mulai menata kawasan Pasar Lama

October 26, 2026
Kebakaran dusun sagu Kimaam

Kebakaran dusun sagu di Kimaam ancam pangan masyarakat adat

October 26, 2026
Kehadiran investor untuk kepentingan masyarakat

Gubernur Papua Barat sebut kehadiran investor air kemasan untuk kepentingan masyarakat

October 27, 2026
Perencanaa iklim nasional di Kepulauan Solomon

Kepulauan Solomon memajukan perencanaan adaptasi iklim nasional

October 26, 2026
Dinkes Papua Tengah siapkan ILP

Pembangunan RS Provinsi Papua Tengah ditargetkan dimulai pada 2027

0
Dinkes Papua Tengah siapkan ILP

Dinkes Papua Tengah siapkan penguatan ILP di delapan kabupaten

0
Anggaran daerah untuk kesejahteraan masyarakat

Gubernur Nawipa: Anggaran daerah mesti berorientasi untuk kesejahteraan masyarakat

0
Penyusunan RDTR Depapre dan Genyem

Penyusunan RDTR Depapre dan Genyem tidak mengabaikan hak masyarakat adat

0
Pelaku perkelahian dengan WNA

Polisi tangkap pelaku perkelahian dengan WNA di Manokwari

0
Mahasiswa dan pelajar Nduga

Pelajar dan mahasiswa Nduga nyatakan sikap terhadap penembakan tiga warga

0
Sekolah Budaya

Sekolah Budaya untuk menyelamatkan bahasa Tepera

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : [email protected]

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara