• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

Perempuan First Nations: Kolonialisme merampas ruang hidup masyarakat asli Papua

March 2, 2022
in Polhukam
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: - Editor:

Warning: Trying to access array offset on false in /home/jubi/public_html/wp-content/themes/jnews/class/Image/ImageNormalLoad.php on line 70

Warning: Trying to access array offset on false in /home/jubi/public_html/wp-content/themes/jnews/class/Image/ImageNormalLoad.php on line 73
0
SHARES
27
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Amnesty International Australia menggelar webinar yang menghadirkan 3 perwakilan perempuan First Nations untuk membicarakan persoalan Papua, Rabu (2/3/2022). Webinar yang dimoderatori oleh aktivis dan pengacara HAM Papua yang kini bekerja untuk Amnesty, Veronica Koman, itu bertajuk “Dispossession: A conversation with first nations people about Papua” (Perampasan: Sebuah dialog masyarakat first nations soal Papua).

Hadir sebagai pembicara: Rode Wanimbo, Perempuan Lanny – Walak, Papua dan aktivis perdamaian; Tere Harrison, Perempuan Maori, aktivis and pembuat film; Lidia Thorpe, Perempuan Djabwurrung Gunnai Gunditjmara, Senator untuk Victoria, Australia.

Rode Wanimbo memulai dialog tersebut dengan video berdurasi 3 menit yang menunjukkan pengungsian Orang Asli Papua (OAP) di wilayah pegunungan akibat penyisiran dan kekerasan militer di kawasan mereka tinggal.

Baca juga: Gubernur Papua bentuk tim hukum untuk keadilan, demokrasi, dan HAM

“Krisis kemanusiaan sedang terjadi di Papua akibat operasi militer yang meningkat tiga tahun terakhir, terurtama di pengunungan tengah West Papua,” ungkap Rode Wanimbo yang juga Ketua Departemen Perempuan GIDI.

“Operasi militer ini telah menyebabkan lebih kurang 60.000 pengungsi internal di Papua dan pembunuhan diluar hukum serta penyiksaan. Masyarakat, khususnya anak-anak, kehilangan akses pendidikan dan kesehatan. Perempuan bertambah berat bebannya dalam pengungsian karena setiap hari harus tetap memikirkan makan untuk anak-anak dan keluarganya. Saat kita berbicara ini, masih banyak pengungsi Papua hidup di hutan,” ujar Wanimbo.

BERITATERKAIT

Masyarakat adat Papua mandiri dari kelola hutan ulayat

Penghubung KY Papua dorong masyarakat adat terlibat mengawasi integritas hakim

Konflik di Papua Barat dan Warga Sipil Harus Menanggung Akibatnya

Polisi didesak hentikan kriminalidasi terhadap masyarakat adat Malind

Penyebab perampasan

Pada kesempatan itu, Rode Wanimbo menjelaskan situasi-situasi yang memungkinkan terjadinya perampasan (hak milik) masyarakat asli Papua. Menurutnya penyebab pertama adalah kolonialisme yang serakah, yang dalam konteks Papua dicerminkan dalam tiga momen di tahun 1962, 1967 dan 1969.

“Pada tahun 1962 terjadi New York Agreement sebagai bukti AS berkospirasi dengan Pemerintah Indonesia untuk merampas kekayaan emas di Nemangkawi. Tahun 1967 dua tahun sebelum Pepera, Freeport sudah mendapat izin beroperasi tanpa keterlibatan Orang Asli Papua pemilik [hak ulayat atas] Nemangkawi [yang menjadi lokasi tambang Freeport]. Lalu tahun 1969 yang disebut The Act of Free Choice yang pada kenyatannya adalah The Act of No Choice. Yang jelas melanggar prinsip internasional one man one vote namun, sedihnya, PBB tidak bersikap,” demikian pemaparan Wanimbo.

Wanimbo melanjutkan penyebab perampasan hak milik orang Papua yang kedua adalah pendekatan militerisme yang telah menyebabkan banyak kematian dan pembunuhan melalui berbagai operasi militer.

Baca juga: POHR : Desakan Komisi HAM PBB, bukti Indonesia apatis terhadap persaolan HAM

Penyebab perampasan yang ketiga menurut Wanimbo adalah kebijakan pembangunan yang bias pendatang dan rasis. Wanimbo memperlihatkan foto hitam putih dimana areal pemukiman dan tipe rumah tinggal tradisonal keluarganya. Dia menjelaskan bagaimana masyarakat di tempat itu hidup harmonis dan saling peduli dan menghormati.

“Selama bertahun-tahun kami sudah memiliki nilai-nilai tradisional sistem hidup, kebersamaan dll. Namun ketika penjajah tiba mereka menganggap semua ini primitif dan menghancurkannya. Kami diperkenalkan cara pemukiman yang baru, berpakaian baru, sejarah baru yaitu Indonesia dari sekolah dasar dan sampai sekolah tinggi. Dibawah Presiden Soeharto program transmigrasi membawa ratusan ribu migran dan berhektar-hektar lahan diberikan pada mereka. Tujuannya untuk mengajarkan OAP mengelola tanah padahal orang-orang tua kami sudah tahu bagaimana mengolah tanah. Operasi koteka yang paling menyedihkan, karena kami dianggap terbelakang. Kekuatan kami untuk melawan dilucuti,” ungkap Wanimbo.

Dan kini, lanjutnya, perpanjangan otonomi khusus tanpa evaluasi menyeluruh dan rencana pemekaran provinsi-provinsi di Papua akan semakin menjustifikasi kolonialisme untuk membawa misi peradaban mereka. “Tiga provinsi lagi akan membuka kesempatan bagi lebih banyak non Papua yang akan datang, kami akan menjadi orang asing di negeri kami sendiri,” ujarnya.

Baca juga: Pengungsi dan korban pelangaran HAM harus ikut dalam audiensi DPR RI

“Perampasan kini bukan saja pada ruang tempat hidup orang Papua tetapi juga sumber-sumber kehidupan orang Papua: tanah, sungai, hutan, gunung yang bagi kami bukanlah sumber daya alam melainkan sumber kehidupan,” kata Wanimbo.

Tere Harrison, Perempuan Maori yang juga film maker, mengapresiasi Amnesty Internasional Australia yang telah menggelar webinar dialog tersebut. Ia juga mengapresiasi berbagai kelompok dan kegiatan solidaritas untuk Papua yang ada di Selandia Baru dan Pasifik.

“Berkat mereka yang terus menyuarakan persoalan Papua. Sehingga kami tidak saja memikirkan dispossession terhadap masyarakat Maori tetapi juga apa yang kami bisa lakukan untuk West Papua dari perspektif indigenous people,” ujarnya.

Harrison menjelaskan bahwa mustahil mendiskusikan perampasan tanpa diskusi soal kolonialisasi. Menurutnya kolonialisasi bukanlah proses masa lalu, namun masih terus terjadi dalam berbagai bentuk terjadi khususnya dalam sistem pengetahuan. “Kita terjajah dan sedang memperjuangkan penegakan hak kita. Seluruh masyarakat asli di dunia menghadapi ini. Mereka memperjuangkan hak untuk berdaulat, berpengetahuan, dan hak bersuara,” ujarnya.

Baca juga: Penyelesaian masalah Papua lebih penting dari pemekaran

Kepada masyarakat asli West Papua, Harrison mengatakan bahwa lautan yang sama menyatukan perasaan sesama masyarakat asli. “Untuk West Papua, ingatlan koneksi kita sebagai masyarakat asli melalui koneksi nenek moyang kita. Hati kami menangis untuk anak-anak dan perempuan di West Papua, yang menjadi korban perampasan baik dari Belanda maupun Indonesia. Sebagai masyarakat asli kami mengerti penderitaanmu. Dan kami mengajak negara kami, pemerintah dan sesama warga untuk bersuara,” ujarnya.

Lidia Thorpe, Senator untuk Victoria Australia mengusulkan sebuah ‘proyek dekolonisasi’ yang dimulai dari diri sendiri dalam melawan perampasan kolonialisme.

“Dekolonisasi diri sendiri adalah pekerjaan penting. Banyak tanggung jawab di pundak kita. Kita selalu harus menjelaskannya keberdaan kita terus menerus. Kita menghadapi krisis iklim dan kemanusiaan justru karena pengambil kebijakan tidak mendengar kita, masyarakat asli.  Sementara kejahatan terhadap kemanusiaan terjadi setiap hari, orang kita dipenjara tanpa keadilan, kaum perempuan kita mengalami trauma setiap hari,” ujar Thorpe.

Baca juga: Hentikan pemekaran, segera gelar dialog Jakarta – Papua!

Thorpe mengatakan proyek dekolonisasi dapat dilakukan dengan mempelajari kembali budaya masyarakat asli, menyelamatkan bahasanya, memandirkan masyarakatnya. “Love, care, unity, dan empowerment (Cinta, kepedulian, persatuan dan pemberdayaan) itulah cara kita bertahan hidup, dan hanya dengan cara itu. Kita harus melawan pemikiran kolonial orang-orang yang berkuasa,” ujar Thorpe di akhir tanggapannya.

Para pembicara mengapresiasi Amnesty International Australia karena telah menghubungkan perempuan-perempuan first nations dalam webinar tersebut.

First Nations adalah salah satu istilah yang digunakan untuk menjelaskan masyarakat asli atau pribumi (indigenous people). Dalam keterangan fact sheet Forum Permanen PBB untuk isu indigenous people, istilah “indigenous” digunakan sebagai istilah generik untuk menggambarkan istilah-istilah lain diberbagai negeri seperti tribe (suku), first peoples/nations, aboriginals, ethnic groups, adivasi, janajati. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Tags: Amnesty Internationalkonflik bersenjatakonflik PapuaMasyarakat Adatmasyarakat hukum adatOrganisasi Masyarakat Sipilpelanggaran HAMPenentuan Pendapat RakyatPepera 1969Perjanjian New YorkPT Freeport Indonesia
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Dusun Sagu, Hutan Ulayat

Masyarakat adat Papua mandiri dari kelola hutan ulayat

October 9, 2026
Komisi Yudisial atau KY Papua

Penghubung KY Papua dorong masyarakat adat terlibat mengawasi integritas hakim

September 29, 2026

Konflik di Papua Barat dan Warga Sipil Harus Menanggung Akibatnya

September 25, 2026

Polisi didesak hentikan kriminalidasi terhadap masyarakat adat Malind

September 22, 2026

PTUN Jayapura tolak gugatan masyarakat adat Malind

September 21, 2026

109 orang menjadi korban kekerasan dan konflik bersenjata di Tanah Papua

September 12, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Papuan Indigenous Communities Achieve Self-Reliance Through Customary Forest Management
10 October 2026
Papuan Indigenous Communities Achieve Self-Reliance Through Customary  Forest Management

Teminabuan, Jubi – Indigenous Papuans have their own ways of managing customary forests to ensure they remain protected. They harvest [...]

Cenderawasih University student reports police officers over alleged assault
9 October 2026
Cenderawasih University student reports police officers over alleged assault

Jayapura, Jubi – Wialo Silak, chair of Cenderawasih University’s Student Consultative Assembly (MPM Uncen) for the 2026–2027 term, has reported [...]

Merauke regent calls for 2027 special autonomy funds to target three priorities
9 October 2026
Merauke regent calls for 2027 special autonomy funds to target three priorities

Merauke, Jubi – Merauke Regent Yoseph Bladib Gebze has called for Papua’s 2027 Special Autonomy (Otsus) funds to focus on [...]

Authorities stop smuggling of 115 parrot eggs from Merauke
8 October 2026
Authorities stop smuggling of 115 parrot eggs from Merauke

Merauke, Jubi – Authorities in Indonesia’s South Papua province have intercepted an attempt to smuggle 115 wild parrot eggs from [...]

Asian churches for an end to violence in Papua through Chiang Main declaration
8 October 2026
Asian churches for an end to violence in Papua through Chiang Main declaration

Jayapura, Jubi – A symposium of Asian churches has called for an end to violence in Papua through a declaration [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
PSN penghancur hutan hujan tropis

Aliansi: Hentikan PSN penghancur hutan hujan tropis di Tanah Papua

October 11, 2026
Indonesia mesti menjawab pelanggaran HAM

Koalisi: Berikan akses kepada PIF memantau kondisi HAM di Tanah Papua

October 11, 2026
Pemilu PNG

KPU PNG membutuhkan banyak waktu selenggarakan Pemilu 2027

October 11, 2026
Pesta Olahraga Melanesia

Akankah segera ada pesta olahraga Melanesia?

October 11, 2026
PM Solomon hari kemerdekaan Fiji

PM Solomon ucapkan selamat kemerdekaan Fiji ke-56

October 11, 2026
KRI tiba di Fiji

KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 tiba di Fiji

October 11, 2026
Gempa Bumi Panama

Gempa bumi di Panama memicu kekhawatiran akan tsunami Pasifik

October 10, 2026
Gempa Bumi Panama

Gempa bumi di Panama memicu kekhawatiran akan tsunami Pasifik

October 10, 2026
Hibah renovasi gedung parlemen Vanuatu

Pemerintah Indonesia berikan hibah untuk renovasi gedung parlemen Vanuatu

October 10, 2026
MRP verifikasi dokumen IPDN

MRP Papua Tengah verifikasi faktual dokumen, memastikan hak OAP masuk IPDN

October 10, 2026
Bakal calon ketua PSSI

Empat orang mendaftar sebagai bakal calon Ketua Pengprov PSSI Papua Barat

October 9, 2026
Samudra Pasifik

Samudra Pasifik bukanlah penyebab krisis iklim

October 10, 2026
RSUD Yowari

Keluarga pasien berharap Pemkab Jayapura evaluasi menyeluruh RSUD Yowari

March 17, 2026
Pemeriksaan kesehatan

Dinkes Jayapura hadirkan dokter spesialis saat pemeriksaan kesehatan gratis

March 17, 2026
PSN penghancur hutan hujan tropis

Aliansi: Hentikan PSN penghancur hutan hujan tropis di Tanah Papua

0
Indonesia mesti menjawab pelanggaran HAM

Koalisi: Berikan akses kepada PIF memantau kondisi HAM di Tanah Papua

0
Pemilu PNG

KPU PNG membutuhkan banyak waktu selenggarakan Pemilu 2027

0
Pesta Olahraga Melanesia

Akankah segera ada pesta olahraga Melanesia?

0
PM Solomon hari kemerdekaan Fiji

PM Solomon ucapkan selamat kemerdekaan Fiji ke-56

0
KRI tiba di Fiji

KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 tiba di Fiji

0
Gempa Bumi Panama

Gempa bumi di Panama memicu kekhawatiran akan tsunami Pasifik

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara