Wamena, Jubi -Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atau LPPM, Universitas Amal Ilmiah (Unai’Im) Yapis Wamena, melakukan sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk Ekoenzim dan Pestisida nabati kepada kelompok tani kedelai yang terhimpun di dalam organisasi gabungan kelompok tani atau Gapoktan “Nitnen Nithesik” di distrik Welesi kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis (10/9/2024) siang.
Ketua tim pengabdian kelompok tani dan juga merupakan kepala unit laboratorium terpadu di fakultas Sains dan teknologi Una’Im, Yapis Wamena, Nuraisyah Takdir mengatakan , kegiatan ini merupakan salah satu program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan setahun sekali, di tiap semester.
“Salah satu program yang kami lakukan di semester ini yakni terkait dengan pemanfaatan pengelolaan dan pemanfaatan limbah pertanian untuk menciptakan pertanian secara berkelanjutan,” katanya.
Kelompok tani diberikan pemahaman dan arahan, memanfaatkan sisa -sisa pertanian atau kebun untuk di olah kembali menjadi pupuk organik.
“Pemanfaatan ini kita buat menjadi limbah Ekoenzim yang merupakan pupuk cair yang di buat melaui proses fermentasi dari sisa-sisa pertanian yang bisa digunakan kembali atau di olah menjadi pupuk organik, dengan proses fermentasinya di butuhkan selama 3 bulan, baru bisa di panen lalu disemprotkan ke tanaman baik tanaman kedelai maupun ke jenis tanaman lainnya,” ujar Nuraisyah Takdir, saat di temui Jubi lokasi pelatihan di Welesi Wamena.
Di daerah Jayawijaya maupun umumnya di Papua Pegunungan ini terkenal dengan tanaman organik, tanpa bahan kimia. Karena itu menurutnya sangat perlu sekali membina masyarakat. Agar tetap mempertahankan tanaman organik. Tidak terpengaruh pupuk kimia yang masuk dari luar daerah.
Pupuk Ekoenzim yang yang dibuat dalam pelatihan itu dalam bentuk cairan. Berbahan dasar dari sisa-sisa pertanian seperti daun ubi, singkong, keladi, pisang, kol, sawi dan kulit buah yang selama ini tidak termanfaatkan oleh masyarakat.
Proses fermentasi makan waktu 3 bulan. Selama proses itu dilakukan pengamatan tiap 1-2 hari, sekaligus membuka wadah yang difermentasi. untuk mengeluarkan gas yang terkurung dalam wadah.
Dia mengatakan, pelatihan serupa, sebelumnya juga pernah dilakukan di kampung lain. Di antaranya kampung Jagara, dengan melibatkan 6 orang dosen serta mahasiswa dari jurusan agronomi, agar mereka bisa praktik langsung di lapangan.
Sementara itu ketua kelompok tani Gapoktan Nitnen Nithesik, Amatus Yelipele, menjelaskan usaha kelompoknya dikembangkan sejak awal Januari 2022 silam. Pada awal pembentukan hanya memiliki 3 kelompok tani dengan luas lahan sekitar 1 hektar di daerah Siekelek. Saat ini di lokasi tersebut dijadikan sebagai lokasi pembangunan kantor gubernur provinsi Papua Pegunungan.
Nitnen Nithesik berarti “dari kita untuk kita” dalam bahasa daerah setempat.
“Karena saat itu sudah tidak ada lokasi yang bisa kita usaha untuk tanam kedelai sehingga kita kembali duduk rapat dengan semua anggota kelompok dan kita putuskan untuk pindah lokasi yakni lokasi pertama di Iluagenma dengan jumlah anggota 10 orang, lokasi kedua Wulugi atas dengan jumlah anggota 7 orang dan lokasi ketiga Koasiem dengan jumlah anggota 24 orang,” katanya.
Tiga kelompok itu awalnya hanya fokus dengan budidaya tanaman kedelai dan sudah dilakukan proses panen sebanyak tiga kali panen. Saat ini mau masuk yang keempat kali dan panen ke 1-2 itu hasilnya sudah sangat memuaskan. Pihaknya berhasil menjual hasil panen di pabrik tahu di wilayah itu.
Sementara untuk panen tahap ketiga, saat ini masih ditahan sebab ada rencanan pembukaan lokasi baru yang lebih besar lagi.
“Pertama panen itu kita telah menghasilkan sekitar 500 kilo dan panen di tahap 2 dan 3 kita telah hasilkan sekitar 700 kilo kedelai, dan awalnya kita datangkan bibit kedelai ini kita datangkan dari Surabaya, Jawa Timur,” kata Yelipele
Yelipele juga mengatakan bahwa, sampai sejauh ini pihaknya sudah memiliki 7 kelompok petani karena bulan kemarin ada penambahan 4 kelompok tani lagi dengan pembukaan lokasi atau lahan baru lagi yakni di kampung Pawikama, Tulima dan pinggir kali Ue serta di Silimo.
Luas lahan paling besar 1 hektar 500 meter, ada juga 100 x 100 meter persegi. Paling kecil yakni 50X30 meter persegi .
“Untuk kedepan kita telah targetkan hasil panen ini bisa dikemas dalam bentuk sirup minuman yakni sari kedelai, dan kita bersyukur selama ini kita sedikit terkendala dengan faktor hama atau penyakit tanaman kedelai. Tapi syukur kita telah sudah jalin kerja sama dengan kampus Una’im untuk kembangkan pestisida alami untuk basmi hama dan juga pupuk organik,” katanya
Selain itu Yelipele juga menambahkan pihaknya juga telah berhasil jalin kerjasama dengan Bank Papua cabang Wamena, “kita bersyukur tadi pagi kita di kunjungi dari Bank Papua Cabang Wamena dalam rangka membuka agen Laku Pandai Bank Papua dengan penyerahan Kris serta baleho sekaligus mereka pasang agen BRI link “Nitnen Nithesik Jaya,” tutupnya (*)





















Discussion about this post