Jayapura, Jubi – Mosi tidak percaya yang diajukan terhadap Perdana Menteri (PM) Kepulauan Solomon, Matthew Wale telah dicabut.
Mosi menentang Perdana Menteri Matthew Wale yang baru menjabat selama lebih dari tiga bulan, dijadwalkan untuk dibahas di parlemen pada Senin, 7 September, sebagaimana dilansir Jubi dari laman RNZ Pasifik, Senin (7/9/2026).
Manasseh Maelanga, yang mengajukan mosi terhadap Wale seminggu yang lalu, mengumumkan pada Minggu (6/9/2026) sore bahwa ia menarik mosi tersebut.
SBM Online melaporkan bahwa Maelanga juga menandatangani dokumen yang diperlukan untuk penarikan resmi mosi tersebut dan menyerahkannya ke Parlemen Nasional siang ini.
“Saya tidak mengambil keputusan ini dengan enteng, mosi ini sama sekali bukan tentang ambisi profesional, kepentingan pribadi, atau menciptakan perpecahan di negara kita, ini bukan keputusan yang saya ambil sendirian,” kata Maelanga.
Menanggapi pengumuman tersebut, Perdana Menteri Wale berterima kasih kepada Maelanga karena telah menarik mosi tersebut.
“Saya cukup prihatin sejak saya menyadari… saat saya mendarat di Palau… emosi dan opini publik, saya pikir, juga meningkatnya tingkat kemarahan publik terkait bagaimana para pemimpin bertindak dalam situasi ini, dan ini adalah sesuatu yang tidak baik di mata publik,” tambahnya.
“Saya menyambut baik semangat yang ditunjukkan Maelanga dan ia memberi tahu saya pada Jumat (4/9/2026) sore bahwa inilah yang akan dia lakukan selama akhir pekan,” kata Wale.
Usulan itu mengejutkan Matthew Wale, yang berada di Palau untuk Pertemuan Pemimpin Forum Kepulauan Pasifik ketika berita itu tersiar.
Wale meninggalkan Palau pagi-pagi keesokan harinya untuk kembali ke tanah air dan menangani krisis politik domestik.
Sekembalinya ke Kepulauan Solomon pekan lalu, ia menghadapi pengunduran diri tiga menteri kabinet.
Kamis (3/9/2026) lalu, Wale kemudian memecat Menteri Keuangan, Gordon Darcy Lilo, yang juga berasal dari partai politik yang sama dengan Maelanga.
Lilo mengatakan kepada RNZ Pacific bahwa dia tidak terlibat dalam mosi menentang perdana menteri.
Selama akhir pekan, media lokal melaporkan bahwa dua anggota parlemen oposisi lainnya telah membelot dan bergabung dengan pemerintah, sehingga pemerintah memiliki 31 kursi di parlemen yang beranggotakan 50 kursi. (*)





















Discussion about this post