Jayapura, Jubi – Direktur Layanan Pemasyarakatan Johnny Marango mengatakan kejahatan seksual dan Narkoba masih menjadi mayoritas kasus di Vanuatu. Data dari Sensus Pelanggar 2024 menunjukkan bahwa pelanggaran seksual menyumbang 55 persen dari seluruh kasus narapidana, sekitar 151 dari total 275 pelanggar yang tercatat. Angka ini mirip dengan sensus 2023, di mana pelanggaran ini juga mendominasi.
Menyinggung tren tersebut, Direktur Marango mengatakan bahwa negara ini mengalami kesulitan dalam mengurangi jenis kejahatan seksual dan Narkoba dari waktu ke waktu. Demikian dikutip jubi.id dari laman www.dailypost.vu, Selasa (14/4/2026).
“Sayangnya, tidak. Sejak 2011, lebih dari 50 persen pelanggar terkait dengan pelanggaran seksual dan kejahatan Narkoba. Angkanya belum turun,” katanya.
Perbandingan kedua laporan sensus menunjukkan bahwa meskipun jumlah total tahanan tetap 275 pada 2023 dan 2024, jenis pelanggaran tidak banyak berubah.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Selain pelanggaran seksual, kejahatan terkait narkoba terus menonjol, terutama di antara pelanggar yang menjalani hukuman non-kustodian atau berbasis masyarakat.
Direktur Marango mengatakan bahwa penanganan kejahatan membutuhkan upaya mengatasi penyebab utamanya, terutama di kalangan pemuda.
“Semua itu dimulai dengan fondasi keluarga yang kuat dan pendidikan. Banyak pelanggar putus sekolah. Kita perlu pendidikan kewarganegaraan yang lebih baik agar pemuda memahami konsekuensi kejahatan,” ujarnya.
Data sensus mendukung kekhawatiran ini, menunjukkan bahwa sebagian besar pelanggar hanya mencapai pendidikan hingga Kelas 6, menunjukkan hubungan antara rendahnya tingkat pendidikan dan perilaku kriminal.
Departemen Layanan Pemasyarakatan telah merespons melalui program penyuluhan dan kesadaran di sekolah-sekolah.
“Ya, melalui petugas percobaan dan program kesadaran ketika diminta oleh sekolah. Pendidikan adalah kunci pencegahan,” kata Marango.
Meskipun Vanuatu mempertahankan tingkat pemasyarakatan yang relatif rendah, yakni 65 per 100.000 orang, salah satu yang terendah di kawasan Pasifik, kekhawatiran tetap ada atas berlanjutnya pelanggaran serius.
Data juga menunjukkan bahwa pelanggar pertama kali mendominasi tahanan, menunjukkan bahwa strategi pencegahan, terutama yang menargetkan pemuda dan pendidikan, dapat berperan penting dalam mengurangi kejahatan.
Dengan sedikit perubahan antara laporan 2023 dan 2024, para pejabat mengatakan bahwa fokus lebih kuat pada pendidikan, dukungan keluarga, dan intervensi dini diperlukan untuk mengubah tren kejahatan.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















Discussion about this post