Jayapura, Jubi – Bagi Lizzie Seko, fondasi kerajaan pariwisata tidak dibangun dengan gelar bisnis atau pinjaman korporat. Semua itu bermula di sebuah kios kecil di Honiara, menjual sirih dan rokok. Demikian dikutip jubi.id dari laman www.tavulinews.com.sb, Selasa (14/4/2026).
Saat ini, sebagai salah satu pendiri Tulagi Tours and Travel, Seko telah menjadi sosok sentral dalam ambisi Provinsi Tengah untuk memimpin industri pariwisata nasional pada 2028. Transisinya dari pekerjaan pemerintah yang stabil sebagai petugas kehutanan menjadi pengusaha inovatif memberi gambaran langka tentang “keberanian” yang diperlukan untuk menavigasi dinamika ekonomi Pasifik yang berubah.
Lompatan ke Sektor Informal
Kisah Tulagi Tours adalah tentang risiko yang diperhitungkan. Bertahun-tahun lalu, Seko dan suaminya—saat itu seorang pejabat pengembangan pemuda—membuat keputusan berani meninggalkan keamanan yang dianggap ada di sektor formal.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Saya sadar saya menghasilkan lebih banyak di kios daripada di karier formal saya,” kata Seko. “Ini bukan hanya soal uang; itu menimbulkan ketertarikan pada sektor informal—bagaimana perdagangan kecil dan lokal sebenarnya menggerakkan ekonomi kita.”
Rasa ingin tahu itu berkembang menjadi usaha layanan bahan bakar di Tulagi. Namun, saat mereka melihat wisatawan kesulitan mencapai pulau bersejarah tersebut, mereka mengidentifikasi hambatan kritis: logistik. Pada 2017, dengan dukungan “rayboat” dari Kementerian Pariwisata, pasangan ini resmi beralih ke transportasi, menjembatani jarak antara ibu kota dan provinsi.
Bertahan di Laut
Menjalankan bisnis maritim di Kepulauan Solomon adalah pelajaran tentang ketahanan. Bagi Seko, tantangan terbesar adalah “tarik-menarik harga” dengan klien yang sering meremehkan biaya logistik pulau.
“Menemukan keseimbangan antara harga yang adil dan biaya bahan bakar yang naik adalah perjuangan sehari-hari,” ujarnya. Saat ini, perjalanan dua jam dari Honiara ke Tulagi menjadi tulang punggung bisnis, namun Seko menatap masa depan. Target berikutnya adalah mendapatkan kapal cepat “fast craft” untuk memangkas waktu perjalanan setengahnya dan meningkatkan pengalaman wisatawan.
Meski risikonya tinggi, bisnis ini berkembang dengan menjalin kemitraan penting dengan perusahaan besar di negara ini, termasuk Heritage Park Hotel, Mendana, Tourism Solomons, dan lainnya.
Frontier ‘Hijau’ untuk Perempuan
Seko memandang pariwisata bukan sekadar sumber pendapatan; ia melihatnya sebagai “industri hijau” yang memberdayakan masyarakat adat untuk mengembalikan narasi ekonomi mereka. Sebagai seorang ibu dan pemimpin, ia percaya sektor ini adalah tempat alami bagi kepemimpinan perempuan.
“Pariwisata membutuhkan keberanian khusus,” kata Seko. “Bagi setiap perempuan yang masih menonton dari pinggir: ini bisa terasa menakutkan, tetapi ini adalah bisnis yang tidak akan Anda sesali. Dibutuhkan kepercayaan diri, kemauan untuk belajar, dan kekuatan membangun jaringan sendiri.”
Seiring Provinsi Tengah mendekati target 2028, pasangan Seko menjadi cetak biru kepemilikan lokal. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa masa depan pariwisata Kepulauan Solomon mungkin tidak bergantung pada investasi luar, tetapi pada keberanian mereka yang bersedia menukar kenyamanan kantor dengan ketidakpastian laut lepas. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post