Jayapura, Jubi – Pemerintah Amerika Serikat dan Taiwan menuduh China berupaya menggunakan peringatan perjalanan untuk melemahkan Palau menjelang KTT para pemimpin Forum Kepulauan Pasifik (PIF) di Koror.
Sebuah peringatan perjalanan yang diposting di situs web Layanan Konsuler China pada 19 Agustus menyerukan warga negara China “untuk berhati-hati saat bepergian ke Palau”.
Peringatan tersebut menyebutkan “sejumlah kasus pencurian dan perampokan yang menargetkan wisatawan, yang mengakibatkan kerugian signifikan bagi para korban”.
Kedutaan Besar AS di Koror mengecam pemberitahuan tersebut pada hari Minggu, menyebutnya sebagai sebuah serangan.
“Kami menyerukan kepada Beijing untuk menghentikan semua aktivitas koersifnya terhadap Palau,” bunyi pernyataan AS tersebut sebagaimana dilansir Jubi dari laman RNZ Pasifik, Senin (31/8/2026).
“Peringatan Perjalanan AS untuk Palau tetap berada di Level 1: Lakukan Tindakan Pencegahan Normal, yang mencerminkan penilaian berkelanjutan kami bahwa Palau secara umum merupakan destinasi yang aman bagi wisatawan AS.”
Kantor presiden Palau membagikan pernyataan Kedutaan Besar AS, tetapi tidak sampai menyangkal klaim China tersebut.
“Palau tetap menjadi destinasi yang aman, damai, dan ramah bagi pengunjung dari seluruh dunia,” begitu bunyi pernyataan tersebut.
Kedutaan Taiwan di Palau menyuarakan sentimen serupa dengan AS, menyebut peringatan tersebut sebagai “upaya untuk mempolitisasi dan menjadikan pariwisata sebagai senjata.”
“Tindakan semacam itu hanya semakin menunjukkan penggunaan paksaan ekonomi oleh Beijing untuk memperluas pengaruh politiknya dan hanya akan menimbulkan kekhawatiran dan kebencian yang lebih besar di kalangan komunitas internasional,” kata pernyataan tersebut.
Baik China maupun Taiwan hadir dalam Pertemuan Pemimpin PIF sebagai negara mitra dialog dan pembangunan.
Palau, Kepulauan Marshall, dan Tuvalu adalah satu-satunya negara anggota PIF yang mengakui Taiwan. (*)






















Discussion about this post