Jayapura, Jubi – Kiribati tercatat sebagai konsumen terbesar kava asal Vanuatu di dunia pada 2024. Menurut laporan Vanuatu Daily Post, negara itu mengimpor 280 metrik ton kava dari Vanuatu pada tahun lalu.
Michael Louze, mantan ketua Industri Kava Vanuatu dan eksportir kava ke Amerika Serikat, menyebut bahwa angka ini setara dengan sekitar empat kilogram kava per orang per tahun, jika setengah dari populasi Kiribati mengonsumsinya.
“Ada yang minum lebih banyak, ada yang lebih sedikit. Namun, bahkan pada tingkat ini, angka tersebut cukup signifikan untuk negara sebesar ini,” ujar Louze, dikutip jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Jumat (30/5/2025).
Pada 2023, Tiongkok tercatat sebagai pengimpor kava mentah terbesar di dunia. Namun, 99 persen di antaranya digunakan untuk produksi ekstrak yang kemudian diekspor kembali.
“Tiongkok bukanlah pasar untuk konsumsi kava,” kata Louze.
“Biasanya produk curah dikirim melalui Tiongkok. Namun di Kiribati, situasinya berbeda. Mereka benar-benar meminumnya – tanpa pengolahan, tanpa ekspor ulang. Konsumsi murni,” tambahnya.
Kantaake Robapi, pemilik salah satu bar kava di Kiribati, mengungkapkan kekhawatirannya akan menjamurnya bar kava di seluruh negeri.
“Setiap desa punya bar kava. Sudah terlalu banyak bar kava di Kiribati,” katanya.
Menurutnya, untuk mendapatkan izin usaha bar kava, seseorang harus membayar AUD$150 [sekitar US$97]. Kementerian Kesehatan memeriksa kebersihan bar, termasuk toilet dan peralatan kava, sebelum izin dikeluarkan oleh dewan Tarawa.
Menteri Urusan Perempuan, Pemuda, dan Olahraga Kiribati, Ruth Cross Kwansing, juga menyatakan keprihatinan mengenai dampak konsumsi kava yang semakin tinggi.
Kwansing menyampaikan kepada ABC bahwa kebiasaan minum kava memengaruhi kehidupan keluarga di rumah.
“Jika seorang ayah tidak berada di rumah bersama anak-anak dan istrinya, maka jelas ia tidak mengurus keluarga dan anak-anaknya,” katanya.
“Kalau semua uang habis untuk kava, bagaimana keluarga bisa memenuhi kebutuhan makanan dan kebutuhan pokok lainnya?”
Ia juga menambahkan bahwa para lelaki kelelahan karena minum kava larut malam, sehingga tidak mampu memancing atau melakukan aktivitas produktif di rumah.
Sementara itu, Tonga mengimbau para produsen kava di kawasan Pasifik untuk mengikuti langkahnya dalam membatasi ekspor kava untuk keperluan ekstraksi. Langkah ini mendapat tentangan keras dari Vanuatu dan Fiji, dua eksportir kava terbesar di kawasan tersebut.
Tonga berpendapat bahwa kava hanya boleh dikonsumsi dalam bentuk tradisional dan diminum secara langsung – bukan diekstrak menjadi kapsul, bubuk, atau suplemen untuk pasar luar negeri. Kekhawatiran utama adalah erosi budaya dan potensi penyalahgunaan kava.
Di Vanuatu, muncul kekhawatiran terkait kelangkaan kava. Louze mengaitkan kekurangan pasokan ini dengan beberapa faktor: meningkatnya jumlah petani kava yang mengikuti program kerja musiman di Australia dan Selandia Baru, kerusakan akibat Siklon Tropis Harold pada hari Pentakosta tahun 2020, serta melonjaknya permintaan di pasar lokal Port Vila.
Tanaman kava sendiri membutuhkan waktu lebih dari lima tahun untuk matang dan siap dipanen.
“Masyarakat Port Vila mengonsumsi berton-ton kava setiap minggu, tetapi mereka tidak menanamnya,” kata Louze.
“Populasi bertumbuh dengan cepat, dan semakin banyak pria dan wanita muda yang minum kava setiap hari.”
Meski demikian, Louze menekankan bahwa para petani tidak akan berhenti menanam kava, mengingat permintaan lokal dan internasional yang terus meningkat, serta harga jual yang belum pernah setinggi ini. (*)























Discussion about this post