Jayapura, Jubi – Oposisi Papua Nugini sedang mencari tanggapan dari pengadilan atas perilaku Ketua DPR Job Pomat selama sidang parlemen yang dipersingkat minggu lalu.
Parlemen ditunda Rabu (5/6/2034) lalu di tengah upaya oposisi untuk mengajukan mosi tidak percaya kepada Perdana Menteri James Marape. Demikian dikutip jubi.id dari www.rnz.co.nz, Rabu (12/6/2024).
Koresponden RNZ Pacific di PNG Scott Waide telah mengonfirmasi bahwa pihak oposisi sedang meminta perintah pengadilan dengan maksud agar parlemen dipanggil kembali.
Dia mengatakan pihaknya mengajukan gugatan pada Senin (10/6/2024) atas apa yang dilihatnya sebagai penyalahgunaan perintah tetap oleh ketua.
Waide mengatakan pemimpin oposisi Douglas Tomuriesa menginginkan keputusan yang menjadi preseden tentang bagaimana ketua DPR menerapkan perintah tetap dalam sidang mendatang.
Pertentangan utama adalah ketergantungan Pomat pada saran dari komite partisan parlemen, Komite Bisnis Swasta, yang katanya memberi tahu dia bahwa berkas mosi tidak diisi dengan benar –keempat kalinya klaim tersebut berhasil dibuat tahun ini untuk menghalangi mosi tidak percaya.
Komite ini seluruhnya terdiri dari anggota Pangu Pati yang merupakan partai utama di parlemen dan partai yang menaungi Pomat dan Marape.
Pihak oposisi juga mempertimbangkan untuk meminta pengadilan memaksa ketua DPR untuk mengundurkan diri dari partainya ketika menjabat, untuk memastikan ketidakberpihakan yang lebih besar.
Belum ada kabar mengenai pengumuman Pomat di parlemen pekan lalu bahwa ia akan mengundurkan diri jika pengadilan menemukan ia terlalu percaya pada pandangan Komite Bisnis Swasta sehubungan dengan mosi tidak percaya.
Sementara itu, pihak oposisi tetap berkomitmen untuk mengajukan mosi tidak percaya kepada perdana menteri dan pemerintahannya.
Waide mengatakan para anggota parlemen masih berada di ‘kamp’ di dalam dan sekitar Port Moresby, menunggu hasil keputusan pengadilan, yang mungkin akan menyebabkan penarikan kembali parlemen dalam beberapa hari.
Dia menambahkan, baik pemerintah maupun oposisi mengklaim mereka memiliki angka-angka tersebut. (*)























Discussion about this post