Jayapura, Jubi – Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, S.H mengingatkan para orang tua untuk selalu mendampingi anak-anak mereka, terutama dalam hal yang berkaitan dengan kepentingan pendidikan.
Ini disampaikan Gubernur Nawipa dalam sambutannya, saat menghadiri Open House yang diselenggarakan oleh Sekolah Papua Harapan di Aula Gereja Pantekosta Serikat Di Indonesia (GPSDI), Jalan Martadinata, Kelurahan Nabarua, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Jumat (28/8/2026).
Gubernur Nawipa mengatakan, orang tua harus selalu meluangkan waktu untuk kepentingan pendidikan anak. Misalnya apabila ada pertemuan orang tua di sekolah, atau kegiatan sekolah yang mengharuskan orang tua mendampingi anak, mereka mesti hadir.
Gubernur Nawipa menegaskan, sejak menjabat Bupati Paniai hingga kini menjadi Gubernur Papua Tengah, ia selalu meluangkan waktu hadir apabila ada pertemuan orang tua dengan pihak sekolah, maupun kegiatan lain di sekolah untuk mendampingi anaknya.
“Saya pastikan [hadir] waktu pertemuan dengan anak-anak dan orang-orang tua di sekolah, saya waktu bupati maupun gubernur saya pastikan ada di sekolah. Anak-anak saya lebih penting daripada orang-orang di luar sana. Jadi saya datang ke sekolah, saya tidak dikawal, saya bawa mobil sendiri, saya antar anak saya, saya temani, saya jelaskan semua tugas dia, saya bawa pulang,” kata Gubernur Nawipa.
Katanya, sesibuk apa pun orang tua apabila ada kegiatan di sekolah yang mewajibkan orang tua hadir, ia harus meluangkan waktu untuk datang mendampingi anaknya.
Sebab, banyak anak-anak yang tidak memiliki kesempatan mendapat pendampingan dari orang tua, karena mereka yatim piatu. Padahal mereka juga berharap didampingi orang tua.
Gubernur Nawipa pun mengisahkan semasa ia menjabat Bupati Paniai. Ketika itu, ada kasus perampasan senjata di di Baya Biru. Pada saat bersamaan, anaknya diwisuda (penamatan) di Sekolah Dasar (SD) untuk masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Anak saya harus wisuda dari SD ke SMP. saya harus putuskan ke Baya Biru daripada ikut wisuda anak saya di SPH (Sekolah Papua Harapan),” ucapnya.
Menurut Gubernur Nawipa, setelah masa jabatannya sebagai bupati selesai, Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paniai pun mewawancarai anaknya. Menanyakan hal apa yang paling terkesan bagi anaknya, dan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
Anak Gubernur Nawipa pun menyatakan bahwa yang paling berkesan baginya adalah ketika hari penamatannnya. Semua teman-temannya datang ditemani ayah dan ibu mereka. Namun ayahnya yang saat itu menjabat Bupati Paniai, tidak bisa menemaninya.
“Anak saya menangis dan dia kasi tahu (menyampaikan) bahwa bapak saya tidak datang pada saat saya wisuda, itu membuatnya menyesal seumur hidup. Ini menjadi teguran untuk saya. Saya merasa saya jadi bupati punya kewenangan besar tapi tidak ada arti, karena anak saya mengharapkan saya hadir pada saat itu [namun saya tidak hadir],” ujar Gubernur Nawipa.
Sejak saat itu lanjut Gubernur Nawipa, ia berjanji pada anaknya untuk selalu hadir pada setiap kegitan sekolah.
“Makanya, saya janji ko wisuda SMP saya akan datang, ko wisuda SMA saya akan datang, ko wisuda sarjana juga saya akan datang”.
Gubernur Nawipa mengatakan, meski orang tua hebat dan punya jabatan di kantor, di gereja, dan dalam pelayanan, akan tetapi kita tidak bisa memastikan anak berada di tempat yang baik dan tidak hadir saat mereka memutuhkan, orang tua itu bukan siapa-siapa di dunia ini.
“Jadi [sebagai] orang tua, saya setiap hari pagi antar anak [ke sekolah] sore jemput. Semua anak saya sekolah di sekolah SPH,” kata Gubernur Nawipa. (*)























Discussion about this post