Jayapura, Jubi – Ketua Parlemen di Vanuatu telah menerima dua mosi, yang satu berupaya untuk memberhentikan presiden, dan kedua soal perdana menteri republik tersebut.
Vanuatu dilanda ketidakstabilan politik, dengan empat perdana menteri terpilih dan diberhentikan dalam empat tahun terakhir melalui mosi tidak percaya, dan pemilihan umum cepat yang diadakan pada tahun 2022, setelah pembubaran parlemen.
Demikian pernyataan yang dikutip Jubi.id dari Rnz.co.nz, Sabtu (16/11/2024)
Pernyataan dari kantor Ketua Parlemen mengonfirmasi bahwa mosi tidak percaya terhadap Perdana Menteri Charlot Salwai diterima pada Selasa 12 November.
Usulan yang menyerukan pemecatan Presiden Nikenike Vurobaravu diterima minggu lalu pada Kamis, 7 November.
Kantor Ketua DPR mengatakan, bahwa dukungan untuk kedua usulan tersebut, memenuhi persyaratan konstitusional, dan akan didengar dalam jangka waktu pemberitahuan yang ditentukan.
Usulan terhadap Perdana Menteri Charlot Salwai berakhir pada hari Selasa, 19 November, sedangkan usulan terhadap Vurobaravu berakhir pada hari Kamis, 21 November.
Dalam perjalanannya menuju sebuah rapat sore ini, Ketua DPR Seoule Simeon mengatakan kepada RNZ Pacific bahwa mereka belum mengklarifikasi beberapa rincian.
“Saya akan bertemu dengan kantor penyelenggara pemilu untuk memastikan apakah mereka bisa melanjutkan pemanggilan elektoral atau tidak dan nanti akan kami informasikan,” kata Simeon.
Seorang juru bicara Kantor Perdana Menteri minggu ini mengeluarkan pernyataan yang menyebut tindakan oposisi itu “kekanak-kanakan”.
Baik oposisi, maupun pemerintah, mengklaim mempunyai dukungan mayoritas di parlemen.
Salwai mengklaim 33 dari 52 anggota parlemen, dan oposisi mengatakan mereka memiliki mayoritas absolut yang mendukung mosi tidak percaya mereka.
Media lokal melaporkan pembubaran parlemen juga dapat terjadi.

Sebenarnya gonta-ganti Perdana Menteri di Republik Vanuatu bukanlah sesuatu yang baru terjadi.
Tess Newton Cain, Associate Professor dan pimpinan Proyek Pacific Hub di Griffith Asia Institute di Queensland sebagaimana dilansir Rnz.co.nz beberapa waktu lalu, pernah menyentil soal pergantian PM yang pernah dipimpin Alatoi Ismael Kalsakau yang digulingkan, menyusul keputusan Pengadilan Tinggi, yang menolak banding dari pemerintahan sebelumnya, mempermasalahkan keabsahan mosi tidak percaya.
“Kami semua terkejut ketika parlemen bertemu pada hari Senin (4/9/2023), pada sore hari, jam 5 sore, waktu kava, bukan waktu normal bagi Parlemen untuk bertemu. Namun, parlemen memang bertemu dan terjadi pemungutan suara dan perdana menteri baru terpilih,” kata Tess Newton Cain, Associate Professor dan pimpinan Proyek Pacific Hub di Griffith Asia Institute di Queensland sebagaimana dilansir Rnz.co.nz yang dikutip Jubi.id Kamis (7/9/2023).
Menyusul keputusan tersebut pada Senin (4/9/2023), Sato Kilman menjadi Perdana Menteri untuk (rekor] masa jabatan kelima dan terlama sepanjang karier sebagai perdana menteri Vanuatu.
“Kilman adalah politisi yang sangat berpengalaman dan telah beberapa kali menjabat sebagai Perdana Menteri,” katanya. (*)























Discussion about this post