• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Pasifik

Penyair muda Tonga dan refleksi tentang Papua Barat

September 17, 2022
in Pasifik
Reading Time: 2 mins read
0
Penulis: - Editor:
Penyair Perempuan Tonga

Penyair perempuan Tonga, Anna Jane Vea membacakan puisinya yang berjudul “Dear Mom” dalam konser virtual bertajuk "Wan Musik Wan Sing" yang digelar pada 1 Desember 2020 untuk memperingat1 59 tahun peristiwa pengakuan status politik Papua Barat yang ditandai dengan pengibaran bendera Bintang Kejora di sejumlah kota di Tanah Papua pada 1 Desember 1961. - Tangkapan layar Youtube/Youngsolwara Pacific

0
SHARES
9
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Anna Jane Vea, penyair muda perempuan Tonga, telah berkarya sejak masih duduk di bangku sekolah setingkat SMP. Pada September 2016, ia menjadi wakil Tonga dalam peringatan 100 tahun Pertempuran Somme di Perancis. Sejak itu ia bersinar, menjadi salah satu intelektual dan seniman muda Pasifik yang punya perhatian kepada persoalan Papua Barat.

Kehormatan untuk menghadiri peringatan Pertempuran Somme diraih Anna Jane Vea setelah ia memenangi kompetisi menulis esai tentang Perang Dunia I yang diselenggarakan Komisi Tinggi Selandia Baru di Tonga. Ia menghadiri peringatan Pertempuran Somme itu bersama perwakilan pelajar dari Samoa, Niue, dan Kepulauan Cook.

Sejak saat itu, proses kreatif Anna Jane Vea terus bergulir dan merentang. Ia terus menulis puisi maupun esai tentang banyak hal. Perjalanan dan proses kreatif itu membawa Vea yang saat kini berusia 22 tahun bersentuhan dengan isu Papua Barat.

Pada 1 Desember 2020, Anna Jane Vea bergabung dengan para seniman muda dari berbagai negara Pasifik yang menggelar konser virtual bertajuk Wan Musik Wan Sing. Konser itu memperingat1 59 tahun peristiwa pengakuan status politik Papua Barat, yang ditandai dengan pengibaran bendera Bintang Kejora di sejumlah kota di Tanah Papua pada 1 Desember 1961.

Dalam konser Wan Musik Wan Sing itu, Anna Jane Vea membacakan puisinya yang berbahasa Inggris dan diberi judul “Dear Mom”. Puisi itu bercerita tentang perjumpaannya dengan seorang anak yang bersedih di tengah riuh perayaan kemerdekaan. Begini nukilan ringkasnya:

“ …

Seorang anak ada di kerumunan itu, wajahnya begitu muram.

BERITATERKAIT

Gempa bumi di Panama memicu kekhawatiran akan tsunami Pasifik

Samudra Pasifik bukanlah penyebab krisis iklim

Hak investor membatasi aksi iklim yang diserukan negara-negara Pasifik

Polinesia Prancis di Pasifik mengusulkan proses kemerdekaan di PBB

Aku yakin, tangisan di wajahnya bukanlah tangisan bahagia.

 

Sebelum ia menghilang, aku membelah kerumunan.

Aku penasaran.

Bagaimana mungkin perayaan kemerdekaan justru membuat seseorang bersedih?

 

‘Aku bukan dari sini,’ katanya.

‘Kamu dari mana?’

‘Aku dari Papua Barat,’ begitu jawabnya.

‘Dan kami masih berjuang untuk Hak Penentuan Nasib Sendiri’

 

Mama, ingatkah ketika kamu bercerita soal itu?

Waktu itu, aku selalu memikirkannya.

Lalu, perlahan pikiran itu menjadi salah satu ingatan saja, di dalam kepalaku.  

 

Hingga suatu kala, sebuah wajah muncul.

Pada tayangan berita jam 8 malam, persis di depanku.

Bukan dalam video gosip, bukan dalam koran.  

 

Sesuatu yang menakutkan sedang terjadi, begitu dalam, begitu celaka.

Itu bukan peristiwa 600 tahun yang lalu.

Itu sedang terjadi, seiring tarikan nafasku kali ini.

…”

Refleksi Anna Jane Vea tentang Papua Barat menunjukkan semakin meluasnya solidaritas dari kalangan generasi muda Pasifik bagi Papua Barat. Mereka pun saling berbagi kesadaran akan pentingnya Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi Orang Asli Papua. Dalam puisinya, Anna Jane Vea memilin gelisah dan duka di Papua Barat dengan cerita kemeriahan perayaan kemerdekaan di Tonga.

Tonga adalah sebuah kerajaan yang telah berdiri di Polinesia sejak 1845, dengan George Tupou I sebagai rajanya. Kapten Cook dari Inggris pertama kali tiba di Tonga pada 1856, membuat sejarah Tonga berkelindan dengan sejarah Kerajaan Inggris Raya. Sejak 1900, wilayah itu masuk dalam protektorat Inggris Raya.

Tonga akhirnya merdeka penuh pada 4 Juni 1970, dengan Nuku’alola sebagai ibu kotanya. Ia tetap menjadi kerajaan yang dipimpin seorang raja, namun pemerintahan sehari-hari dijalankan seorang perdana menteri.

Makna merdeka bagi seorang Anna Jane Vea tak lagi sama, setelah ia tahu ada yang sedang meratap di tengah keriuhan. Dengan puisinya, Anna Jane Vea menguak gelisah yang lain, bertakzim atas duka dan cita-cita saudara-saudaranya di tanah seberang. (*)

Continue Reading
Tags: PasifikPuisiSenimansolidaritas
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Gempa Bumi Panama

Gempa bumi di Panama memicu kekhawatiran akan tsunami Pasifik

October 10, 2026
Samudra Pasifik

Samudra Pasifik bukanlah penyebab krisis iklim

October 10, 2026
Hak investor

Hak investor membatasi aksi iklim yang diserukan negara-negara Pasifik

October 7, 2026

Polinesia Prancis di Pasifik mengusulkan proses kemerdekaan di PBB

October 7, 2026

Perempuan Pasifik serukan suara mereka lebih besar dalam pembicaraan iklim

October 6, 2026

PM Kepulauan Solomon berkomunikasi dengan Pemimpin Pasifik dan Global Jelang COP31

October 5, 2026

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara