Jakarta, Jubi – Pada ajang The 7th Indonesia China Energy Forum (ICEF), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, menegaskan komitmen Indonesia terkait transisi energi sebagai terobosan utama mewujudkan komitmen global mencapai dekarbonisasi.
Indonesia, katanya, sudah menunjukkan sikap serius atas upaya tersebut kepada Pemerintah Tiongkok.
“Kami telah mengembangkan Peta Jalan Emisi Nol Bersih atau net zero emission (NZE) yang komprehensif di sektor energi,” ujar Bahlil dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (28/12/2024).
Untuk itu Pemerintah Indonesia menawarkan Tiongkok peluang kolaborasi atas dasar besarnya potensi sumber daya Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang dimiliki oleh Indonesia.
Potensi yang ditawarkan antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kayan (13.000 MW) dan Mamberamo, Papua (24.000 MW).
“Ini sebuah potensi yang kita tawarkan ke China untuk bisa berkolaborasi bersama. Ini tidak mungkin kita lakukan sendiri,” kata Bahlil.
Aspek lain yang menjadi fokus pemerintah ke depan adalah hilirisasi yang berorientasi pada energi hijau dan industri hijau, di mana implementasi kebijakannya adalah energi listrik, lanjutnya.
Berdasarkan roadmap transisi energi, Bahlil mengatakan, pemerintah Indonesia menerapkan strategi menuju karbon netral dari sisi suplai, seperti fokus pada pembangkit listrik tenaga surya, hidro, panas bumi, dan hidrogen.
Pemerintah juga menyebutkan langkah lain yang juga diambil yaitu penghentian pembangkit listrik batubara secara bertahap, dan penggunaan teknologi rendah emisi, yaitu teknologi CCS/CCUS.
Dari sisi permintaan, antara lain pemanfaatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, pemanfaatan biofuel, dan penerapan manajemen energi.
Terkait penyelenggaraan Indonesia-Japan Energy Forum (IJEF) ke-8 Desember 2024, Bahlil menyebutnya sebagai ajang penting untuk memperkuat kerja sama strategis antara Indonesia dan Jepang di sektor energi.
Indonesia dan Jepang menurutnya dapat menggabungkan potensi mineral yang melimpah, mendorong inovasi, dan berkontribusi pada upaya global untuk mengatasi dampak perubahan iklim.
“Dengan menggabungkan sumber daya mineral Indonesia yang melimpah dengan keahlian teknologi Jepang, kedua negara dapat mendorong inovasi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan juga berkontribusi pada upaya global dalam memerangi perubahan iklim,” kata Bahlil.
Indonesia, kata Bahlil, berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih (net zero emission) dengan target global pada tahun 2050, sementara Indonesia menetapkan tahun 2060 sebagai batas waktu untuk mencapai target tersebut.
“Indonesia telah menunjukkan komitmennya dalam pengurangan emisi dengan target 915 juta ton CO2 pada 2030, termasuk kontribusi sektor energi sebesar 358 juta ton. Sementara itu pencapaian Indonesia pada 2023, di mana emisi berhasil dikurangi sebesar 128 juta ton melalui efisiensi energi, pengembangan energi terbarukan, dan teknologi rendah karbon,” katanya. (*)






















Discussion about this post