Nabire, Jubi – Wabah ASF (African Swine Fever) atau Penyakit Demam Babi Afrika melanda Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Dalam tiga bulan, dari 7 November 2024 hingga 9 Januari 2025, tercatat sebanyak 2.054 ekor babi milik peternak dan warga mati akibat wabah tersebut.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nabire drh I Dewa Ayu Dwita yang ditemui Jubi di kantornya, Jamat (10/1/2025) mengatakan, kematian 2.054 babi itu tersebar pada empat distrik, yaitu Distrik Nabire, Nabire Barat, Wanggar, dan Teluk Kimi. Keempat distrik telah ditetapkan sebagai Zona Merah.
“Kita sudah mengeluarkan imbauan dan mencegah masyarakat agar tidak menjual babi yang sakit dan penjual tidak membeli babi yang sakit, sebab itu akan memperluas penularan,” katanya.
Dwita mengingatkan wabah ASF hanya bisa dituntaskan atas dukungan semua masyarakat, baik peternakan agar menjaga ternaknya maupun pelaku usaha pemotong agar tidak membeli ternak yang sakit, karena akan membuat babi lainnya tertular dan mati.
“Saya berharap juga kepada para peternak agar dapat memberikan makanan dari hasil kebun supaya tidak tertular virus ASF,” ujarnya.
Dwita menceritakan, setelah mendapatkan laporan ada babi di Nabire yang sakit pada pertengahan Oktober 2024, petugas dari Dinas Peternakan mendatangi lokasi dan melakukan penyuntikan. Namun babi itu akhirnya mati. Sejak itu kematian babi terus-menerus meningkat.

Akhirnya Dinas Peternakan Kabupaten Nabire memutuskan mengambil sampel darah pada 4 November 2024 dan membawanya ke Balai Veterinar di Jayapura untuk uji VCR ASF. Hasilnya keluar pada 8 November 2024 positif ASF.
“Karena hasil sudah dinyatakan positif harus dilakukan penanganan berdasarkan SOP (Standard Operating Prosedure) yang telah ditetapkan Kementerian Pertanian, karena penyakit ASF masuk kategori penyakit hewan menular strategis sehingga memerlukan penanganan sesuai SOP yang telah ditetapkan Kementrian Pertanian dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Nabire,” katanya.
Dwita menduga wabah ASF yang melanda Nabire berasal dari pemasok babi atau tentengan dari daerah luar. Mobilisassi babi di Kabupaten Nabire berasal ari kabupaten tetangga, seperti Jayapura, Manokwari, Serui, Biak, dan Timika.
“Mereka didatangkan melalui kapal dan pesawat sehingga terdampak ke Nabire,” ujarnya.
Langkah pencegahan
Dwita menjelaskan untuk mencegahan pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian serta Dinas Perkebunan dan Peternakan Pemprov Papua untuk pendampingan, karena Pemprov Papua sudah pernah menangani kasus ASF.
“Jadi langkah berikutnya kami melakukan komunikasi ke pimpinan daerah sehingga diterbitkanlah Surat Keputusan Bupati Nabire Nomor 828 tanggal 14 November 2024 tentang Penetapan Status Keadaan Darurat Wabah Penyakit ASF di Kabupaten Nabire atas dasar uji laboratorium itu,” katanya.

SK Penetapan Status Darurat dilanjutkan dengan SK Nomor 283 tahun 2024 tentang Pembentukan Satuan Tugas Penanggulangan Wabah ASF di Kabupaten Nabire pada 15 November 2024 yang melibatkan instansi-instansi terkait.
Setalah itu Bupati Nabire juga mengeluarkan Surat Edaran Nomor 500.7.7.2.4/1765/Z tentang Pencegahan Pengendalian dan Penanggulangan Wabah Penyakit ASF di Kabuapaten Nabire.
“Setelah surat edaran dikeluarkan, kami memperketat pelarangan, pemasukan dan pengeluaran ternak babi dan prodak olahannya di Kabupaten Nabire pada pintu-pintu masuk jalur transportasi darat dan udara,” katanya.
Dinas Peternakan juga membuat Posko Penaggulangan Wabah ASF di halaman Kantor Dinas Peternakan Kabupaten Nabire.
“Langkah selanjutnya kami juga menetapkan lokasi penguburan di Kampung Kali Bumi, Distrik Nabire Barat seluas 1 hektare. Setelah wabah kematian babi menyebar, kami mengevakuasi babi-babi yang mati di kandang untuk dikuburkan di sana,” ujarnya.
Agar penguburan babi juga dapat terkontrol, Dinas peternakan juga menyediakan dan mengoperasikan kendaraan serta alat untuk mengevakuasi penguburan massal, seperti ekskavator (mesin pengeruk), pick up, dan truck mini untuk mobilisasi pengangkutan evakuasi,” katanya.
Dinas Peternakan juga melakukan dekontaminasi dengan penyemprotan disinveksi terhadap kandang-kandang babi, serta jalur evakuasi babi.
“Kalau petugas ambil babi dari kandang keluar, setelah itu petugas melakukan penyemprotan, kemudian petugas menyemprot peralatan dan proses penguburannya juga disemprot,” katanya.
Dwita mengatakan pihaknya juga memberikan disinvektan kepada peternak untuk melakukan penyemprotan secara mandiri.
“Agar mengurangi penularan, karena petugas kami sebagian terlibat dalam evakuasi. Jangan sampai petugas kami membawa virus ke kandang babi sehingga dilakukan penyemprotan mandiri,” katanya.
Selain itu Dinas Peternakan juga mengedukasi peternak menggunakan injeksi serum konvalesen ASF secara mandiri. Sebanyak 20.288 dosis serum konvalesen sudah dibagikan dari target 40.000 dosis. Injeksi serum konvalesen dilakukan kepada peternakan yang belum mengalami kematian untuk pencegahan.
“Kami juga melakukan edukasi kepada peternak untuk memperketat keamanan, tidak boleh semua orang masuk ke dalam kandang, sanitasinya juga dijaga,” ujarnya.
I Dewa Ayu Dwita mengatakan, pihaknya juga melakukan surveilen dengan sampel darah untuk memantau situasi penyakit.
“Hanya saja kami baru melakukan satu kali yang harusnya beberapa tahap, tetapi keterbatasan anggaran. Dana penanganan dibantu Pemkab Nabire untuk penanggulangan, tetapi anggaran itu belum mencukupi untuk penanggulangan wabah ASF enam bulan ke depan,” katanya.
Karena itu, ia berharap dalam enam bulan hingga April 2025 situasi mulai melandai.
“Kami juga sangat mengharapkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Papau Tengah agar bisa segara teratasi. Itulah upaya-upaya yang sudah dilakukan, sampai detik ini kami masih terus bergerak,” katanya.
Virus sangat mematikan
Dokter Hewan Irvan Arief Palo dari Posko Darurat ASF Kabupaten Nabire mengatakan penyebaran virus ISF di Nabire sudah sangat luas. Virus ASF sifatnya sangat mematikan hewan ternak babi dan dapat menyebar dengan luas dan cepat.

“Jadi mortality rise atau angka kematian yang disebabkan oleh virus ini sangat tinggi, yakni 100 persen. Memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini, tetapi kita dapat mencegah dengan sanitasi kandang yang bersih dan baik yang dilakukan setiap pagi dan sore,” katanya.
Selain itu juga bisa dicegah dengan membuat asap di kendang untuk menghindari dan mengantisipasi adanya lalat di setiap kandang.
Meski sangat mematikan kepada ternak babi, Palo menyampaikan bahwa penyakit virus ASF yangi disebabkan oleh virus asthivirus tersebut tidak menular kepada manusia. Jika dagingnya dikonsumsi oleh manusia, manusia tidak akan tertular, karena sifatnya bukan zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia, atau sebaliknya).
“Dia hanya dapat menular dari babi yang satu ke babi yang lain dengan angka kematian yang tinggi, sifatnya angkut. Dia akan positif pada hari pertama sampai hari ketiga, mengalami demam nafsu makan yang menurun anoreksia, lalu dia mengalami demam tinggi sehingga namanya demam babi Afrika,” ujarnya.
Palo mengatakan, ciri khas dari penyakit ini adalah merah-merah dan demam tinggi. Pada hari keempat babi yang terjangkit biasanya tidak mau makan, disertai diare, lalu mati.
Menurut Palo, wabah ASF hanya menyebabkan kerugian ekonomi yang besar, karena itu masuk ke dalam daftar penyakit manular hewan strategis.
“Kalau babi banyak mati dan masyarakat tidak dapat pelihara bisa menciptakan kriminalitas yang tinggi. Terjadi rasa sakit hati dan kecemburan sosial yang meningkat sehingga menyebabkan perjadinya konflik horisontal. Hal-hal semacam ini yang harus kita hindari dengan memberikan edukasi kepada masyarakat agar jangan panik,” katanya.
Karena itu, Palo mengimbau masyarakat agar tidak panik. Dinas Peternakan, katanya, sudah memberikan serum untuk mencegah dan menekan agar wabah virus ASF tidak semakin meluas.
Ia mengimbau masyarakat untuk membantu dengan tidak menyebarkan penyakit tersebut. Caranya dengan menjaga sanitasi kandang dan menjaga lalu lintas ternak.
“Kita mau membawa hewan ke satu wilayah, kita harus datang, laporkan dulu ke Dinas Peternakan, dilakukan rapid test, pemeriksaan cepat atau tes cepat. Baru nanti Dinas akan mengeluarkan surat. Surat yang menyatakan bahwa hewan tersebut dapat dibawa untuk melintasi antar kabupaten. Dengan begitu, kita mencegah wabah ASF di Papua Tengah dan Papua pada umumnya,” katanya.
Palo menyampaikan saat ini angka kasus virus ASF di Kabupaten Nabire sudah landai. “Sudah turun dan bertahan pada angka 2.054 karena kegiatan-kegiatan yang sudah kita lakukan dari [akhir] tahun kemarin,” ujarnya.
ASF (African Swine Fever) atau Penyakit Demam Babi Afrika adalah penyakit yang menular bagi seluruh jenis babi. Wabah ini disebabkan oleh virus di beberapa negara dengan populasi babi yang tinggi.
ASF pertama di Indonesia muncul pada 2019, diumumkan secara resmi melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 820/KPTS/PK.320/M/12/2019 tentang Pernyataan Wabah Penyakit Demam Babi Afrika (African Swine Fever) pada Beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara. (*)

























Discussion about this post