Jayapura, Jubi – Pemerintah Provinsi Papua Selatan bersama Universitas Ottow Geissler Papua, secara khusus dengan Fakultas Pertanian Kehutanan dan Kelautan, menandatangani MoU atau Nota Kesepahaman untuk melakukan kajian-kajian pengembangan di sektor pertanian kehutanan dan kelautan di Provinsi Papua Selatan.
Penandatanganan MoU itu berlangsung di sela-sela seminar pembangunan yang di selenggarakan Universitas Ottow Geissler di salah satu Hotel di Kota Jayapura, Papua pada Jumat (21/3/2025).
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah atau Bapperida Provinsi Papua Selatan, Dr. Ulmi Listianingsih Handono Wayeni, mengatakan pihaknya bersyukur hari ini dalam seminar pembangunan bisa sekaligus menandatangani MoU Pemerintah Provinsi Papua Selatan dengan Universitas Ottow Geissler, secara khusus dalam hal MOU ini dengan Fakultas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan untuk melakukan kerjasama.

“Tujuan kita ini supaya secara bersama-sama meningkatkan sumber daya keilmuan bagi para bapak ibu pendidk khususnya dosen dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tapi juga hasil kajian-kajian itu membantu dalam pembangunan di Provinsi Papua Selatan,” kata Wayeni usai melakukan tanda tangan MoU itu.
Kepala Bapperida Ulmi Wayeni menyebutkan sebuah universitas tanpa pekerjaan kajian-kajian akan menghambat kinerja maupun kepangkatan dari dosen atau pendidiknya. Oleh karena itu kerja sama dengan Universitas Ottow Geissler ini menjadi penting untuk kajian kedepan bersama Provinsi Papua Selatan yang telah ditetapkan menjadi Food Estate atau lumbung pangan nasional.
“Kita lihat bahwa pentingnya pertanian, perikanan, kalautan untuk dikembangkan. Jadi bukan hanya berbicara pengembangan infrastruktur dan rencana pembangunan ke depan, tapi kita juga bicara pembangunan sumber daya manusia dan sumber daya alam serta bagaimana kita manfaatkan hal itu,” ujarnya.
Wayeni menyebutkan tujuan Pemprov Papua Selatan melakukan kerja sama itu agar ada bantuan dari perguruan tinggi. Bukan hanya Universitas Cenderawasih atau universitas lainnya, tetapi pihaknya khusus melihat potensi Universitas Ottow Geissler yang diklaim sangat luar biasa.
Menurut dia Universitas Ottow Geissler fakultasnya sudah mempunyai laboratorium sehingga kerjasama kedepan akan lebih bergema di Papua.
“Artinya dalam hal kajian-kajian [selama ini] kita hanya mengundang UGM, UI tapi kita punya universitas sendiri yang ada di negeri ini [juga perlu] memulai kajian-kajian dan membuat produk dari anak negeri sendiri. Kita harus kerja sama sehingga kedepan perlu lebih banyak berdiskusi untuk mengatur langkah dan strateginya,” katanya.
Menurut Wayeni kajian ini tidak hanya bicara pertanian tapi juga bicara perikanan, karena itu pihaknya harus mempunyai masterplan di setiap sektor. “Karena bicara pertanian maka kita punya masterplan untuk memperjelas pemetaan di setiap sektor,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terimakasih kepada pihak Universitas Ottow Geissler yang mau bersedia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua Selatan.
Rektor Universitas Ottow Geissler, Dr. Pilipus Ramandei, dalam kegiatan seminar itu mengatakan MoU adalah titik berangkat kegiatan selanjutnya.
“Kita sudah tantangani MoU dengan Pemerintah Provinsi Papua Selatan untuk membangun kerjasama dengan Universitas Ottow Geissler Papua. Secara khusus kerjasama ini dalam bidang pertanian, sehingga dengan kerja ini dari universitas dapat memberikan kajian-kajian dalam pengembangan pertanian di Papua Selatan,” katanya.
Ramandei mengatakan setelah seminar ini akan dilaksanakan beberapa kegiatan lanjutan bersama dengan PT Freeport, salah satunya adalah kerjasama di bidang pendidikan. Setelah kegiatan seminar akan ada program kunjungan ke tambang PTFI.
“Jadi ada keterwakilan dari mahasiswa dan dari program studi dan juga pimpinan universitas untuk melakukan kunjungan tambang di Tembagapura. Setelah itu baru nanti ditindaklanjuti dengan kerjasama dan penerapan kontrak atau Perjanjian Kerja Sama (PKS),” kata Rektor Universitas Ottow Geissler. (*)





















Discussion about this post