Sentani, Jubi — Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menyediakan fasilitas penunjang layanan jaringan komunikasi bagi masyarakat di sejumlah kampung.
Fasilitas penunjang layanan tersebut berupa Tower dan Base Transceiver Station (BTS) yang terpasang atau terbangun pada lokasi serta titik yang telah ditetapkan.
Kehadiran fasilitas penunjang tersebut juga berdampak bagi kebutuhan masyarakat dalam hal komunikasi dari tempat tinggal dan wilayah lain yang dahulunya susah terjangkau dengan komunikasi.
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Jayapura Gustaf Griapon menjelaskan awal mula proses pembangunan fasilitas dan jaringan telekomunikasi tersebut berdasarkan usulan masyarakat yang tinggal di kampung-kampung yang sangat sulit dijangkau dengan jaringan telekomunikasi.
“Usulan mereka di setiap kampung melalui Musrenbang di kampung, lalu dilanjutkan ke tingkat distrik dan kabupaten hingga pusat, dimulai sejak 2022 dan berjalan secara bertahap hingga saat ini,” ujar Griapon di Sentani, Selasa (10/9/2024).

Ia menjelaskan pada 2022 ada 41 site tower yang berhasil di bangun lalu dilanjutkan pada 2024 ini ada 19 site tower yang terbangun, dari total 70 site tower yang akan dibangun di Kabupaten Jayapura. Total saat ini sudah 60 site tower yang merupakan kolaborasi program Bakti Kominfo.
Menurut Griapon ada kendala yang di hadapi pada awal sosialisasi kepada masyarakat. Persoalan hak ulayat menjadi hal yang penting diperhatikan, selain itu masyarakat juga diminta untuk terlibat secara langsung saat proses pembangunan dan ketika fasilitas tersebut digunakan.
Sebagian besar lahan yang digunakan untuk pembangunan fasilitas penunjang layanan jaringan komunikasi adalah lahan yang sudah disepakati dengan perjanjian kerja sama antara pemilik hak ulayat dan pemerintah, serta pihak ketiga pengelola fasilitas tersebut.
“Ini berlaku untuk semua tempat yang digunakan lahannya,” katanya.
Griapon mengatakan ada banyak dampak positif yang dirasakan masyarakat di kampung-kampung dengan kehadiran fasilitas penunjang layanan jaringan komunikasi tersebut.
Menurutnya, masyarakat yang tadinya kesulitan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat mereka, bahkan pihak lain di luar kamung, saat ini bisa dengan mudah untuk berkomunikasi dengan ‘video call’, termasuk pemanfaatan jaringan internet melalui fasilitas handphone dan komputer.
Menurut Griapon ada perbedaan fasilitas yang dibangun saat ini. Misalnya menara tower 72 meter bisa menjangkau kurang lebih satu kilometer dengan jumlah pengguna 1.000-5.000. Sedangkan BTS hanya bisa menjangkau 100-500 meter dengan 50-100 pengguna.

“Handphone poliponik (non android) dapat gunakan jaringan GSM 2G dan internet 4G, sedangkan jaringan BTS tidak bisa mengunakan jaringan 2G,” ujarnya.
Kerja sama yang dimaksud, kata Griapon, pemilik hak ulayat mendapat porsi sebagai penjaga tower. Karena lahan hibah yang digunakan seluas 20 X 20 meter persegi.
Hal ini, lanjutnya, sedang dikomunikasikan dengan pihak Bakti Kominfo, karena akan ditunjuk langsung pihak ketiga sebagai vendor dan yang bertanggung jawab terhadap site yang dibangun.
“Termasuk pekerja di setiap site tower, tidak hanya sebagai penjaga tower saja, tetapi juga ada sejumlah pelatihan usaha peningkatan ekonomi yang nantinya diberikan kepada masyarakat di sekitar site tower itu berdiri,” katanya.
Sebelumnya sudah ada pelatihan usaha jualan pulsa, elektronik tiket, pembayaran pulsa telepon, pulsa listrik hingga tagihan Indihome.
“Bahkan melibatkan pihak perbankan dalam hal ini Bank Papua yang akan mendukung proses usaha masyarakat di setiap kampung yang sudah menghibahkan hak ulayatnya untuk pembangunan fasilitas penunjang layanan jaringan komunikasi,” katanya.
Griapon berharap fasilitas penunjang layanan jaringan komunikasi yang telah terbangun di empat wilayah pembangunan di Kabupaten Jayapura yang mencakup 14 Distrik dengan 60 site ini dapat digunakan dan membantu serta mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya dengan baik. Baik untuk komunikasi maupun untuk peningkatan ekonomi secara online.

“Kita masih berkoordinasi dan komunikasi dengan sejumlah pihak ketiga di bawah Bakti Kominfo agar seluruh proses yang berjalan nantinya dengan memanfaatkan hak ulayat masyarakat, wajib mengikutkan masyarakat setempat sebagai pemilik hak ulayat,” katanya.
Kepala Distrik Airu Jems Bano mengatakan terbangunnya jaringan komunikasi di sejumlah kampung di wilayah distrik yang dipimpinnya sangat membantu masyarakatnya bisa berkomunikasi dengan fasilitas yang tersedia.
“Yang lalu, handphone ini hanya pajangan saja atau hanya digunakan untuk mendokumentasi kegiatan ataupun berswa foto saja. Upluod-nya nanti setelah di tempat yang ada jaringan internet. Sekarang sudah bisa ‘video call’ dengan aplikasi WhatsApp, bisa mengirim foto di medsos, bahkan dokumen lain yang diperlukan,” ujarnya.
Tokoh masyarakat Kampung Pagai Mathius Huranhuran mengaku sangat berteri makasih kepada Pemkab Jayapura yang telah membangun jaringan komunikasi di Kampung Pagai.
Ia mengatakan jarak antara kota dan kampung sudah sangat jauh dan masyarakat terpisah dengan segala bentuk komunikasi.
“Terbangunnya menara komunikasi ini sudah sangat membantu masyarakat untuk berkomunikasi dengan siapa saja, baik di kampung ini maupun di ibu kota distrik hingga ke kabupaten. Masyarakat di kampung pagai juga sudah melakukan ibadah syukur atas terbangunnya menara komunikasi ini,” ujarnya. (*)





















Discussion about this post