Jayapura, Jubi – Himpunan Mahasiswa Yahukimo atau HMY kota studi Wamena, Kabupaten Jayawijaya menyalurkan bantuan bahan makanan kepada 698 pengungsi di Kampung Halihalo, Distrik Tangma, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Jumat (27/6/2025).
Koodinator relawan mahasiswa ,Wolman Wolom menjelaskan, HMY melakukan penggalangan dana untuk bantuan kemanusiaan bagi warga yang mengungsi di Yahukimo. Penggalangan dana berlangsung pada 23 dan 24 Juni 2025.
“Puji Tuhan, dari hasil penggalangan dana tersebut kami mendapatkan sekitar Rp13 huta. Karena kebutuhan yang mendesak bagi warga pengungsi sehingga kami belanja bahan makan seperti beras, minyak goreng, mie instan, dan sejumlah kebutuhan lain, kemudian kami kirim ke Yahukimo,” kata Wolamn Wolon kepada Jubi melalui panggilan telepon, Senin (30/6/2025).
Menurutnya, penyaluran bantuan yang dilakukan mahasiswa itu didampingi Direktur Eksekutif Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem.
“Kami membawa bantuan itu langsung ke sana dan memberikannya kepada warga pengungsi. Kami juga memberikan dukungan dan semangat kepada warga pengungsi. Kami juga berdiskusi dengan mereka sambil memberikan penguatan,” ucapnya.
Katanya, warga yang mengungsi itu terdiri dari 519 orang dewasa dan 179 anak-anak. Pengungsi itu adalah warga jemaat Gereja Kemah Injil atau KINGMI di Tanah Papua, Klasis Tangma.
“Berdasarkan data gereja, warga jemaat Gereja KINGMI Puno yang mengungsi sekitar 270 orang, terdiri dari 90 anak-anak dan 180 orang dewasa. Warga jemaat Gereja KINGMI Aleleng 195 orang, terdiri dari 45banak-anak dan 150 orang dewasa. Warga jemaat Gereja KINGMI Halihalo yang mengungsi 233 orang, terdiri dari 44 anak-anak dan 189 orang dewasa,” ucapnya.
Sementara itu, penanggung Jawab relawan kemanusiaan dari HMY, Tefen Pahabol mengatakan warga tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Mereka tidak bisa berkebun atau mencari makan, karena setiap hari aparat keamanan terus memantau menggunakan mobil patroli sejak pagi hingga sore.
“Kami masuk karena didampingi bapak Theo Hesegem. Kalau tidak [didampingi] mungkin kami tidak bisa masuk juga di tempat pengungsian membawa bantuan,” kata Pahabol.
Menurutnya, warga pengungsi kesulitan mendapat bahan makanan. Situasi itu dikhawatirkan dapat memperburuk keadaan. Apalagi dengan kehadiran aparat keamanan yang berjaga di sekitar pengungsian dengan mendirikan beberapa pos keamanan di sana.
“Ini membuat warga sipil trauma secara psikologis, terutama karena kehadiran aparat bersenjata di kawasan pengungsian,” ujarnya.
HMJ meminta Pemerintah Kabupaten Yahukimo memberikan perhatian serius kepada warga yang mengungsi, akibat konflik bersenjata antara Tentara Nasional Indonesia atau TNI dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat- Organisasi Papua Merdeka atau TPNPB-OPM.
“Pemerintah Yahukimo tolong memberikan perhatian, untuk makan minum bagi pengungsi, karena mereka adalah warga sipil yang terdampak konflik bersenjata itu,” ucapnya. (*)























Discussion about this post