Wamena, Jubi – Puluhan warga yang terdiri dari keluarga korban, mahasiswa, aktivis, pelajar, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda asal Yahukimo, serta berbagai solidaritas lain, menggelar aksi demo damai di Jalan Trikora – Patimura, Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, pada Jumat (11/10/2024).
Aksi ini dilakukan sebagai respons atas penembakan yang menewaskan Tobias Silak dan melukai Naro Dapla, dua warga asli Papua, yang terjadi pada 20 Agustus 2024 lalu di Pos Brimob Sekla, Yahukimo. Peristiwa ini diduga dilakukan oleh oknum anggota Brimob dari Satgas Damai Cartenz.
Koordinator aksi, Mijnus K. Ibage, menjelaskan bahwa aksi tersebut adalah bentuk solidaritas dan tuntutan keadilan bagi almarhum Tobias Silak dan Naro Dapla.
“Penembakan ini terjadi sekitar pukul 21.19 Waktu Papua (WP), dan Tobias Silak meninggal dunia akibat terkena peluru, sedangkan Naro Dapla mengalami luka-luka akibat tembakan di paha dan lengan,” jelas Ibage.
Menurut Ibage, kasus penembakan terhadap warga sipil di Yahukimo semakin sering terjadi. Dalam kurun waktu 2021 hingga 2024, setidaknya telah terjadi lima kasus kekerasan yang melibatkan TNI/Polri terhadap masyarakat adat.
“Sayangnya, tidak ada satu pun pelaku yang diadili. Kekerasan ini terus tumbuh subur tanpa ada penyelesaian,” tegasnya.
Jibrison Silak, perwakilan keluarga korban di Wamena, turut menyuarakan tuntutan agar pelaku penembakan segera diadili dan dipecat dari kesatuannya.
“Penembakan ini tidak bisa dianggap sebagai ketidaksengajaan. Ini adalah tindakan yang disengaja dan tidak manusiawi,” ujar Jibrison.
Selain itu, Jibrison juga mendesak agar Pos Brimob di Sekla dan Kali Pondo segera ditarik kembali, mengingat keberadaan pos tersebut seringkali menjadi sumber kekerasan terhadap masyarakat setempat.
“Selama empat tahun terakhir, banyak kasus penembakan yang terjadi di sana, namun para pelaku justru tidak pernah diproses hukum. Kami juga menilai Kapolres Yahukimo telah gagal melindungi masyarakat,” tambahnya.
Aksi demo tersebut juga menghasilkan beberapa tuntutan resmi dari Front Justice for Tobias Silak. Mereka mendesak agar pelaku penembakan segera diadili, Kapolres Yahukimo dicopot dari jabatannya, dan pos-pos Brimob yang berada di wilayah Yahukimo segera ditarik.
“Kami juga menyerukan kepada masyarakat Yahukimo untuk tidak membayar tebusan atas nyawa manusia yang hilang akibat tindakan aparat keamanan,” ujar Jibrison dalam pernyataan sikapnya.
Aksi demo damai ini merupakan bentuk protes atas kekerasan yang terus menimpa masyarakat adat di Papua, terutama di Kabupaten Yahukimo. Front Justice for Tobias Silak ini berharap agar pemerintah dan aparat hukum segera merespons tuntutan mereka untuk menghentikan kekerasan dan memastikan keadilan bagi para korban. (*)





















Discussion about this post