Sentani, Jubi – Jurnalis senior dan Direktur Kompas Institute, Andreas Maryoto mengatakan berita ekonomi jarang viral, pembacanya tidak banyak. Akan tetapi pembacanya adalah para pengambil keputusan atau kebijakan.
Pernyataan itu disampaikan Andreas Maryoto saat menjadi pemateri dalam kegiatan Capacity Building Kantor Perwakilan Bank Indonesia Papua di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (3/7/2026).
“Jangan berkecil hati, kecewa tidak viral, Teman-teman harus bangga menulis berita ekonomi [karena] pembacanya lebih kelompok yang benar-benar butuh, misalnya Bank Indonesia,” kata Andreas Maryoto.
Menurutnya, agar berita ekonomi bisa banyak pembaca mesti menggambarkan kondisi saat ini yang dekat dengan masyarakat, mengenai harga, juga gaji.
Misalnya, ketika Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data inflasi, wartawan bisa mengecek langsung di lapangan. Misalnya naiknya harga cabai di pasar, bertanya ke teman atau tetangga.
Ia mengatakan, wartawan bisa membuatkan berita soal kenaikan harga sebagai informasi awal. Namun, berita yang ditulis akan lebih kuat apabila didukung data dari BPS atau Bank Indonesia.
“Jadi berita yang ditulis terkonfirmasi dengan data BPS yang menyebutkan kenaikan harga-harga [komoditas],” ucapnya.
Katanya, berita ekonomi bukan hanya tentang angka, tetapi bagaimana melihat fenomena atau masalah sosial dengan sudut pandang ekonomi. Misalnya kasus kriminal, pencurian motor meningkat yang kebanyakan motor matic.
“Wartawan bisa melihat dari sisi ekonomi, kenapa kasus curanmor meningkat dan kenapa jenis matic yang dicuri,” ujarnya.
Andreas Maryoto berbagi pengalaman liputannya di suatu kegiatan kecil, yang ternyata ia bertemu dengan pelaku usaha yang sudah kualitas ekspor.
“Berita ekonomi juga harus berdampak, bisa menginspirasi masyarakat sekitar untuk berusaha,” katanya.
Ia juga membahas ekonomi media, selain bekerja sama dengan pemerintah daerah, media maupun organisasi media dapat berjuang bersama-sama dengan cara fellowship atau riset.
“Jangan hanya menghemat, tetapi mencari pendapatan baru,” ucap Andreas Maryoto.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono mengatakan, wartawan berperan penting bukan hanya sebagai penyampai informasi.
Namun wartawan juga jembatan penghubung antara kebijakan publik yang dikeluarkan lembaga pemerintah atau negara, dengan pemahaman masyarakat terhadap respons kebijakan.
“Media menjadi salah satu penghubung utama dalam menghadirkan berita yang objektif, konstruktif kepada seluruh masyarakat,” kata Warsono.
Menurutnya, pers terus berkontribusi untuk mengangkat berbagai potensi daerah mulai dari investasi, pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif hingga inovasi pembangunan.
Melalui Capacity Building ini, ia berharap bisa memperkuat di negeri antara Bank Indonesia dan insan pers di Provinsi Papua.
“Semoga forum ini bisa memberikan manfaat yang nyata, mempererat kemitraan yang telah terjalin dan menjadi langkah bersama dalam menghadirkan informasi ekonomi yang akurat, terpercaya, bermanfaat bagi kemajuan tanah Papua,” ucapnya. (*)






















Discussion about this post