Jayapura, Jubi – Agresi militer Israel masih terus berlanjut terhadap Palestina. Agresi tersebut telah menewaskan 44.800 jiwa, sejak 7 Oktober 2023.
Rezim Zionis Israel tidak memedulikan desakan berbagai negara dan organisasi internasional terhadap penghentikan aksi keji tersebut. Mereka malah terus menggempur wilayah kantong yang terisolasi.
Indonesia menegaskan pentingnya peran komunitas internasional dalam menekan Israel mematuhi gencatan senjata. Itu untuk menghentikan pertumpahan darah dan mencegah kehancuran lebih besar di Jalur Gaza.
Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir dalam Sidang Darurat Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyatakan banyak nyawa yang dapat diselamatkan jika Israel menghormati hukum internasional. Karena itu, Indonesia mendukung pengesahan kedua Resolusi Majelis Umum PBB mengenai gencatan senjata di Gaza, 11 Desember 2024.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga menyerukan penarikan total pasukan Israel dari Jalur Gaza. Mereka harus menyerahkan kendali atas wilayah tersebut kepada Otoritas Palestina.
Abbas juga menyoroti peningkatan aksi militer Israel di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Aksi itu meliputi pemukim ilegal, pembunuhan, penggerebekan di kota, desa, dan kamp pengungsi Palestina, serta perluasan permukiman Israel di lokasi pendudukan.
Abbas menekankan pentingnya pelaksanaan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2735 tentang gencatan senjata dan penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta percepatan pengiriman bantuan kemanusiaan. Dia juga meminta dukungan internasional terhadap pengakuan Palestina sebagai negara berdaulat dan memiliki keanggotaan penuh di PBB.
Juru Bicara Brigade Ezzeddin al-Qassam Abu Obeidah menyerukan peningkatan operasi antizionis di Tepi Barat. Brigade Ezzeddin al-Qassam merupakan sayap militer kelompok Hamas.
Obeidah melalui sebuah pesannya meminta para pejuang muda meningkatkan perlawanan mereka di Tepi Barat sebagai dukungan terhadap perjuangan di Jalur Gaza. Dia juga meminta para pejuang muda menggagalkan rencana pencaplokan wilayah di Tepi Barat dan menerapkan realitas baru pada negara Palestina.
Sementara itu, Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump berjanji menyelesaikan sejumlah krisis di Timur Tengah, termasuk agresi militer Israel terhadap Palestina. Dia yakin mampu menyelesaikan berbagai kemelut internasional tersebut.
“Saat ini terjadi perkembangan sangat produktif di Timur Tengah. Saya rasa ini [situasinya] lebih rumit jika dibandingkan dengan konflik Rusia-Ukraina, tetapi saya juga merasa ini lebih mudah diselesaikan,” kata Trump.
Trump mengaku Washington tidak menghendaki ada orang terbunuh. Itu tidak hanya di Palestina dan Israel, ataupun wilayah lain di Timur Tengah, tetapi juga di Rusia dan Ukraina. (*)





















Discussion about this post