• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Domberai

Festival Film Papua: Merekam penghormatan suku Moi terhadap tanah

August 10, 2026
in Domberai
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Gamaliel M. Kaliele - Editor: Arjuna Pademme
Festival Film Papua

Suasana saat pemutaran film "Menanam Kehidupan” di kantor Belantara Rakyat, di Sorong, Provinsi Papua Barat, sebagai rangkaian Festival Film Papua ke-8, Minggu (09/08/2026) - Jubi/Gamaliel M Kaliele

0
SHARES
135
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Sorong, Jubi – Dalam rangkan Festival Film Papua Ke-8 pada 2026, Papuan Voices wilayah Sorong, Provinsi Papua Barat Daya menggelar pemutaran film dokumenter berjudul “Menanam Kehidupan”. Film ini merekam pengetahuan masyarakat adat Moi, khususnya sub-suku Moi Salkma tentang bagaimana tanah leluhur dipahami sebagai sumber kehidupan yang harus dihormati, dilindungi, dimanfaatkan secara bijak, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Film tersebut diputar di Bengkel Budaya Papua atau yang dikenal sebagai Belantara Rakyat, Minggu malam (9/8/2026).

Film ini merekam kehidupan masyarakat adat Moi Salkma dari sudut pandang mereka sendiri. Bagi Suku Moi tanah tidak hanya sebagai sebidang wilayah yang memiliki nilai ekonomi.

Akan tetapi sebagai ruang hidup yang menyediakan pangan, membentuk kebudayaan, dan menjadi bagian penting dari keberlangsungan manusia. Tanaman pangan lokal seperti kasbi, keladi, pisang dan berbagai tanaman lainnya menjadi bagian dari cerita.

Begitu pula peralatan sederhana yang dahulu digunakan masyarakat dalam membuka dan mengolah kebun seperti kapak, parang, serta batu gosok. Menjadi simbol kemampuan masyarakat bertahan hidup dengan memanfaatkan pengetahuan dan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka.

Salah satu pemuda adat Suku Moi, Samuel Moifilit mengatakan film tersebut lahir melalui proses pembelajaran bersama masyarakat adat. Pembuatan film tidak hanya bertujuan menghasilkan karya audiovisual, juga menjadi metode untuk membuat generasi muda kembali mendengar, melihat, dan mempraktikkan pengetahuan yang dimiliki orang tua mereka.

Katanya, film ini merekam bagaimana masyarakat adat Moi Salkma memaknai tanah leluhurnya sebagai sumber kehidupan. Dari tanah itu mereka berkebun, memperoleh makanan dan mempertahankan kehidupan.

BERITATERKAIT

Bupati Sorong didesak tak abai terhadap perampasan tanah adat marga Aresi

KNPB Maybrat kecam penangkapan warga di Teminabuan

Puluhan ekskavator tiba di Sorong Selatan, warga diimbau waspada

Masyarakat Adat Suku Afsya tanam patok di Hutan Bariat, tolak PT ASI

“Pengetahuan itu tidak cukup hanya diceritakan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Generasi muda harus ikut melihat, mendengar, merekam dan membuat karya dari pengetahuan yang mereka miliki,” kata Samuel Moifilit.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Menurutnya, proses produksi film tersebut sejak awal tidak dibuat secara sepihak. Ide film dibicarakan bersama antara pemuda dan tetua adat, sehingga cerita yang muncul benar-benar berangkat dari pengalaman masyarakat sendiri.

Ia mengatakan, film ini benar-benar lahir dari diskusi terbuka antara tetua adat dan pemuda. Pendekatan yang dilakukan Papuan Voices adalah melatih mereka untuk memegang kamera dan merekam berdasarkan kenyataan yang mereka ketahui sendiri.

“Jadi mereka bukan hanya menjadi objek yang direkam, tetapi ikut menjadi orang yang menceritakan kehidupannya,” ujarnya.

Menurut Moifilit, cara tersebut penting karena pengetahuan masyarakat adat sering kali hilang bukan karena tidak memiliki nilai, melainkan karena generasi muda semakin jarang bersentuhan langsung dengan praktik kehidupan leluhur.

Dalam film itu para tokoh menjelaskan bagaimana kehidupan mereka sangat bergantung pada tanah leluhur dan bagaimana mereka memaknai pertanian.

“Kapak, parang dan batu gosok bukan hanya benda biasa. Itu bagian dari pengetahuan dan cara mereka bertahan hidup,” ucapnya.

Pesan utama film tersebut adalah mengingatkan generasi muda agar tidak meninggalkan pengetahuan berkebun yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Jangan sampai pengetahuan yang dibangun orang tua selama bertahun-tahun hilang hanya karena generasi sekarang merasa bahwa kehidupan modern membuat semua kebutuhan bisa dibeli dengan uang.

“Papuan Voices memiliki cara tersendiri dalam mendistribusikan film-film dokumenter yang mereka produksi dan film tidak selalu harus dipublikasikan melalui platform digital seperti YouTube untuk dianggap berhasil,” kata Moifilit.

Menurutnya, pemutaran langsung film di komunitas dan kampung justru membuka ruang dialog yang lebih kuat, karena pembuat film dapat bertemu langsung dengan masyarakat dan mendengar tanggapan mereka.

Dengan cara seperti itu, pesan film dinilai bisa dipahami secara lebih mendalam. Karena sebuah film tidak hanya diukur dari kualitas visual dan suara.

Sementara itu Yordan Mayamuk, pemuda adat Moi yang terlibat dalam diskusi film tersebut, menilai film “Menanam Kehidupan” menjadi penting karena memperlihatkan perbedaan antara cara generasi terdahulu mengelola kebun dengan cara generasi sekarang.

Menurut Mayamuk, generasi terdahulu memiliki cara dan pengetahuan sendiri dalam membuka kebun. Mereka tidak bergantung sepenuhnya pada uang ataupun teknologi modern. Peralatan sederhana yang tersedia di alam digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Jadi tujuan film ini adalah supaya anak-anak generasi sekarang sadar bahwa tanah itu penting. Kita sekarang melihat banyak investasi dan berbagai program yang masuk,” kata Yordan Mayamuk.

Karena itu generasi muda dinilai harus memahami kembali perjalanan kehidupan orang tua dulu dan bagaimana cara mereka menjalani kehidupan.

Pengetahuan tersebut dipandang penting, agar ketika berbagai program pembangunan atau investasi datang ke wilayah adat, generasi muda tidak kehilangan pemahaman bahwa di tanah tersebut telah ada masyarakat yang memiliki sejarah, ruang hidup, kebun, dan tata cara kehidupan sendiri.

“Film ini mengingatkan kita untuk kembali ke kampung masing-masing. Kita harus kembali melihat bagaimana orang tua dulu berkebun. Mereka punya cara sendiri. Mereka menebang, membersihkan, menyiapkan lahan, membuat pagar, kemudian menanam dan itu bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari pengetahuan hidup,” ujarnya.

Yordan Mayamuk khawatir, apabila pengetahuan tersebut tidak diteruskan, generasi berikutnya hanya akan mengetahui hasil akhirnya tanpa memahami proses yang dilakukan leluhur.

Katanya, masalah yang lebih serius bukan sekadar berkurangnya aktivitas berkebun. Yang sedang terancam adalah pengetahuan melekat di dalam praktik berkebun tersebut.

Ia menilai ketergantungan terhadap uang dan program pemerintah dapat membuat sebagian generasi muda semakin jauh dari kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Sementara itu, Irma Irene Merino, perempuan Papua yang terlibat dalam proses produksi film dokumenter “Menanam Kehidupan” menceritakan bahwa pembuatan film tersebut juga menghadirkan tantangan teknis yang tidak sedikit.

Menurut Irma Merino, proses pengambilan gambar dilakukan dengan kondisi lapangan yang tidak selalu mudah tim harus mengikuti perjalanan, merekam aktivitas masyarakat, sekaligus memastikan suara dan gambar yang diperoleh dapat digunakan dalam proses penyuntingan.

Dalam proses perjalanan dan pengambilan gambar, pihaknya harus langsung bekerja di lapangan dengan berbagai tantangan. Terkadang ada suara-suara lain yang masuk ketika proses perekaman, kemudian gambar juga ada yang kurang jelas.

“Persoalan tersebut baru benar-benar terasa ketika memasuki proses editing. Ketika selesai pengambilan gambar dan mulai editing, baru kami melihat ada gambar yang kurang, ada suara yang masuk, ada gambar yang buram atau goyang. Itu membuat kami harus berpikir bagaimana caranya supaya film ini tetap bisa disusun dengan baik,” kata Irma Irene Merino.

Menurut Merino, pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari proses pembelajaran. Pihaknya belajar bahwa membuat film itu bukan hanya mengambil gambar. Namun harus memikirkan suara, gambar, cerita dan bagaimana pesan yang mau disampaikan bisa sampai kepada penonton.

Ia menilai pengalaman terlibat dalam produksi film menjadi kesempatan bagi perempuan dan pemuda Papua untuk belajar mendokumentasikan cerita masyarakat mereka sendiri.

“Bagi saya, proses ini penting karena kami bisa belajar langsung dari lapangan. Kami tidak hanya mendengar cerita orang tua, tetapi ikut merekam perjalanan dan kehidupan mereka,” ujarnya. (*)

Tags: Festival Film PapuaPapuan Voices wilayah SorongPemutaran Film dokumenterProvinsi Papua Barat DayaSuku Moi
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Bupati Sorong

Bupati Sorong didesak tak abai terhadap perampasan tanah adat marga Aresi

August 14, 2026
penangkapan

KNPB Maybrat kecam penangkapan warga di Teminabuan

April 17, 2026

Puluhan ekskavator tiba di Sorong Selatan, warga diimbau waspada

April 1, 2026

Masyarakat Adat Suku Afsya tanam patok di Hutan Bariat, tolak PT ASI

February 28, 2026

Dipecat, Pendamping KMP desak Gubernur Papua Barat Daya copot Kabid Koperasi

February 11, 2026

Rumah dibakar, pembunuh ibu muda belum ditangkap

January 20, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Ant-Plant Harvesting in Wasur Forest Supports Local Livelihoods
24 September 2026
Ant-Plant Harvesting in Wasur Forest Supports Local Livelihoods

Merauke, Jubi – Carrying a bamboo pole fitted with a simple hook, Hilarius Gebze walks through the forest around Biras, [...]

Kadepa calls for political action to address Papua’s problems
23 September 2026
Kadepa calls for political action to address Papua’s problems

Jayapura, Jubi – Papua needs practical action rather than political disputes and heated debate, according to Papuan political figure Laurenzus [...]

Malind Indigenous group calls for police to drop case against land defender
23 September 2026
Malind Indigenous group calls for police to drop case against land defender

Jayapura, Jubi – Solidaritas Merauke has urged police to stop what it describes as the criminalisation of Ariston Moiwend Buako, [...]

Malind Indigenous landowners lose legal challenge over 135km road project
22 September 2026
Malind Indigenous landowners lose legal challenge over 135km road project

Jayapura, Jubi – The Jayapura Administrative Court (PTUN Jayapura) has rejected a legal challenge brought by Malind Indigenous representatives against [...]

Yobe residents protest alleged diversion of subsidised rice
22 September 2026
Yobe residents protest alleged diversion of subsidised rice

Jayapura, Jubi – Dozens of residents of Yobe urban village in Abepura district, Jayapura city, Papua, gathered at the local [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Infrastruktur pendidikan dan kesehatan di Kampung Yoboi

DPRK Jayapura soroti buruknya infrastruktur pendidikan dan kesehatan di Yoboi

September 24, 2026
Pelatih Persipura

Regi Aditya ambil alih kursi pelatih Persipura

September 24, 2026
Kabupaten Fakfak

Karhutla dan kekeringan melanda Kabupaten Fakfak

September 24, 2026
kolaborasi

Pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha di Papua

September 24, 2026
Papua Tengah

Berbagai tantangan dalam pengembangan produk lokal di Papua Tengah

September 24, 2026
Fiji

PM Fiji Mendesak Media untuk Memverifikasi Fakta

September 24, 2026
PNG

PNG Harus Memanfaatkan Peluang LNG Saat Kondisi Menguntungkan

September 24, 2026
Bougainville

Percayalah pada prosesnya, Bougainville akhirnya bisa merdeka dari PNG

September 22, 2026
Bougainville

Buin tuan rumah Festival Cokelat Bougainville ke 10

September 23, 2026
Pemetaan wilayah adat

Pemetaan wilayah adat Suku Nasawat dibahas lewat lokakarya

September 22, 2026
Komnas HAM

Penggusuran paksa tanah masyarakat adat Biak diadukan ke Komnas HAM

March 17, 2026
Solomon

10 Menteri Kepulauan Solomon mengundurkan diri

March 17, 2026
Pemeriksaan kesehatan

Dinkes Jayapura hadirkan dokter spesialis saat pemeriksaan kesehatan gratis

March 17, 2026
Program Sekolah Sepanjang Hari

Program Sekolah Sepanjang Hari diluncurkan di Kabupaten Puncak Jaya

September 24, 2026
Infrastruktur pendidikan dan kesehatan di Kampung Yoboi

DPRK Jayapura soroti buruknya infrastruktur pendidikan dan kesehatan di Yoboi

0
Pelatih Persipura

Regi Aditya ambil alih kursi pelatih Persipura

0
Kabupaten Fakfak

Karhutla dan kekeringan melanda Kabupaten Fakfak

0
kolaborasi

Pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha di Papua

0
Papua Tengah

Berbagai tantangan dalam pengembangan produk lokal di Papua Tengah

0
Fiji

PM Fiji Mendesak Media untuk Memverifikasi Fakta

0
PNG

PNG Harus Memanfaatkan Peluang LNG Saat Kondisi Menguntungkan

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara