Sorong, Jubi – Sejumlah aktivis dan seniman berkolaborasi dalam peringatan Hari Antikekerasan terhadap Perempuan. Mereka menggelar mimbar bebas dan pentas seni untuk mengekspresikan situasi sosial terkini di Tanah Papua.
Alforiani Reba, aktivis perempuan Sorong mengatakan kekerasan terhadap perempuan di Tanah Papua tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan struktural. Kekerasan itu terjadi akibat kebijakan negara yang tidak berpihak kepada rakyat.
“Contohnya, militerisme, dan proyek strategis nasional. Kebijakan ini mengancam eksistensi perempuan Papua yang berperan sebagai penjaga hutan dan ekosistem,” kata Reba, yang juga Koordinator Pos Sorong Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua.
Mimbar bebas dan pentas seni tersebut digelar di Taman Sorong City, Selasa malam (26/11/2024). Mereka mengusung tema Membebaskan Perempuan Papua dari Kekerasan Struktural.
Dalam aksi itu, para seniman menampilkan nyanyian dan sejumlah lukisan. Ada sepuluh lukisan mereka yang mengekspresikan realitas sosial di Tanah Papua.
“Mimbar bebas ini memberi ruang bagi seniman, aktivis, dan masyarakat untuk mengekspresikan situasi sosial, seperti kekerasan, deforestasi, serta kriminalisasi [terhadap masyarakat sipil]. Kegiatan ini juga untuk mengingatkan masyarakat Papua agar lebih kritis dalam memilih pemimpin pada Pilkada 2024,” kata Samuel Moifilit, Juru Kampanye Selamatkan Manusia, Tanah, dan Hutan Malamoi.
Menurut Moifilit, suara pemilih pada pilkada menentukan masa depan hutan dan hak-hak masyarakat adat. Karena itu, mereka harus jeli dalam menilai rekam jejak setiap calon kepala daerah.
Kolaborasi aktivis dan seniman Sorong Raya akan berlanjut pada Peringatan Hari Hak Asasi Manusia, 10 Desember mendatang. Peringatan tersebut juga akan diisi dengan pelatihan peningkatan kapasitas terhadap perempuan.
“Kami melihat kemajuan signifikan pada seniman, termasuk musisi hip-hop dalam menyuarakan kritik sosial melalui karya mereka. Partisipasi variatif ini diharapkan mampu menggaungkan isu perempuan Papua hingga ke tingkat nasional dan internasional,” kata Reba. (*)





















Discussion about this post