Waropen, Jubi – Ketua Panitia Khusus atau Pansus Tapal Batas dan Pertambangan, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten atau DPRK Waropen, Papua, Abraham Obi mengatakan, pansus dibentuk untuk melindungi wilayah administratif Kabupaten Waropen yang berbatasan dengan beberapa kabupaten lain, dan mengawasi aktivitas penambangan liar di wilayah itu.
“Pansus ini kami bentuk untuk mengurus dan memperhatikan tapal batas Kabupaten Waropen dan pertambangan ilegal di wilayah Waropen,” kata Abraham Obi kepada Jubi di Kantor DPRK Waropen, Distrik Urei Faisei, Kabupaten Waropen, Papua pada Selasa (10/2/2026).
Katanya, perbatasan Waropen berpotensi disabotase oleh kabupaten lain di sekitarnya melalui perusahaan pertambangan ilegal yang kini sedang beroperasi mengelolah Sumber Daya Alam (SDA) Waropen.
Ia mengataka, batas-batas wilayah tersebut yang akan dijaga pihaknya. Sebab, kini di wilayah Waropen ada beberapa perusahaan tambang beroperasi tanpa izin resmi dari pemerintah kabupaten atau pemkab. Mereka hanya beroperasi berdasarkan izin masyarakat adat setempat.
“Kami khawatirkan tidak ada pertimbangan matang terkait dampak-dampak yang timbul dari pertambangan itu terhadap kelangsungan hidup rakyat setempat. Kami khawatir rakyat di sana kena dampak serius, karena lokasi tambang itu berada di daerah ketinggian tepatnya di hulu sungai. Kalau banjir bandang, sebagian besar perkampungan di wilayah kedua distrik akan tersapu, karena berada di dataran rendah. Ini yang perlu dipikirkan secara baik di pihak eksekutif,” ujarnya.
Pihaknya juga sudah menanyakan masyarakat terkait izin mereka yang mereka berikan kepada pihak perusahaan, dan masyarakat menyatakan memberikan izin karena faktor ekonomi.
Pihaknya pun meminta Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Waropen menyediakan anggaran bagi pansus, yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Daerah (APBD), agar pansus dapat meninjau lokasi pertambangan ilegal di Distrik Wapoga dan Ingerus.
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRK Waropen, Lion Maniagas mengatakan pihaknya yang membidangi hukum dan pemerintahan, akan terus berkoordinasi bersama eksekutif agar segera menyediakan pagu anggaran bagi pansus dan segera dilaksanakan peninjauan.
“Baik peninjauan ke tapal batas, tapi juga lokasi pertambangan ilegal. Eksekutif harusnya tidak melemahkan legislatif. Sekuat apapun DPRK tapi kalau tidak ada dukungan anggaran kami seperti tidak berguna bagi masyarakat,” kata Lion Maniagasi. (*)























Discussion about this post