Waropen, Jubi – Mama-mama pedagang di Kabupaten Waropen, Papua kini tak memiliki tempat berjualan yang layak setelah Pasar Urfas terbakar beberapa waktu lalu, dan belum dibangun kembali oleh pemerintah daerah akibat sengketa lahan dengan pemilik hak ulayat.
Situsi ini menyebabkan puluhan pedagang terpaksa berjualan di pondok-pondok darurat, emperan toko, hingga di bahu jalan di bawah terik matahari dan debu akibat kendaraan yang melintas.
“Kami tidak punya tempat lagi. Mau tidak mau di pinggir jalan, kena debu, kena panas. Kami hanya ingin jualan tenang supaya bisa bawa pulang uang untuk anak-anak makan,” kata mama pedagang asal Distrik Kirihi, Neli Tabuni (43 tahun) kepada Jubi ketika ditemui di salah satu lapak jualannya di bahu jalan SP V, Distrik Urei Faisei, Kabupaten Waropen, Papua, Senin (2/2/2026).
Pedagang lainnya, Selfi Windesi (36 tahun) mengeluhkan kondisi lapak yang sangat sempit dan berhimpitan.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Tempat kami berjualan sekarang sangat sempit. Pembeli jadi malas masuk karena sumpek dan tidak nyaman. Kalau begini terus, jualan kami sering tidak laku dan layu,” ujar Selfi Windesi yang merupakan pedagang sayur.
Windesi mengatakan, para pedagang berharap Pemerintah Kabupaten Waropen segera mengambil langkah konkret dalam menyelesaikan masalah hak ulayat dan mempercepat pembangunan pasar.
Katanya, keberadaan pasar bukan sekadar bangunan fisik, melainkan jantung ekonomi rakyat kecil yang tidak bisa dibiarkan mati terlalu lama.
“Memang dengan berjualan di pondok-pondok yang letaknya di bahu jalan ini memudahkan pembeli untuk tidak masuk lebih jauh ketika mau belanja, tapi di sini juga membahayakan nyawa kami sewaktu-waktu,” ucapnya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua
























Discussion about this post