Sentani, JUBI – Suasana Dusun Sagu Ebha Hekhe, Kampung Sereh – Sentani, Sabtu malam, berubah menjadi ruang refleksi dan hiburan yang penuh makna. Melalui program Movie Day – Layar Tumbuh Papua, bagian dari Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) 2025 yang diinisiasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ratusan warga berkumpul dalam acara yang memadukan film, seni pertunjukan, musik rakyat, dan diskusi publik bertema integritas.
Salah satu film pendek yang ditayangkan dalam rangkaian program ACFFEST malam itu adalah “Jual Babi”, karya Natias Mirin dan diproduseri oleh Theo Rumansara. Diangkat dari kisah nyata, film ini menyuguhkan cerita personal tentang seorang anak Papua yang harus menjual babi peliharaan kesayangannya—simbol kekayaan dan martabat keluarga—demi melanjutkan kuliah. Meski bukan film pembuka, Jual Babi menjadi salah satu penayangan yang paling membekas dan mengundang diskusi hangat menjelang sesi talkshow.
Usai pemutaran film, pentas seni budaya mengambil alih panggung. Salah satu penampilan yang menyentuh adalah tari “Noken”, dibawakan oleh empat penari muda perempuan. Tarian ini menyimbolkan filosofi noken sebagai lambang kehidupan, kasih sayang, dan tanggung jawab perempuan Papua terhadap masa depan komunitasnya.

Sementara itu, Sanggar Seni Robonghollo turut memperkuat suasana dengan persembahan folksong berbahasa daerah, menyuarakan semangat kebersamaan dan harapan kolektif masyarakat adat. Lagu-lagu rakyat yang dibawakan menambahkan nuansa kedekatan dan mengingatkan bahwa nilai-nilai luhur seperti kejujuran dan kerja keras sudah lama hidup dalam warisan budaya lokal.
Ombhu dari Stand Up Indo Jayapura pun tampil memikat dengan materi komedi yang cerdas dan menyentuh, membahas kebiasaan koruptif di kehidupan sehari-hari dengan gaya santai yang membuat penonton tertawa sekaligus merenung. Tak ketinggalan, battle rap bertema sembilan nilai antikorupsi menjadi ajang ekspresi generasi muda, dengan lirik-lirik kuat tentang jujur, mandiri, tanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, dan kerja keras.
Dalam sesi talkshow publik, tiga narasumber hadir:
- Master James J. Sahilatua, Penyuluh Antikorupsi Papua
- Muhamad Ilham M. Murda, Ketua Indonesia Art Movement dan finalis ACFFEST 2024
- Jimy Ondikleuw, Ketua Sanggar Seni Robonghollo
Jimy menyampaikan bahwa seni di tanah Papua tidak pernah lepas dari nilai-nilai kehidupan sehari-hari. “Kami di sanggar selalu menanamkan bahwa menari bukan hanya soal gerakan, tapi tentang karakter. Kalau anak-anak kita bisa disiplin, tanggung jawab, dan jujur dalam proses berkesenian, mereka juga bisa menerapkannya dalam hidup,” ungkap Jimy di depan ratusan peserta yang memadati area dusun.
Muhamad Ilham M. Murda menambahkan, “Ruang seperti ini adalah bentuk pembelajaran paling dekat untuk anak-anak muda Papua. Film dan seni adalah bahasa yang bisa menjembatani pesan-pesan besar dengan cara yang membumi dan menyentuh.”
Master James menutup sesi diskusi dengan menekankan pentingnya membiasakan nilai sejak usia dini. “Kalau kesalahan dianggap wajar karena dilakukan terus-menerus, itu berbahaya. Kita harus bangun kesadaran lewat pendekatan yang dekat—seperti ini.”
Acara dipandu dengan hangat dan komunikatif oleh Orideck Kori, yang berhasil menjaga alur antara edukasi dan hiburan tetap menyatu. Suasana santai namun sarat makna menjadi kekuatan utama Movie Day di Kampung Sereh.
Walau layar tancap akhirnya dilipat dan lampu padam, nilai-nilai yang ditanam malam itu tetap menyala di benak setiap yang hadir. Di kampung yang tenang ini, gerakan antikorupsi disuarakan dengan bahasa yang paling jujur: budaya dan kebersamaan. (*)























Discussion about this post