Jayapura, Jubi – Hari ini di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Pegununungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan masih bergejolak. Para pengungsi lari meninggalkan kampung dan kebun-kebun mereka akibat konflik bersenjata.
Pemerintah Kabupaten Intan Jaya bergerak cepat dengan menurunkan bantuan bahan bahan makanan kepada mereka.
Adapun lokasi yang menampung warga pengungsi antara lain dari masyarakat Janamba mengungsi ke Hitidipa, Sugapa dan Pusat Paroki sedangkan warga lainnya memilih tetap tinggal di Kampung Janamba.
Bupati Kabupaten Intan Jaya Aner Maisini kepada Ceposonline.com, Rabu (2/4/2025) menjelaskan, masyarakat mendengar bunyi tembakan pada 27 -28 Maret di sekitar POS TNI di Migatapa. Masyarakat semakin panik ketika mendengar ada suara tiga helikopter dan tiga pesawat melintas di udara. Situasi ini membuat warga akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke berbagai tempat.
Walau demikian, Bupati Intan Jaya menegaskan situasi keamanan di sana sudah aman dan terkendali dan aktivitas sudah berjalan lancar. Terlepas dari pro dan kontra terjadinya konflik di sana, sebaiknya kondisi dan keberadaan warga di sana harus tetap aman sebagaimana diharapkan semua pihak.
Kabupaten Intan Jaya kini menjadi salah satu wilayah kabupaten di Papua Tengah yang akan menjadi wilayah eksploitasi baru dengan tambang emas blok Wabu di tengah krisis ekonomi yang melanda dunia. Sedangkan pemerintah Indonesia sendiri harus mencari solusi agar kekurangan APBN dan utang luar negeri harus dapat diatasi dibawah pemerintahan Prabowo Subiyanto.
Hal ini bisa terlihat dengan dibangunnya pabrik smelter di Gresik untuk pengolahan dan permurnian (smelter) tembaga menjadi katoda tembaga di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik di Provinsi Jawa Timur.
Pabrik smelter milik PT FI ini diklaim sebagai desain single line terbesar di dunia yang mampu mengolah konsentrat dengan kapasitas produksi hingga 1, 7 juta ton setelah beroperasi penuh.
“Produk katoda tembaga yang dihasilkan bisa mencapai 600.000-700.000 ton per tahun, menghasilkan 50 ton emas per tahun, dan 150-200 ton perak. Selain menghasilkan katoda tembaga, smelter ini akan menghasilkan produk sampingan diantaranya produk yang terkandung dalam lumpur anoda yakni emas dan perak murni sebanyak 6.000 ton per tahun. “ Demikian dikutip jubi.id dari laman internet www.cnbcindonesia.com, Minggu (6/4/2025).
Tentunya pabrik smelter ini bukan saja menerima konsentrat lokasi penambangan lain termasuk di Sumbawa, perusahaan yang sebelumnya bernama PT Newmont Nusa Tenggara(NTT) . Kini dikelola oleh PT Sumbawa Timur Mining (STM) merupakan perusahaan joint venture antara Eastern Star Resources Pty Ltd (80%), anak usaha milik Vale Base Metals, dan PT Aneka Tambang Tbk (20%).
PT Aneka Tambang juga memiliki areal konsesi tambang di Kabupaten Pegunungan Bintang mengutip CNN Indonesia, 23 Desenver 2014 lalu melaporkan bahwa Industri tambang Antam telah menemukan cadangan emas besar di hutan konservasi Papua.
“PT Aneka Tambang menemukan cadangan emas baru di Pegunungan Bintang, dengan potensi galian mencapai 1 miliar ton,”demikian dikutip dari www.cnnindonesia.com.
Selain Antam ada perusahaan lainnya yang menemukan cadangan emas lain di Nabire antara lain, PT Nabire Bhakti Mining, PT Irja Estern dan PT Iriana Mutiara Indenberg.
Sementara itu Blok Wabu yang dilansir berbagai sumber, disebut potensi tambang emas di Kabupaten Intan Jaya ini mencapai sebesar 8,1 juta troy ounce.
Meski potensi emas baru terdapat di Kabupaten Nabire, Paniai dan Intan Jaya serta Pegunungan Bintang. Bagaimana dengan sikap pemerintah setempat? Semasa pemerintahan Gubernur Papua mendiang Lukas Enembe sudah jelas menolak perijinan di Blok Wabu sebab masih mendengar pendapat warga di sekitar tambang blok Wabu.
Kini tanah Papua sudah dimekarkan menjadi enam provinsi dan wilayah tanah Migani (Intan Jaya) di mana terdapat tambang Blok Wabu sudah masuk dalam wilayah administrasi Provinsi Papua Tengah.
Bupati Intan Jaya Abner Maiseni menegaskan selama tidak ada pembangunan di Kabupaten Intan Jaya tidak ada operasi Blok Wabu. “Dipanggung ini saya sampaikan, selama tidak ada pembangunan di Intan Jaya, selama itu juga tidak ada pemekaran dan tidak ada operasi di Blok Wabu,” demikian dikutip dari laman internet papuaposnabire.com saat acara syukuran bersama di Sugapa ibukota Kabupaten Intan Jaya, pada Kamis (13/3/2025).
Baik potensi tambang di Blok Wabu Intan Jaya maupun di Kabupaten Pegunungan Bintang, terdapat dua perusahaan tambang raksasa di Kabupaten Mimika bernama PT Freeport Indonesia maupun di negara tetangga PNG dekat Kabupaten Pegunungan Bintang perusahaan bernama Ok Tedi Mining.
Belajar dari PT Freeport Indonesia dan juga tambang emas di Ok Tedi Papua Nugini adalah masalah tailing atau sisa pasir tambang. PT Freeport Indonesia membuang langsung ke Sungai Aijkwa sementara Ok Tedi Mining di PNG langsung ke Sungai Fly yang berbatasan langsung dengan Provinsi Papua Selatan.
Seandainya Blok Wabu ditambang dan juga penambangan dari PT Aneka Tambang di Pegunungan Bintang mulai eksplorasi di tengah tekanan ekonomi maupun penolakan warga. Sejauh mana peran kewenangan pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Papua Pegunungan untuk melakukan negosiasi dan win win solution dengan pemerintah pusat dan pihak investasi agar tidak mengorbankan warga dan juga kerusakan lingkungan hidup?. (*)






















Discussion about this post