Jayapura, Jubi – Lince Rosumbre, seorang bayi berusia dua tahun, dan Lince Kafiar, seorang nenek yang sedang sakit, sempat dilarikan ke rumah sakit Umum Daerah atau RSUD Abepura akibat terkena tembakan gas air mata saat aparat keaman memukul mundur aksi damai KNPB yang menolak transmigrasi ke Tanah Papua, di Lingkaran Abepura, Kota Jayapura, Papua pada Kamis (15/11/2024).
Pada saat aparat melepaskan gas air mata, sejumlah warga yang tidak terlibat aksi ikut terkena semburan gas air mata itu, dan mereka menyesalkan situasi tersebut. Beberapa warga yang sempat ditemui Jubi saat itu tampak marah-marah kepada aparat keamanan.
Ada warga yang berusaha menyirami wajah dengan air untuk menghilangkan perih matanya. Dampak gas air mata yang ditembakkan itu menyebar hingga ke lokasi tempat tinggal warga di sekitar lingkaran Abepura. Rumah mereka dipenuhi asap dari gas air mata, yang menyebabkan mata perih hingga sulit bernafas.
Salah seorang warga yang bertempat tinggal di sekitar lingkaran Abepura, Rikardo Rosumbre, mengatakan rumahnya sempat dipenuhi dengan asap gas air mata. Dirinya menyesalkan karena aparat keamanan yang menembak gas air mata tidak tepat sasaran, mengingat sekitar lokasi aksi di Lingkaran Abepura itu banyak permukiman warga, anak-anak dan lansia yang rentan.

“Ini Mama saya, Lince Kafiar yang sudah tua dan punya penyakit bawaan lagi sehingga tadi itu Mama sesak nafas. Untung cepat dibawa kerumah sakit dan jadi cepat ditangani. Cucunya juga, Lince Ronsumbre dibawa ke rumah sakit dan sekarang sudah pulang,” kata Rikardo Ronsumbre.
Ia menjelaskan asap yang memenuhi sekitar permukiman warga itu membuat mata perih dan susah bernafas. Warga bahkan sempat berebut air untuk mencuci mata mereka yang perih. Ada juga yang lari keluar rumah karena asap terlalu banyak di dalam rumah-rumah warga.
“Ada anak perempuan tadi dia bilang bapak saya sudah tidak bisa bernapas sudah setengah mati. Untung ada kakak perempuan yang ambil air ke rumah baru siram anak perempuan itu,” lanjut Ronsumbre.
Menurut Rikardo Ronsumbre karena negara ini negara yang berdemokrasi, jadi mestinya siaoa saja boleh dan berhak menyampaikan pendapat dimuka umum atau aspirasi asal secara damai, apalagi dijamin oleh undang-undang.
“Polisi ini tugasnya mengamankan saja, tapi saya pikir tadi itu berlebihan, lempar gas air mata sembarangan jadi warga sekitar disini yang berdampak lebih banyak…[karena polisi] tembak sembarang tempat,” ujarnya.
Ia menyesalkan demonstrasi berujung ricuh padahal aksi seharusnya bisa berjalan damai jika dikawal dengan baik.
“Demo ini kan tidak membawa alat perang atau alat tajam, mereka kan hanya menyampaikan aspirasi mereka. Aparat yang punya senjata, gas air mata, water canon, jadi saya pikir ini penangan yang berlebihan sekali,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Mama Linda Imbiri mengatakan dirinya juga melihat penanganan aparat terhadap massa aksi KNPB terlalu berlebihan. “Saya melihat tadi penangan yang berlebihan dari aparat karena warga yang ada di lingkungan ini kena dampak gas air mata itu,” ujarnya.
Dirinya merasa kesal juga sebab gas air mata yang banyak sehingga lingkungan rumahnya dipenuhi dengan asap gas air mata hingga masuk ke rumah-rumah. “Hal ini membuat banyak warga mata perih apalagi anak dan lansia itu kasihan sekali,” lanjutnya.
“Saya minta kepada Kapolda, Kapolsek, Kapolresta untuk menegur anak-anak buah supaya jangan seenaknya begitu. Karena tempat ini ada banyak warga bukan tempat kosong, jadi kalau tembak gas air mata ya jangan berlebihan secukupnya saja. Karena anak-anak yang demo ini tidak punya senjata seperti begitu, pasti mereka lari to tidak mungkin dong bertahan,” katanya dengan sesal. (*)





















Discussion about this post