Jayapura, Jubi – Menteri Perdagangan dan Investasi Internasional Papua Nugini (PNG), Richard Maru mengkritik forum bisnis luar negeri yang melibatkan Papua Nugini dan dinilai gagal memberikan hasil yang diharapkan dalam investasi di negara tetangga Indonesia ini.
Ia menargetkan Forum Bisnis PNG-Australia dan menambahkan perhatian harus dialihkan ke China, karena negara Tirai Bambu ini adalah mitra dagang terbesar sekarang di Papua Nugini.
Dengan Forum Bisnis dan Pameran Dagang PNG-China perdana yang akan datang, Maru berharap hal itu akan semakin memperkuat hubungan bilateral, dan hasil yang diharapkan akan terwujud.
“Sebagai catatan, acara serupa telah diadakan antara Dewan Bisnis PNG dan Australia selama 41 tahun berturut-turut. Setiap beberapa waktu sekali kami pergi ke Australia tiga kali untuk forum bisnis, dua kali di Brisbane dan sekali pada November, awal Desember di Sydney,” kata Maru, sebagaimana dilansir Jubi dari laman tvwan.com.pg, Jumat (21/8/2026).
“Namun, China adalah mitra dagang terbesar dan terpenting kita. Tidak masuk akal, bukan? Baru-baru ini, kita telah menandatangani perjanjian kemitraan pertahanan antara AS, negara yang hampir tidak pernah berdagang dengan kita, dan Australia. Menariknya, mitra dagang terbesar Australia adalah China, mitra dagang terbesar Selandia Baru adalah China,” ucapnya.
“Mereka datang kepada kita dan berbicara tentang geopolitik, tetapi mereka berbisnis dengan China. Sudah saatnya PNG bangun dan melihat kenyataan. Masa depan kita sebagai ekonomi, sebagai negara, jelas bersama China”.
“Kami tidak meminta maaf untuk itu. Perdagangan dua arah kita saat ini antara kedua negara adalah K17 miliar (1 Kina = Rp 4500,-), dan terus meningkat. Saat ini, kita memiliki satu juta anak muda tanpa pekerjaan, dan populasi kita bertambah 4% per tahun,” ucapnya.
Maru lebih lanjut memperingatkan bahwa jika negara gagal mengamankan investor di tahun-tahun mendatang, dampaknya tidak hanya akan menimpa perekonomian tetapi juga generasi mendatang, dengan menyebutkan perlunya mengubah pendekatan tradisional dalam berbisnis.
Catatan Jubi sejak April 2002 dan Mei 2018 saat ke Vanimo dalam penerbangan dengan Air Nugini Foker 28 ke Port Moresby, bandara di sana belum tertata rapih dan kelihatan seperti model bandara lama di era 1980 an.
Namun perbedaan mulai tampak sejak Mei 2023 di mana bandara Vanimo mulai dibangun sesuai dengan standar internasioal ada sinar xray untuk barang dan penumpang berbeda dengan era 2002.
Memang bandara di Vanimo belum ada garbarata,jembatan berdinding dan beratap yang menghubungkan ruang tunggu penumpang ke pintu pesawat terbang untuk memudahkan penumpang.
Bandara Vanimo di Provinsi Sepik Barat, Papua Nugini, dibangun oleh China Railway Construction Engineering Group Co Ltd.Proyek ini mencakup terminal baru senilai K28,8 juta dan perpanjangan landasan pacu, yang secara resmi dibuka pada Juni 2022 sebagai bagian dari program pengembangan penerbangan nasional yang lebih luas senilai K70,1 juta.
Bukan hanya itu, China juga membangun Pusat Konvensi Internasional Port Moresby di Papua Nugini, bangunan ini berfungsi sebagai tempat utama untuk pertemuan APEC 2018.
Sementara bangunan lokal ikonik seperti APEC Haus dibangun oleh perusahaan internasional lainnya, China membiayai dan meningkatkan pusat konvensi serta membangun Independence Boulevard didekatnya.
Saat ini di Port Moresby, China sedang mengerjakan proyek komersial terbesar dalam sejarah negara tersebut, misalnya pembangunan Baosen China Town senilai sekitar K3 miliar hingga K4 miliar (sekitar USD $400 juta hingga $1,2 miliar) di kawasan Five-Mile, Port Moresby.
China Towan Baosen atau Kota Pecinan Baosen ini dibangun dengan total luas bangunan 420.000 meter persegi, Baosen China Town adalah proyek pengembangan multifungsi mega generasi berikutnya yang direncanakan dengan matang di tiga area.
Sejak PNG merdeka pada 16 September 1975 dari Inggris dan Australia, Papua Nugini dan Tiongkok telah memiliki hubungan diplomatik yang telah lama terjalin sejak tahun 1976, tak lama setelah PNG memperoleh kemerdekaan.
Perdana Menteri James Marape telah dengan tegas mempertahankan hubungan “yang telah lama dihormati” ini, mengikuti kebijakan luar negeri “bersahabat bagi semua dan tidak bermusuhan dengan siapa pun”
Walau demikian PNG harus mendepak Taiwan karena mengakui satu negara China, pada 16 Juli 2026, Menteri Luar Negeri Papua Nugini (PNG) Justin Tkatchenko mengumumkan penutupan kantor perwakilan ekonomi Taiwan di Port Moresby.
Pemerintah PNG menyatakan bahwa kehadiran fisik Taiwan tidak lagi diakui atau dibutuhkan, sebagai langkah untuk memperkuat hubungan diplomatik dengan China daratan. Bagi China, Taiwan adalah bagian dari Provinsi negara Tirai Bambu. (*)





















Discussion about this post