Jayapura, Jubi – Presiden Polinesia Prancis mengumumkan bahwa pemerintahannya akan membangun salah satu jaringan kawasan laut yang dilindungi (Marine Protected Areas/MPA) terbesar di dunia.
Kawasan yang sangat dilindungi itu akan mencakup 220.000 kilometer persegi perairan terpencil di dekat Kepulauan Society dan 680.000 kilometer persegi di sekitar Kepulauan Gambier.
Berbicara dalam Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Nice, Prancis, Presiden Moetai Brotherson berjanji untuk melindungi hampir 23 persen wilayah perairan Polinesia Prancis.
“Di Polinesia Prancis, lautan lebih dari sekadar wilayah – ia merupakan sumber kehidupan, budaya, dan identitas,” katanya sebagaimana dilansir jubi.id dari laman resmi RNZ Pasifik, Selasa (10/6/2025).
“Dengan memperkuat perlindungan Tainui Atea (wilayah pengelolaan laut yang mencakup seluruh perairan Polinesia Prancis) dan meletakkan fondasi bagi wilayah perlindungan laut di masa mendatang… kita menegaskan kedaulatan ekologis kita sekaligus menciptakan tempat perlindungan keanekaragaman hayati bagi masyarakat kita dan generasi mendatang,” ujarnya.
Setelah diterapkan, ini akan menjadi salah satu penetapan ruang laut yang paling terlindungi dalam sejarah. Akses ke kawasan tersebut akan dibatasi, dan semua bentuk ekstraksi, seperti penangkapan ikan dan penambangan, akan dilarang.
Pemerintah juga bermaksud menciptakan zona penangkapan ikan artisanal yang sangat terlindungi, yang membentang sekitar 28 kilometer dari Kepulauan Austral, Marquesas, dan Gambier, serta 55,5 kilometer di sekitar Kepulauan Society. Penangkapan ikan di zona tersebut hanya diperbolehkan menggunakan metode tradisional dengan pancing tunggal dari perahu yang panjangnya kurang dari 12 meter.
Secara keseluruhan, zona-zona tersebut mencakup wilayah sekitar dua kali luas daratan Prancis.
Presiden Brotherson juga berjanji akan membentuk zona penangkapan ikan artisanal tambahan serta dua kawasan perlindungan laut besar dan sangat dilindungi dalam tahun depan di dekat Kepulauan Austral dan Marquesas.
Ia juga berkomitmen untuk meningkatkan tindakan konservasi di sisa wilayah perairan Polinesia Prancis.
Donatien Tanret, pemimpin program Pew Bertarelli Ocean Legacy di Polinesia Prancis, mengatakan bahwa masyarakat lokal telah menyatakan keinginan kuat agar ada perlindungan yang lebih besar, yang mencerminkan panduan ilmiah dan nilai budaya leluhur mereka bagi generasi mendatang.
“Perlindungan dan komitmen terhadap penetapan kawasan di masa depan adalah contoh kuat bagaimana kepemimpinan lokal dan praktik tradisional seperti rāhui dapat menjawab tantangan zaman modern,” katanya.
Samoa Umumkan Kawasan Perlindungan Laut
Sebelum konferensi, Samoa telah mengadopsi Rencana Tata Ruang Laut yang mengikat secara hukum – sebuah langkah besar untuk sepenuhnya melindungi 30 persen lautannya dan memastikan pengelolaan berkelanjutan atas 100 persen wilayah laut negara tersebut.
Rencana tersebut mencakup pembentukan sembilan kawasan perlindungan laut baru yang sepenuhnya dilindungi, mencakup 36.000 kilometer persegi perairan.
Toeolesulusulu Cedric Schuster, Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Samoa, mengatakan bahwa sebagai negara samudra besar, cara hidup masyarakat Samoa semakin terancam oleh berbagai isu, termasuk perubahan iklim dan penangkapan ikan berlebihan.
“Rencana Tata Ruang Laut ini menandai langkah bersejarah dalam upaya memastikan laut kita tetap makmur dan sehat demi mendukung semua generasi mendatang bangsa Samoa – sebagaimana yang telah diwariskan oleh leluhur kita,” ujarnya. (*)






















Discussion about this post