Jayapura, Jubi — Lord Fakafanua terpilih sebagai perdana menteri Tonga berikutnya oleh rekan-rekan anggota parlemen. Bangsawan Tonga ini berhasil mengalahkan perdana menteri petahana, Dr. ʻAisake Eke.
Kedua kandidat tersebut berhadapan dalam pemungutan suara di parlemen yang berlangsung hari ini, tiga minggu setelah Tonga menggelar pemilihan umum pada 20 November. Demikian dikutip Jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Senin (15/12/2025).
Fakafanua, 40 tahun, memenangkan pemungutan suara rahasia dengan perolehan 16 suara berbanding 10.
Fakafanua menjadi bangsawan kedua yang memegang jabatan perdana menteri sejak reformasi konstitusional tahun 2010, yang menggeser keseimbangan kekuasaan di majelis legislatif kepada 17 anggota parlemen yang dipilih langsung oleh masyarakat umum.
Sebelumnya, keseimbangan kekuasaan di parlemen Tonga berada di tangan kaum bangsawan dan monarki.
Sebelum pemungutan suara dimulai, Fakafanua menyampaikan kepada rekan-rekan perwakilannya bahwa ia ingin menjadi perdana menteri guna menyatukan parlemen. Menurutnya, kedua kelompok perwakilan—baik bangsawan maupun perwakilan rakyat—bertanggung jawab kepada rakyat yang mereka layani.
Namun demikian, hanya 17 perwakilan rakyat yang dipilih langsung oleh masyarakat umum. Sementara itu, sembilan perwakilan bangsawan dipilih melalui proses pemungutan suara terpisah oleh kalangan bangsawan.
Fakafanua merupakan salah satu dari dua perwakilan bangsawan untuk wilayah Haʻapai. Pada usia 40 tahun, ia termasuk anggota parlemen Tonga yang relatif muda. Ia memasuki parlemen pada usia 24 tahun dan pada usia 27 tahun terpilih sebagai ketua parlemen—yang termuda sepanjang sejarah jabatan tersebut.
Fakafanua merupakan anggota keluarga kerajaan Tonga melalui ibunya, yang merupakan cucu dari Ratu Salote III yang sangat dihormati, serta memiliki garis keturunan bangsawan dari pihak ayah. Saudarinya juga menikah dengan Putra Mahkota. Selain itu, ia menjabat sebagai presiden Liga Rugbi Tonga.
Sesuai aturan pemilihan Tonga, Fakafanua dan Eke baru diumumkan sebagai kandidat perdana menteri oleh ketua sementara parlemen, Lord Tangi ʻo Vaonukonuka, pada pagi hari setelah ia mengadakan pertemuan para perwakilan.
Eke akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga Raja Tupou VI secara resmi menunjuk penggantinya. Fakafanua juga diwajibkan memilih kabinet yang kemudian harus disetujui dan dilantik oleh Raja.
Perwakilan Tongatapu 5 tersebut meninggalkan jabatan perdana menteri setelah kurang dari satu tahun menjabat. Ia mengambil alih jabatan dari pendahulunya, Huʻakavameiliku Siaosi Sovaleni, pada Desember lalu setelah Huʻakavameiliku mengundurkan diri karena menghadapi mosi tidak percaya.
Dalam pemungutan suara hari ini, Eke kehilangan dukungan dari sejumlah anggota kunci kabinetnya, termasuk Wakil Perdana Menteri Taniela Fusimalohi dan Paula Piukala. Piukala, yang memegang beberapa portofolio menteri di pemerintahan Eke—termasuk kepolisian dan perusahaan publik—diskors dari tugasnya pekan lalu sementara badan antikorupsi negara menyelidiki tuduhan terhadapnya. Baik Piukala maupun Fusimalohi memberikan dukungan kepada Fakafanua dalam pemungutan suara tersebut.
Sementara itu, ketika parlemen baru resmi bersidang, upaya mengatasi penurunan tingkat partisipasi pemilih dipastikan menjadi prioritas utama. Tingkat partisipasi pemilih pada pemilu November lalu tercatat sebesar 49,4 persen, yang berarti satu dari dua pemilih yang memenuhi syarat tidak menggunakan hak pilihnya.
Pengawas Pemilu Tonga, Pita Vuki, sebelumnya menyatakan bahwa keakuratan daftar pemilih perlu segera dibenahi. Ia juga membuka kemungkinan pemungutan suara di luar negeri. Saat ini, hanya warga yang berada di Tonga pada hari pemungutan suara yang dapat berpartisipasi, sehingga banyak pekerja migran dan mahasiswa di luar negeri tidak dapat menggunakan hak pilihnya.
Kerajaan Tonga di Polinesia Pasifik
Kerajaan Tonga merupakan negara kepulauan merdeka di Oseania yang termasuk dalam rumpun budaya Polinesia. Tonga dikenal sebagai satu-satunya monarki pribumi di Pasifik yang tidak pernah sepenuhnya dijajah oleh kekuatan asing.
Raja Tonga saat ini, sekaligus raja ketujuh sejak konstitusi tahun 1845, adalah Yang Mulia Raja Tupou VI. Nama lengkapnya adalah ʻAhoʻeitu ʻUnuakiʻotonga Tukuʻaho.

Raja Tupou VI naik takhta pada 18 Maret 2012, setelah wafatnya kakaknya, Raja George Tupou V. Sebelumnya, Tupou VI pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Tonga pada periode 2000–2006.
Kerajaan Tonga menganut sistem monarki konstitusional dengan ibu kota Nukuʻalofa, serta terdiri atas banyak pulau vulkanik dan karang. Mayoritas penduduknya beragama Kristen.
Geografi dan Demografi
Lokasi: Tersebar di Samudra Pasifik Selatan, di sebelah timur Fiji dan Samoa.
Pulau: Sekitar 170–177 pulau, dengan 36–52 pulau dihuni secara permanen.
Kelompok utama: Tongatapu, Haʻapai, dan Vavaʻu.
Populasi: Sekitar 100.000 jiwa, dengan mayoritas bermukim di Pulau Tongatapu.
Pemerintahan dan Budaya
Sistem: Monarki konstitusional, dengan Raja sebagai kepala negara.
Ibu kota: Nukuʻalofa, Pulau Tongatapu.
Budaya: Sangat dipengaruhi nilai-nilai Kristen; masyarakat dikenal religius dan ramah.
Ekonomi: Bertumpu pada sektor pertanian (pisang, kelapa) serta remitansi warga Tonga di luar negeri.
Pelaut Inggris Kapten James Cook menjuluki Tonga sebagai “Friendly Islands” atau “Kepulauan Ramah” karena sambutan hangat masyarakat setempat saat kunjungannya pada abad ke-18. (*)























Discussion about this post