Jayapura, Jubi – Pengangkatan François-Noël Buffet sebagai Menteri Luar Negeri Prancis direspons positif oleh negara-negara koloni di Kepulauan Pasifik. Normalisasi situasi di Kaledonia Baru menjadi salah satu tugas mendesak untuk dituntaskan Buffet.
Sejumlah pemimpin kelompok pro-kemerdekaan Kaledonia Baru menyatakan penerimaan mereka terhadap penunjukan Buffet sebagai Menteri Luar Negeri Prancis. Mereka menilai Buffet ialah tipikal orang yang lebih mengedepankan dialog dalam menyelesaikan masalah.
“Kami ingin dia kembali ke metode diskusi dan tonggak-tonggak yang diprakarsai oleh Perjanjian Nouméa. Bagaimanapun juga kemajuan telah dicapai di bawah Perjanjian Nouméa. Kami tidak peduli apa pun, pemerintahan [yang berkuasa di Prancis], sayap kanan ataupu sayap kiri”, kata Pemimpin Partai Pembebasan Kanak (Palika) Charles Washetine, dikutip RNZ dari media lokal Kaledonia Baru, Rabu (25/9/2024).
Situasi politik dan keamanan masih tidak menentu di Kaledonia Baru, sejak kerusuhan massal pada 13 Mei silam. Buffet sebelumnya menjabat Ketua Komisi Hukum di Senat Prancis. Dia telah beberapa kali mengunjungi Kaledonia Baru, sejak 2022.
Salah satu rekomendasi mengenai normalisasi politik dan keamanan di Kaledonia Baru ialah menghendaki Prancis melanjutkan dialog untuk mendamaikan pihak yang bertikai. Sebagaimana amanat Perjanjian Nouméa 1998, Prancis harus bersikap independen dalam menengahi konflik antara kubu pro-kemerdekaan dan pro-otonomi khusus tersebut.
Jika perundingan itu dilanjutkan, pengesahan Rencana Undang Undang tentang Daftar Pemilih Tetap di Kaledonia Baru harus ditunda hingga tercapai kesepakatan bersama. Buffet juga harus hadir dalam lanjutan perundingan yang menemui jalan buntu sejak dua tahun lalu tersebut.
Presiden Persatuan Kaledonia Daniel Goa juga menyambut baik penunjukan Buffet. Namun, salah satu tokoh radikal Kaledonia Baru tersebut masih akan terus mencermati kebijakan-kebijakan Buffet di masa mendatang.
Mantan Presiden Kongres Kaledonia Baru Roch Wamytan mengaku Buffet dikenal dan mengenal Kaledonia Baru. Dia juga mengakui Buffet memiliki kapasitas mumpuni untuk membangun dialog.
Sikap penerimaan juga ditunjukkan Presiden Louis Mapou. Dia menyebut Buffet sangat memahami situasi dan kondisi di Kaledonia Baru
“Saya yakin dia adalah orang yang berpengalaman dan berpengetahuan luas tentang Kaledonia Baru. Dia telah bertemu banyak orang di sini. Kesimpulan laporannya tampaknya berisi rekomendasi yang berguna untuk memulai kembali diskusi dengan mempertimbangkan krisis besar yang sedang kami hadapi”, kata Mapou.
Sementara itu, tokoh loyalis Pro-Prancis, Presiden Partai Les Républicains Kaledonia Baru Virginie Ruffenach memuji kapasitas pribadi Buffet. Dia menyebut Buffet sebagai seorang pendengar dan penganalisis hebat.
“Dia sangat mengenal Kaledonia Baru, dia juga seorang teman. Pengetahuannya itu sangat berguna bagi Prancis maupun Kaledonia Baru,” kata Ruffenach, yang juga rekan separtai Buffet.
Reaksi Polinesia Prancis
Sambutan serupa juga bergaung di Polinesia Prancis. Tokoh pro-kemerdekaan maupun pro-Prancis sama-sama menaruh harapan besar kepada Buffet.
“Dia merupakan pilihan yang tepat. Dia seseorang yang mengetahui wilayah di seberang laut Prancis [Kepulauan Pasifik],” kata Moetai Brotherson, tokoh pro-kemerdekaan Polinesia Prancis.
Buffet, baru-baru ini melakukan perjalanan ke Polinesia Prancis sebagai bagian dari tur keliling Pasifik. Muhibah tersebut bertujuan menyerap aspirasi dari semua pihak mengenai kebijakan otonomi khusus.
Teva Rohfritsch, anggota Senat Prancis menantikan kerja sama dengan Buffet. Sementara itu, anggota terpilih Parlemen Prancis Moerani Frebault telah menyiapkan rancangan pembahasan untuk didiskusikan bersama Buffet. Materi pembahasan itu, di antaranya persoalan biaya hidup masyarakat dan rencana pengurangan anggaran untuk Kementerian Luar Negeri Prancis.
Para pemimpin Polinesia Prancis juga menyambut baik pemulihan status Kementerian Luar Negeri Prancis. Kementerian tersebut sebelumnya merupakan subkementerian di bawah Kementerian Dalam Negeri Prancis, dan dipimpin seorang delegasi, sejak empat tahun lalu. (*)























Discussion about this post