• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Mengapa pelajar Papua menolak MBG?

February 24, 2025
in Opini
Reading Time: 5 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Timoteus Marten
Aksi demo Solidaritas Pelajar West Papua menolak MBG di Kota Jayapura, Papua pada Senin (17/2/2025).-Jubi/Larius Kogoya.

Aksi demo Solidaritas Pelajar West Papua menolak MBG di Kota Jayapura, Papua pada Senin (17/2/2025).-Jubi/Larius Kogoya.

0
SHARES
96
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Oleh: Fabianus John Berek*

Berbagai pemberitaan di media massa beberapa minggu terakhir, menginformasikan bahwa program prestisius Presiden Prabowo Subianto yaitu Makan Bergizi Gratis atau MBG gagal mendapat simpati dari para pelajar di tanah Papua. Berbagai pelajar di Yahukimo, Jayapura, Nabire, Dogiyai maupun Manokwari kembali melancarkan aksi protes terhadap program ini.

Mereka melakukan protes dengan menggelar sejumlah aksi damai di beberapa kota besar di tanah Papua.

Maraknya aksi protes ini menunjukkan bahwa para pelajar Papua, memiliki cara pandang yang berbeda dengan pemerintah pusat, dalam menyelesaikan persoalan pendidikan di tanah Papua.

Aksi ini pun lantas menghebohkan seluruh warga Indonesia, sekaligus melahirkan berbagai pertanyaan reflektif seperti: mengapa hal ini bisa terjadi? Alasan Apa yang mendasari penolakan program nasional ini? Pelajaran apa yang dapat diperoleh dari aksi protes ini?

Alasan penolakan MBG di Papua

Kebijakan top down dan sentralistis

BERITATERKAIT

Masyarakat sipil Papua Barat menyerukan akses untuk PBB dan Pasifik

Koalisi tagih janji Prabowo selesaikan masalah politik Papua secara damai

Wagub Papua apresiasi Papuan Leaders Bootcamp II

Kunjungan Sekjen PBB mesti menjadi momentum membuka masalah dekolonisasi Papua Barat

Penolakan MBG hendak menunjukkan, bahwa pemerintah pusat yang dikomandoi secara sentralistis dan top down, mengikuti watak rezim Orde Baru gagal mengidentifikasi akar persoalan pendidikan di Papua.

Kebijakan publik yang dirumuskan secara top down dan sentralistis mengakibatkan substansi kebijakan, gagal mengakomodasi sejumlah aspirasi dan tuntutan yang disuarakan berbagai lapisan masyarakat di berbagai daerah.

Sama halnya dengan program MBG  yang dirumuskan secara terpusat oleh Pemerintah Pusat, dengan agenda menjalankan visi besar presiden ternyata membawa konsekuensi besar yang tak dapat dihindari.

Sejak awal program ini lahir dari janji kampanye presiden, yang kemudian dipaksakan secara terpusat, dengan menggunakan kekuasaan yang sentralistis. Alih-alih mengatasi permasalahan, program ini sudah menuai penolakan sebelum diimplementasikan di tanah Papua.

Kebijakan publik seyogyanya tidak dirumuskan dan diformulasikan secara terpusat dan eksklusif.

Seharusnya kebijakan ini perlu menyaring berbagai aspirasi masyarakat Papua, diantaranya, para pelajar Papua yang notabene merupakan subjek atau target penerima kebijakan.

Ruang diskusi dan partisipasi inklusif sudah seharusnya dibuka secara lebar pada tahap formulasi kebijakan MBG ini.

Berbagai stakeholder terkait yang menyelenggarakan proses pendidikan di Papua, perlu diajak diskusi guna mendapatkan masukan, saran dan input kebijakan.

Hal ini dimaksudkan untuk menampung dan menjaring berbagai aspirasi masyarakat Papua, yang tentunya berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia.

Pengabaian terhadap hal ini mengakibatkan kebijakan MBG hanya merupakan agenda pemerintah pusat, yang sama sekali tidak relevan dan kontekstual dengan permasalahan di level daerah.

Dengan kata lain, praktik manajemen pemerintahan dengan gaya sentralistis dan top down hanya melahirkan kebijakan yang tidak inklusif, dan tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat Papua.

Upaya desentralisasi dan pengingkaran otonomi daerah

Aksi demo Solidaritas Pelajar West Papua menolak MBG di Kota Jayapura, Papua pada Senin (17/2/2025).-Jubi/Larius Kogoya.
Aksi demo Solidaritas Pelajar West Papua menolak MBG di Kota Jayapura, Papua pada Senin (17/2/2025).-Jubi/Larius Kogoya.

Dampak lanjutan dari perumusan kebijakan MBG secara sentralistis, menunjukkan pemerintah gagal memahami esensi dari otonomi daerah atau yang dikenal dengan nama desentralisasi. Akhir-akhir ini semua kebijakan, termasuk MBG, diputuskan secara terpusat tanpa mempertimbangkan apakah semua daerah di Indonesia memiliki permasalahan yang sama, sehingga membutuhkan solusi yang sama pula.

Seharusnya pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan, untuk merumuskan kebijakan strategis di setiap daerah, karena pemerintah daerahlah yang mengenal dan memahami persoalan di daerahnya.

Padahal amanat Undang-Undang Otonomi Khusus atau UU Otsus Papua telah memberikan keberpihakan dan sejumlah afirmasi kepada orang asli Papua (OAP), dalam menempuh pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan ini.

Komitmen ini yang perlu diperkuat dan ditingkatkan melalui tata kelola pemerintahan daerah yang baik, bukan malah mendikte pembuatan kebijakan pendidikan secara terpusat,yang akhirnya melemahkan kewenangan khusus pemerintah daerah di Papua.

Status Otsus Papua seharusnya sudah jelas menunjukkan bahwa proses perumusan kebijakan di tanah Papua, perlu memperhatikan kepentingan, tuntutan dan aspirasi OAP itu sendiri.

Situasi akhir-akhir ini malah menunjukkan sebuah pembangkangan dan pengingkaran terhadap Otsus Papua.

Otsus Papua menegaskan keberpihakan secara politik, ekonomi sosial dan budaya, terhadap kepentingan dan aspirasi OAP.

Bukan sebaliknya pemerintah pusat yang mengambil alih semua perumusan kebijakan yang bersifat nasional, dengan mengabaikan aspirasi masyarakat setempat.

Berbagai kondisi tata kelola seperti saat inilah yang menunjukkan adanya upaya desentralisasi otonomi daerah di Indonesia.

Gagal mendiagnosis masalah 

Penolakan MBG menunjukkan pemerintah pusat gagal mendiagnosis akar permasalahan pendidikan di Papua. Tahapan perumusan dan formulasi kebijakan, sama sekali tidak memperhatikan substansi permasalahan.

Dalam hal ini perlu diperhatikan struktur dan anatomi masalah pendidikan di Papua, yang tentunya memiliki karakteristik, tingkat kerumitan dan solusi yang berbeda dengan wilayah lainnya di Indonesia.

Hasil riset Ibaadurrahman dkk (2024) menunjukkan pendidikan di Papua masih menemui sejumlah tantangan, seperti, minimnya infrastruktur, kekurangan tenaga pengajar, dan kesenjangan kualitas pendidikan masih signifikan.

Tingginya disparitas kualitas pendidikan di Papua, seharusnya menjadi isu utama pembuatan kebijakan publik di bidang pendidikan. Studi ini juga menegaskan masih terdapat sejumlah tantangan struktural, geografis dan kultural, yang turut mewarnai sejumlah masalah pendidikan di Papua.

Tidak hanya hasil riset, data Statistik Pendidikan yang dirilis BPS tahun 2024 juga masih menunjukkan hal yang sama, bahwa kualitas pendidikan pada semua aspek dan Indeks Pembangunan Manusia di Papua, masih menempati urutan terakhir di Indonesia.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa masalah pendidikan di Papua tidaklah tunggal, melainkan bersifat kompleks dan tidaklah sederhana.

Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan tidak serta-merta dengan MBG. Ada jurang pemisah yang tegas, antara tujuan kebijakan MBG dengan realitas permasalahan pendidikan di Papua.

Pada titik inilah kebijakan MBG sama sekali bukan merupakan jawaban, dari berbagai persoalan pendidikan di tanah Papua.

Wajar saja dan dapat dipahami apabila para pelajar Papua lebih memilih pendidikan gratis daripada MBG.

Aksi protes pelajar Papua ingin menyampaikan bahwa praktik kebijakan one size fits all yang sedang diterapkan pemerintah saat ini perlu ditinggalkan, karena tidak relevan dan kontekstual dengan sejumlah persoalan di daerah.

Pengabaian partisipasi publik

Ilustrasi MBG - Dok. Jubi
Ilustrasi MBG – Dok. Jubi

Pengolahan program MBG mengindikasikan minimnya ruang diskusi dan partisipasi, yang dilakukan pada tahap penjaringan aspirasi masyarakat Papua. Ruang partisipasi yang minim dan tertutup mengakibatkan program ini gagal menjawab inti persoalan pendidikan di Papua.

Berbagai stakeholder yang berkecimpung di urusan pendidikan di Papua seperti para pelajar, tenaga pengajar, tokoh masyarakat, tokoh adat, lembaga agama, dan berbagai unsur pemerintah daerah setempat, tidak mendapatkan ruang partisipasi yang layak, sehingga aspirasi mereka pun sama sekali tidak diperhitungkan. Apalagi diakomodasi dalam substansi kebijakan.

Proses perumusan kebijakan yang tertutup dan eksklusif seperti ini, hanya akan mendatangkan sejumlah penolakan dan resistensi dari penerima kebijakan. Sama halnya dengan program MBG di Papua, yang berakhir dengan sejumlah penolakan massal oleh pelajar Papua.

Pemerintah seharusnya membuka diskusi publik, khususnya, di Papua karena persoalan pendidikan di Papua, membutuhkan penanganan yang berbeda.

Penyelenggara urusan pendidikan di Papua pun melibatkan berbagai lembaga keagamaan, yang tentunya pihak-pihak ini pun perlu didengar aspirasinya.

Pengabaian partisipasi publik dalam penjaringan aspirasi pada gilirannya hanya melahirkan suatu kebijakan yang tidak relevan dan tidak menjawab akar persoalan.

Solusi

Perubahan kebijakan MBG merupakan hal mendesak, dengan memperhatikan sejumlah permasalahan inti di bidang pendidikan, yang selama ini dirasakan oleh para pelajar di Papua. Mulai dari aspek ketersediaan fasilitas pendidikan, kemudahan akses terhadap layanan pendidikan, kualitas pendidikan, kualitas dan kuantitas tenaga pengajar, ketersediaan dan keberlanjutan pembiayaan pendidikan dan masalah tata kelola pemerintah daerah, perlu menjadi agenda kebijakan pemerintah, agar kebijakan pendidikan di Papua bisa menyelesaikan sejumlah persoalan ini.

Program MBG yang menelan anggaran besar dinilai kurang efektif dan tidak menjawab akar persoalan. Oleh karena itu, sebaiknya program MBG ini dikombinasikan atau disinergikan dengan berbagai program peningkatan kualitas pendidikan di Papua secara menyeluruh, seperti meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga pengajar, bantuan biaya sekolah sampai jenjang pendidikan tinggi, perbaikan infrastruktur, dan tata kelola urusan pendidikan di Papua.

Kolaborasi antara lembaga pemerintah, sektor swasta dan lembaga keagamaan dalam memajukan pendidikan di Papua perlu dilakukan.

Selain itu, pemerintah daerah pun perlu meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan yang memadai dengan berpedoman pada desain Otsus Papua.

Tata kelola pemerintahan atau manajemen pemerintahan di Papua, perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat. Hal ini dilakukan untuk memastikan pemerintah daerah mampu memberikan pelayanan pendidikan secara prima sebagaimana diharapkan.

Terutama OAP harus menjadi prioritas penerima manfaat semua kebijakan di bidang pendidikan. Hal ini dilakukan guna menjamin rasa keadilan dan percepatan pembangunan manusia di tanah Papua. (*)

*Penulis adalah praktisi Pemerintahan di Pemkab Deiyai, Provinsi Papua Tengah

Tags: MBGPapua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Masyarakat sipil Papua Barat

Masyarakat sipil Papua Barat menyerukan akses untuk PBB dan Pasifik

October 22, 2026
Janji Prabowo selesaikan masalah Papua

Koalisi tagih janji Prabowo selesaikan masalah politik Papua secara damai

October 20, 2026

Wagub Papua apresiasi Papuan Leaders Bootcamp II

October 20, 2026

Kunjungan Sekjen PBB mesti menjadi momentum membuka masalah dekolonisasi Papua Barat

October 19, 2026

Gubernur Nawipa: Gereja berperan penting dalam pembangunan masyarakat Papua

October 17, 2026

Kriya Papua Ticha tampil di pameran internasional Korea Selatan

October 16, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Papua rights group reports alleged military abuses in Tolikara
23 October 2026
Papua rights group reports alleged military abuses in Tolikara

Jayapura, Jubi – The Papua Justice and Human Integrity Foundation (YKKMP) has reported alleged military sweeps, intimidation, interrogations and physical [...]

Ateta clan boycotts Genting Oil activities on customary land
23 October 2026
Ateta clan boycotts Genting Oil activities on customary land

Jayapura, Jubi – The Ateta clan, an Indigenous customary law community of the Sumuri people in Teluk Bintuni Regency, West [...]

Klagilit clan demands accountability from coal mining companies
22 October 2026
Klagilit clan demands accountability from coal mining companies

Sorong, Jubi – The Indigenous Moi community’s Klagilit clan has called on PT Megapura Prima Industri (MPI) and PT Gelora [...]

Papua children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua wins Global Peace and Friendship award  
22 October 2026
Papua children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua wins Global Peace and Friendship award  

Jayapura, Jubi – Indonesian children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua has won the Global Peace and Friendship [...]

Documentary Pesta Babi screened 17 times across Europe
21 October 2026
Documentary Pesta Babi screened 17 times across Europe

Jayapura, Jubi – The documentary Pesta Babi (Pig Feast) – Colonialism in Our Time was screened 17 times across several [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Tambang emas Makimi

Berebut emas di Makimi, masyarakat adat dapat apa?

October 23, 2026
Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

Dinkes Papua Tengah upayakan peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

October 23, 2026
Pembakaran hutan

Warga mengecam dugaan pembakaran hutan di Distrik Libarek

October 23, 2026
Undang-undang Media Sosial Fiji

PM Fiji mempertimbangkan adanya undang-undang media sosial

October 23, 2026
Australia dan Indonesia

Australia dan Indonesia memperdalam kemakmuran melalui kerja sama ekonomi

October 23, 2026
El Nino terkuat

El Nino terkuat yang pernah tercatat

October 23, 2026
Ikan mati di Kepulauan Solomon

Puluhan ikan mati di sepanjang garis pantai Munda Kepulauan Solomon

October 23, 2026
El Nino terkuat

El Nino terkuat yang pernah tercatat

October 23, 2026
Ikan mati di Kepulauan Solomon

Puluhan ikan mati di sepanjang garis pantai Munda Kepulauan Solomon

October 23, 2026
Pengembangan pertanian dan perikanan di Mamberamo Raya

Pemkab Mamberamo Raya jajaki kerja sama pengembangan pertanian dan perikanan

October 23, 2026
Pemkab Jayapura lengkapi dokumen kerja

Pemkab Jayapura lengkapi dokumen kerja sama dengan PT Palma Pertiwi Makmur

October 22, 2026
Pemkab siapkan lokasi bagi siswa SD Inpres Doyo

Pemkab siapkan lokasi belajar sementara bagi siswa SD Inpres Doyo Baru

October 22, 2026
YKKMP laporkan penyisiran dan penganiayaan

YKKMP laporkan penyisiran dan dugaan penganiayaan penyandang disabilitas di Tolikara

October 22, 2026
Film dokumenter pesta babi di Eropa

Film dokumenter Pesta Babi diputar 17 kali di sejumlah negara Eropa

October 21, 2026
Tambang emas Makimi

Berebut emas di Makimi, masyarakat adat dapat apa?

0
Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

Dinkes Papua Tengah upayakan peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

0
Pembakaran hutan

Warga mengecam dugaan pembakaran hutan di Distrik Libarek

0
Undang-undang Media Sosial Fiji

PM Fiji mempertimbangkan adanya undang-undang media sosial

0
Australia dan Indonesia

Australia dan Indonesia memperdalam kemakmuran melalui kerja sama ekonomi

0
El Nino terkuat

El Nino terkuat yang pernah tercatat

0
Ikan mati di Kepulauan Solomon

Puluhan ikan mati di sepanjang garis pantai Munda Kepulauan Solomon

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : [email protected]

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara