Jayapura, Jubi – Sistem Pemantau Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan milik Badan Restorasi Gambut dan Mangrove atau BRGM, lumpuh total. Gangguan itu imbas dari peretasan terhadap peladen atau server Pusat Data Nasional, beberapa waktu lalu.
Kepala BRGM Hartono membenarkan bahwa Sistem Pemantau Air Lahan Gambut (Sipalaga) mengalami gangguan akibat peretasan terhadap server Pusat Data Nasional (PSN). Sampai saat ini, mereka belum bisa mengoperasikan Sipalaga.
“Sipalaga terkena gangguan [peretasan] PDN. Sampai saat ini, semua masih belum bisa dioperasikan,” kata Kepala BRGM Hartono, seusai membuka Diskusi Publik Mangrove For Future di Jakarta, Jumat (26/7/2024).
Sipalaga merupakan inovasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan dioperasikan BRGM sejak 2019. Ada 120 Sipalaga terpasang di tujuh provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Sejumlah kelompok masyarakat dampingan BRGM memanfaatkan Sipalagi untuk mengecek ketinggian muka air di lahan gambut saat musim kemarau. Data dari lapangan tersebut kemudian diunggah ke jaringan terintegrasi Sipalaga. Petugas maupun masyarakat umum bisa memantau data itu secara langsung selama 60 menit sekali melalui telepon seluler.
Akibat Sipalaga rusak, data pemantauan ketinggian air gambut pun dilakukan secara manual. BRGM telah memberitahu seluruh tim lapangan mengenai pemberlakuan tersebut.
Kerusakan Sipalagi terjadi di tengah maraknya kembali kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan. Sumber air yang mengering akibat kemarau panjang menyulitkan tim pemadam untuk menanggulangi kebakaran.
BERITATERKAIT
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau mencatat ada lebih 1.000 hektare lahan terbakar pada 23 Juli lalu. Luasan tersebut bertambah sebanyak 13 hektare jika dibandingkan dengan akhir bulan lalu.
Titik api pertama kebakaran hutan dan lahan di Riau terdeteksi di Bengkalis. Belum selesai kebakaran tersebut diatasi, titik api lain juga bermunculan di kabupaten lain.
“Wilayah yang terbakar sedang mengalami hari tanpa hujan cukup Panjang. Sumber air terus mengering sehingga mempersulit penyiraman [pemadaman kebakaran] oleh tim gabungan darat,” Kepala Pelaksana BPBD Riau Gafur.

Kabut asap
Kebakaran lahan juga melanda delapan kecamatan di Aceh Barat. Tercatat ada lebih 11 hektare lahan gambut terbakar di kabupaten tersebut, hingga Jumat.
“Kebakaran lahan menyebabkan asap tebal, berkurangnya vegetasi tumbuhan, serta mematikan tanaman produktif masyarakat. Pihak berwajib [polisi] masih menyelidiki penyebab kebakaran,” kata Pelaksana Tugas Kepala BPBD Aceh Barat Teuku Ronal Nehdiansyah, di Meulaboh.
BPBD Aceh Barat mengerahkan sejumlah sarana dan armada untuk memadamkan kebakaran. Mereka pun dibantu tentara, polisi, Brigade Manggala Agni, dan masyarakat.
BPBD Nagan Raya juga masih terus berupaya memadamkan kebakaran terhadap 12 hektare lahan. Sekitar 10 hektare lahan tersebut berada Gampong Padang Panyang, Kecamatan Kuala Pesisir, Aceh.
“Pemadaman terkendala karena terbatasnya sumber air, dan akses jalan ke lokasi kebakaran. Arah angin yang berubah-ubah juga menjadi kendala dalam memadamkan kebakaran lahan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Nagan Raya Irfanda Rinaldi.
Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kebakaran lahan terjadi sebanyak 21 kali dalam sebulan terakhir. BPBD Palangkaraya mencatatat kebakaran tersebut menghanguskan 9,17 hektare lahan.
“Kebakarannya sudah ada yang mendekati wilayah pemukiman. Salah satunya di kawasan Jalan Delin Bangkan Lingkar Luar. Namun, semua berhasil ditangani dengan baik,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangkaraya Heri Fauzi.

Sengaja dibakar
Di Bengkulu, polisi mendapati lahan gambut diduga sengaja dibakar warga di Desa Kota Praja, Kabupaten Mukomuko. Warga membakar lahan tersebut untuk ditanami kelapa sawit.
“Lahan itu milik Nirwan, 46 tahun, ASN [aparatur sipil negara] dari Desa Bandar Ratu, Kecamatan Kota Mukomuko. Adapun yang mengurusi lahannya ialah Yono, 58 tahun, petani Desa Kota Praja, Kecamatan Air Manjuto,” kata Kepala Kepolisian Resor Mukomuko Ajun Komisaris Besar Yana Supriatna.
Berdasarkan keterangan saksi mata kepada polisi, pembakaran lahan gambut tersebut dimulai pada Kamis pagi. Api pembakarannya dibiarkan terus menyala dengan tanpa penjagaan dari pengurus lahan.
“Pengurus lahan tidak ada di lokasi. Bhabinkamtibmas sudah menghubunginya, tetapi dia tidak datang dan membantu memadamkan api,” ujar Yana.
Luas Lahan yang terbakar tersebut kurang lebih 2 hektare. Jaraknya sekitar 10 meter dari permukiman penduduk.
Menurut Yana, lahan itu masih mengeluarkan asap tebal meskipun apinya telah dipadamkan regu pemadam kebakaran. Diduga, kebakaran tersebut telah merambat ke bawah lapisan tanah bagian bawah. (*)


























