Jakarta, Jubi – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mewajibkan warga Kota Pekalongan dan Kabupaten Batang, segera beralih menggunakan rumah berbahan material tahan gempa. Itu lantaran kedua wilayah tersebut termasuk daerah rawan gempa di Jawa Tengah.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan wilayah Pekalongan–Batang berada pada jalur sesar aktif yang rawan gempa. Pernyataannya itu merujuk pada hasil penelitian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) 2017.
“Penelitian Pusgen pada 2017 mendapati sesar aktif di segmen Pekalongan mampu memicu gempa hingga mencapai magnitudo 6,5 dan berpotensi merusak. Penelitian itu terbukti, setidaknya melalui gempa pada Minggu,” kata Daryono, Senin (8/7/2024).
Gempa pada Minggu tersebut bermagnitudo 4,4 dan diikuti tiga kali gempa susulan bermagnitudo 1,9. Gempa utama berkedalaman 6 kilometer itu merusak sejumlah bangunan dan melukai warga.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Senin siang, terdapat 49 rumah rusak akibat gempa di Batang. Perinciannya, sebanyak lima rumah rusak berat, 12 rumah rusak sedang dan 32 rumah rusak ringan. Gempa juga merusak 11 fasilitas umum berupa rumah ibadah, sekolah, dan pasar.
BNPB pun mendata setidaknya empat warga terluka akibat runtuhan bangunan saat gempa. Para korban tersebut telah dirujuk berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah Kalisari, Batang.
“Karena itu, masyarakat Batang, dan Pekalongan wajib menerapkan mitigasi struktural dan nonstruktural. Mereka harus membuat bangunan berstruktur kuat ataupun tahan gempa, dan memahami keterampilan menyelamatkan diri saat gempa,” kata Daryono.

Sesar aktif
BMKG Stasium Geofisika Banjarnegara menyebut ada 13 sesar aktif berpotensi gempa di Jawa Tengah. Salah satu rekahan lempeng tektonik itu berada di perbatasan wilayah Kabupaten Batang dengan Kota Pekalongan.
“Sesar aktif itu beberapa kali mengalami pergerakan sehingga menimbulkan kegempaan dengan kekuatan bervariasi. Gempa terbesar terjadi di Wilayah Kabupaten Batang pada Minggu,” kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara Hery Susanto Wibowo.
Namun, dia memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami karena terjadi di darat. Adapun daya rusaknya bergantung pada jarak pusat gempa dengan bangunan, lokasi dan kekuatan bangunan, serta kondisi tanahnya.
“Gempa di Batang terindikasi dari [pergerakan] sesar Pekalongan. Sesar ini salah satu segmen Belibis-Gendeng,” ujar Herry.
Dia juga mengimbau warga setempat membangun rumah dengan material tahan terhadap gempa. Menurutnya, sebagian besar bangunan yang selamat dari gempa di Batang karena berpondasi kokoh. Penghuninya juga terampil dalam menyelamatkan diri.
“Sekitar 80 persen orang yang selamat dari bencana itu biasa karena dapat menyelamatkan diri. Kami juga mengingatkan warga tenang saat pascagempa,” ujar Herry.

Gempa pertama
Gempa pada Minggu merupakan yang pertama di Batang dalam dua dekade terakhir. Episentrum gempa berada pada sekitar 5 kilometer ke arah timur laut Batang.
“Selama ini, gempa tektonik sering kali terjadi di wilayah selatan Batang, yang berbatasan dengan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara. Aktivitas tektoniknya sering terjadi sejak 2023,” kata Herry.
Dia menjelaskan berdasarakan riset Pusgen pada 2017, potensi gempa di Batang dan Pantai Utara Jawa Tengah bisa mencapai lebih 6 magnitudo. Karena itu, dia meminta warga setempat memerhatikan kondisi bangunan masing-masing.
“Batang, pekalongan, dan wilayah di sekitarnya memiliki sesar tektonik. Ada potensi gempanya, tetapi semua tidak tahu kapan itu akan terjadi,” ujarnnya.
Herry pun mengimbau warga tidak panik saat menghadapi gempa. Mereka juga jangan mudah percaya terhadap informasi yang tidak jelas sumbernya. “Jika mendapatkan informasi mengenai gempa, silakan hubungi BMKG ataupun BPBD.” (*)























Discussion about this post