Sentani, Jubi – Pemilik ulayat lahan tempat bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres Harapan, Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua akhirnya membuka palang di gerbang masuk sekolah itu, Rabu (5/8/2026).
Akses masuk ke SDN Inpres Harapan (dalam pemberitaan Jubi sebelumnya disebut SD Lentara Harapan) dipalang pemilik ulayat hampir empat bulan, lantaran sengketa pembayaran lahan. Situasi itu membuat proses belajar mengajar di sekolah itu terhambat.
Pemilik hak ulayat, Godlief Ohee mengatakan pembukaan palang dilakukan setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura menindaklanjuti tuntutan orang tua murid melalui aksi damai sehari sebelumnya.
Ketika itu Bupati Jayapura, Yunus Wonda berjanji akan segera mengundang pemilik ulayat untuk berdialog, guna mencari solusi terbaik.
“Hasil dari aksi damai yang kemarin dilakukan oleh orang tua murid telah ditanggapi serius oleh bapak Bupati Jayapura, sehingga kami telah menemui satu titik solusi yang terbaik,” kata Godlief Ohee, Rabu.
Menurutnya, itu menjadi dasar bagi pemilik ulayat untuk membuka kembali akses masuk ke sekolah, agar para siswa tidak kehilangan hak memperoleh pendidikan.
“Pagi hari ini kami bersepakat membuka palang supaya anak-anak kami bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. Orang tua murid bersama-sama dengan kami membersihkan halaman sekolah dan guru-guru dipersilakan kembali melakukan proses belajar mengajar,” ujarnya.
Katanya, pembukaan palang itu merupakan bagian dari kesepakatan yang telah dibangun bersama Bupati Jayapura. Penyelesaian masalah tanah akan tetap dilakukan dengan mengedepankan penghormatan terhadap hak masing-masing pihak.
“Kami sudah membuat satu kesepakatan dengan Bapak Bupati. Intinya saling melihat hak. Kalau pemerintah sudah memperhatikan hak kami, kami juga memperhatikan hak belajar mengajar anak-anak. Kami profesional dalam hal ini,” ucap Ohee.
Kepala Distrik Sentani Timur, Wiklif Mebri mengatakan ia ditugaskan bupati mendampingi orang tua murid dan para guru membersihkan lingkungan sekolah, agar proses belajar mengajar dapat segera dimulai kembali.
“Sesuai janji pak bupati, hari ini anak-anak SD sudah bisa kembali ke sekolah. Saya ditugaskan mendampingi orang tua dan guru untuk bersih-bersih di sekolah. Terkait persoalan tanah, pak bupati sudah menyelesaikannya dengan pihak pemilik hak ulayat sehingga hari ini kami membuka palang,” kata Mebri.
Ia berharap, masalah serupa tidak kembali terjadi di wilayah Distrik Sentani Timur. Seluruh pihak dipandang perlu mengedepankan dialog dan menjaga kebersamaan agar hak anak memperoleh pendidikan tidak terganggu.
Perwakilan pihak sekolah, Andreas Resdianto menyambut baik pembukaan akses masuk ke sekolah. Sebab, selama empat bulan terakhir siswa SD terpaksa belajar di gedung SMP dan SMA, sehingga proses pembelajaran tidak maksimal.
“Kami bersyukur sekolah sudah dibuka kembali dan berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura serta pemilik hak ulayat yang sudah mengizinkan pembukaan akses,” kata Andreas Resdianto.
Menurut Resdianto, selama sekolah dipalang pihaknya harus mengatur pembagian jadwal belajar antara siswa SD, SMP, dan SMA karena keterbatasan ruang kelas.
Awalnya siswa SD belajar pada pagi hari hingga pukul 11.00 WIT, sedangkan siswa SMP dan SMA belajar siang hingga sore. Sepekan terakhir jadwal tersebut kembali diubah agar dapat menyesuaikan kebutuhan pembelajaran, namun tetap dinilai tidak efektif.
“Pembelajaran memang tidak maksimal. Minggu ini anak-anak SD belajar dari rumah karena SMA juga sedang mempersiapkan ujian. Harapan kami, kalau ada persoalan silakan diselesaikan, tetapi sekolah tetap dibuka supaya anak-anak bisa terus belajar,” ujarnya.
Katanya, kondisi sekolah yang ditinggalkan selama berbulan-bulan membutuhkan pembersihan sebelum digunakan kembali. Pembersihan akan melibatkan orang tua murid bersama pihak sekolah.
Kapolsek Sentani Timur, Iptu Zeth Paundanan mengatakan pembukaan palang berlangsung dalam situasi aman dan kondusif.
Menurutnya, masyarakat adat bersama orang tua murid telah membuka akses menuju sekolah, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pembersihan lingkungan sekolah.
“Kami bersyukur setelah sekitar empat bulan akhirnya akses menuju sekolah bisa dibuka. Ini tidak terlepas dari respons cepat Bupati Jayapura yang memberikan perhatian sehingga ada titik terang bagi kelangsungan proses belajar mengajar,” kata Zeth Paundanan.
Sementara itu, salah satu orang tua siswa, Yully Ohe Tanamal mengapresiasi langkah Pemkan Jayapura yang merespons cepat aspirasi masyarakat, sehingga aktivitas belajar mengajar di SDN Inpres Harapan dapat kembali berlangsung.
“Sekarang anak-anak sekolah sudah bisa belajar seperti biasa kembali. Harapan saya, jangan terulang lagi pemalangan berikutnya karena ini sudah berulang kali terjadi,” kata Yully Tanamal.
Ia berharap pemerintah daerah bersama pemilik hak ulayat segera membuat kesepakatan tertulis sebagai jaminan agar persoalan serupa tidak kembali mengganggu pendidikan anak-anak.
Yully Tanamal bersyukur karena penyelesaian persoalan berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Saat aksi damai digelar, pemerintah menyampaikan penyelesaian diperkirakan membutuhkan waktu dua hingga tiga pekan, namun pembukaan palang dapat direalisasikan sehari setelah aspirasi disampaikan.
“Kami sangat senang. Kemarin kami menyampaikan aspirasi agar pemerintah memperhatikan persoalan ini. Ternyata hari ini sudah bisa dibuka. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan karena doa-doa kami dijawab,” ujarnya. (*)





















Discussion about this post