Rusaknya hutan rawa bush, sagu dan hijrahnya ikan kakap rawa

Penulis: Dominggus A. Mampioper
Editor: Arjuna Pademme

Jayapura, Jubi – Masyarakat adat suku Marind di Papua Selatan menamakan ikan kakap rawa secara lokal sebagai ipni, ikan kakap rawa ini salah satu ikan favorit di Kota Merauke.

“[Rasanya] enak, gurih dan lebut seperti mengunyah karet terutama bagian kulitnya,” begitulah kata para pelancong yang menikmati kuliner di Kota Rusa, Provinsi Papua Selatan itu.

Ikan kakap rawa termasuk salah satu ikan andalan yang selalu dicari nelayan menggunkan kapal hingga melewati tapal batas negara di Papua Nugini (PNG).

Masyarakat lokal, khususnya orang Marind menyebut ikan ini, kakap rawa karena habitatnya seringkali berada di area rawa-rawa payau, sungai besar dan wilayah mangrove di Papua Selatan.

Namun dalam dunia perikanan, ikan kakap rawa dikenal dengan nama resmi kakap putih atau disebut pula barramundi dengan nama ilmiah, lates calcarifer.

Ikan kakap putih ini sanggup hidup pada tiga jenis air yaitu asin, payau dan tawar. Tak heran kalau orang Marind menyebutkannya ipni atau ikan kakap rawa.

Menurut orang Marind, ikan kakap rawa dewasa memijah di laut, tapi benih dan ikan mudanya berimigrasi masuk jauh ke pedalaman melalui muara sungai hingga ke rawa-rawa.

BERITATERKAIT

Perubahan bentangan alam besar-besaran jelas memberi dampak terutama putusnya rantai makanan dalam sebuah ekosistem dan lingkungan.

Bayangkan saja perubahan hutan bush, dusun sagu dan savana menjadi salah satu areal perkebunan luas berhektar-hektar, yang jelas menjadi ancaman lingkungan dan juga ekosistem.

Meski para perencana pembangunan berdalih di Papua Selatan masih ada kawasan konservasi, Taman Nasional Wasur yang menjadi lahan basah terluas di Papua, namun mampukah Taman Nasional Wasur menahan laju perubahan bentangan alam di tengah tantangan perubahan iklim termasuk El Nino 2026.

“Konsentrasi titik api yang tinggi di dalam kawasan Food Estate menjadi temuan penting. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan yang diproyeksikan sebagai pusat produksi pangan nasional justru telah menghadapi tekanan ekologis sejak tahap awal pengembangannya,” kata Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye Eksekutif Nasional WALHI belum lama ini.

Menurutnya, kebakaran yang akan berulang di kawasan seperti ini tidak dapat dipandang sebagai peristiwa alam semata. Melainkan harus dibaca sebagai bagian dari perubahan bentang alam yang berlangsung secara massif

Katanya, perubahan tutupan hutan, pembukaan lahan, pembangunan jaringan jalan, hingga pengeringan kawasan rawa dan lahan basah akan meningkatkan kerentanan suatu bentang alam terhadap kebakaran.

Papua Selatan selama ini dikenal sebagai wilayah yang didominasi hutan dataran rendah, rawa, gambut dan ekosistem basah yang secara alami memiliki kemampuan menjaga kelembapan lanskap.

“Ketika bentang alam tersebut dikonversi menjadi kawasan produksi berskala besar, karakter ekologisnya ikut berubah sehingga lebih rentan mengalami kebakaran pada musim kering,” ucap Uli Arta Siagian.

Hijrahnya ikan kakap putih ke PNG

Rusaknya habitat asli dan perubahan bentangan alam di Papua Selatan menjadi salah satu indikator ikan-ikan kakap putih berpindah ke lokasi di wilayah Trans Fly yang lebih aman dan masih alami.

Hal ini terbukti dengan banyaknya nelayan kapal bermotor Indonesia ditangkap berkali-kali ke wilayah negara tetangga, PNG.

Salah satu nelayan asal Bulukumba Sulawesi Selatan di Pantai Lampu Satu Merauke kepada Jubi mengaku, mereka sering mencari ikan kakap putih untuk mengambil gelembungnya sampai ke wilayah Papua Nugini.

“Iya [kami nelayan Merauke] sering mencari sampai ke PNG,” katanya belum lama ini.

Ekosistem yang baik, jelas memberikan kelimpahan sumber daya alam termasuk ikan kakap putih atau kakap rawa.

Secara keseluruhan, ekosistem di kawasan Trans-Fly (wilayah sabana dan lahan basah) di wilayah PNG, masih dalam kondisi sangat baik dan relatif utuh dibandingkan wilayah tropis lainnya di Asia-Pasifik.

Kawasan ini sangat terpencil, berpenduduk jarang, dan sebagian besar dilindungi. Sekitar sepertiga wilayah ini dilindungi, terutama melalui Tonda Wildlife Management Area, juga berstatus sebagai Lahan Basah Penting Internasional (Ramsar).

Nelayan Indonesia sudah tertangkap, bahkan ditembak mati di perairan PNG gara-gara mengejar ikan kakap putih untuk diambil gelembungnya saja.

Laporan terkini, 14 Juli  tiga kapal nelayan asal Merauke, Papua Selatan, dilaporkan mengalami musibah di perairan Papua Nugini. Satu kapal dipastikan tenggelam, sementara dua kapal lainnya masih belum diketahui keberadaannya.

Belasan anak buah kapal (ABK) yang berada di ketiga kapal tersebut hingga kini juga belum diketahui nasibnya.

Informasi yang diperoleh menyebutkan sekitar 18 ABK berada di tiga kapal tersebut. Dari laporan sementara, satu kapal dilaporkan tenggelam.

Nahkoda KM Raditi Jaya, Basri dikabarkan berhasil menyelamatkan diri setelah mendapat pertolongan dari nelayan di Papua Nugini.

Seorang nelayan di Merauke mengatakan cuaca di lokasi kejadian sedang buruk dengan tinggi gelombang mencapai 2 hingga 3 meter.

Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Kabupaten Merauke, Rekianus Samkakai menginformasikan bahwa hampir setiap tahun terjadi pelanggaran di batas perairan negara yang dilakukan oleh nelayan Merauke.

Hingga Maret 2026, ada 132 nelayan Merauke yang ditahan di Penjara Bomana (Bomana Correctional Institution) terletak di dekat Port Moresby PNG,  terhitung sejak 2024, 2025 dan awal 2026 ini.

Khusus bulan Februari 2026, ada empat kapal yang ditangkap di wilayah perairan  negara tetangga yakni negara PNG sebanyak 2 kapal dan 2 kapal lainnya ditangkap di perairan Australia.

Mengutip data dari Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia menyebutkan bahwa dalam periode Mei 2020-November 2021 telah terjadi enam (6) kali penangkapan kapal Indonesia oleh pihak aparat keamanan PNG.

Menurut  DFW terjadi penangkapan ilegal di laut Arafura oleh kapal Indonesia—pelintas batas masih saja marak, karena belum ada upaya serius dari pemerintah untuk menjaga laut Arafura.

Selain itu lanjut DFW bahwa penangkapan ilegal terjadi di wilayah PNG karena stok ikan di sana cukup tinggi dengan daerah fishing ground yang tidak terlalu jauh.

Fishing ground-nya dekat, hanya 4-7 mil laut dari daratan tapi sudah masuk wilayah PNG dan jenis ikan yang menjadi target tangkapan adalah jenis ikan kakap cina, kakap putih dan kuro.

Standing stock ikan bisa terjaga, karena ekosistemnya masih alami dan tidak terputus mata rantai kehidupan misalnya ikan kakap putih bertelur dan memijak di areal pantai dekat hutan bakau, lalu tumbuh dan bergerak menuju muara sungai dan hutan rawa-rawa dan savana.

Nelayan Indonesia mengejar ikan kakap putih ke Papua Nugini dan Australia terutama di Kepulauan Selat Torres karena hutan rawa di Trans Fly PNG masih terjaga dan terawat baik sehingga ikan kakap putih melimpah ruah di sana.

Meskipun belum ada penelitian ilmiah secara mendalam, tetapi tertangkapnya nelayan Indonesia di PNG terbukti bahwa ekosistem dan habitat di Papua Selatan sedang tidak baik baik saja.

Hingga mereka harus beradu nasib melintasi tapal  batas negara karena memang standing stock ikan di perairan Merauke sedang menurun. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Festival Kopi Papua Tengah

English Story

Gobai warns military presence could perpetuate violence in Paniai

Jayapura, Jubi – Deputy Speaker IV of the Central Papua Legislative Council (DPR Papua Tengah, John NR Gobai, has alleged [...]

Kamuyend clan’s black cross burned amid customary land dispute in Merauke

Jayapura, Jubi – Unidentified individuals have damaged and burned a black cross erected by the Kamuyend clan as a traditional [...]

WVI launches public campaign to support more than 5,000 children in Papua

Jayapura, Jubi – World Vision Indonesia (Wahana Visi Indonesia – WVI) has relaunched its Baca Tanpa Batas (Read Without Limits) [...]

Nduga shooting victims’ families ask Papua Legal Aid Institute to oversee investigation

Jayapura, Jubi – The families of three residents shot in Nduga Regency, Highland Papua Province, on October 23, 2026, have [...]

Challenges and hopes for the new AJI Jayapura City chair for 2026-2029

Jayapura, Jubi – Theo Kelen and Maurits Yansip have been elected chair and secretary of the Alliance of Independent Journalists [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist