Jayapura, Jubi – Ada apa dengan ikan gastor dan louhan yang sekarang mendominasi Danau Sentani sambil menyingkirkan Khahabei dan mengancam ikan pelangi? Para pemancing tradisional Danau Sentani mengakui kalau sekarang sangat sulit untuk mencari ikan gabus asli Danau Sentani, atau dalam bahasa Sentani disebut Khahabei dan Oxyeleotris sp dalam nama latinnya.
Mama Ermer M Mebri dari Kampung Yoka, Distrik Waena, Kota Jayapura kepada Jubi.id Kamis (6/6/2024) mengakui kalau sekarang sangat sulit untuk mencari ikan gabus asli Danau Sentani. “Iya dulu agak banyak sekali tetapi sekarang justru ikan louhan dan ikan gabus Toraja (Gastor) saja yang banyak, dan ikan gabus asli Khahabei justru makin berkurang,” ungkap Mama Mebri.
Dia menambahkan bahkan di Kampung Yoka itu ikan gabus asli Danau Sentani (Khahabei) sudah tidak ada lagi. “Kitorang biasa kalau mancing ikan sore-sore di belakang rumah panggung hanya dapat ikan louhan saja,” lanjutnya.

Ikan-ikan “pendatang” baru
Hadirnya ikan-ikan eksotik air tawar di danau, maupun sungai-sungai terkadang menjadi ancaman atau bisa menjadi predator dan hama bagi jenis ikan endemik lokal. Apalagi kalau populasi ikan-ikan jenis baru dari luar berkembang cepat dan memangsa ikan-ikan jenis asli di danau.
Keluhan Mama Ermer Mebri ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru terjadi, sebab ada beberapa penelitian yang telah dilakukan, terutama oleh pakar Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih, Dr Henderita Ohee MSc.

Menurut Ohee, masuknya jenis-jenis ikan baru di Danau Sentani dimulai sejak tahun 1958 di era Nederlands Nieuw Guinea. Pertama kali pemerintah Belanda waktu itu memasukan tiga jenis ikan, masing-masing ikan gurame, tawes dan mujair.
“Namun di antara ikan-ikan di atas, ternyata ikan louhan dan ikan gabus Toraja yang sangat mengancam populasi ikan gabus asli Danau Sentani. Memang masuknya spesies asing seperti ikan gabus Toraja ini sangat mengkhawatirkan, karena menjadi predator bagi ikan gabus asli Danau Sentani,” ujar mantan peneliti biologi dari Conservation International Indonesia, Dra Henderita Ohee MSc di Jayapura.
Dikatakan ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati adalah introduksi spesies-spesies eksotik. Dampak introduksi spesies eksotik secara sengaja atau tidak justru menjadi kompetitor atau predator bagi fauna asli, sehingga menimbulkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki pada keanekaragaman hayati air tawar. Danau Sentani yang termasuk danau terbesar di Papua pun tak lepas dari masuknya spesies ikan dari luar Papua.
Sementara itu Kadarusman, PhD dari Politeknik Perikanan di Sorong Papua Barat Daya, yang juga penemu 15 spesies baru ikan pelangi (Papuan Rainbowfishes: Melanotaeniidae, until Sept 2014) dalam laporan penelitian berjudul “Kajian Strategi Pra-Domestikasi Ikan Pelangi (Rainbowfishes) di Danau Sentani Kabupaten Jayapura,” menyatakan bahwa sebaran ikan pelangi Sentani luas dalam danau dan sungai, seperti di daerah Yoka, Jaifuri, Kleu Blow, Yokiwa, Atamali, Doyo Lama, Kwadeware, Waibron, dan Wabron Samon.
Penemuan tersebut tidak menghapus status keterancaman spesies. Pasalnya, ancaman besar masih mengintai.
Kadarusman menjelaskan, keberadaan spesies invasif hasil introduksi menjadi ancaman utama ikan pelangi Sentani. Salah satu jenis invasif yang mengancam adalah spesies louhan merah (Amphilphus labiatus) yang banyak didapatkan dari Amerika Latin dan Afrika.
Louhan merah memangsa telur-telur ikan pelangi sehingga keberlanjutan spesies itu terganggu. Belum lagi, ada ikan lain seperti betok (Anabas sp.) yang juga memangsa telur ikan pelangi.
“Ikan pelangi ini kan makan kutu-kutu air dan insekta (serangga). Kalau punah maka bisa terganggunya ekosistem danau itu,” kata Kadarusman.
Kondisi yang menimpa ikan pelangi Sentani sebenarnya merupakan cermin masalah lingkungan Sentani secara umum. Spesies invasif menjadi ancaman besar bagi jenis lokal.
Ikan Betik, ancam burung Pelikan di Papua Selatan
Dr Jance de Fretes, pakar Bioforestry dari Canada dan juga peneliti, dalam wawancaranya dengan Jubi.id beberapa waktu lalu di Jayapura mengatakan, masuknya berbagai spesies baik tanaman maupun hewan baru baik disengaja maupun tidak dapat membunuh spesies lokal.
“Hal ini menyebabkan terjadinya pembunuhan spesies lokal. Misalnya saja masuknya ikan gastor (Gabus Toraja), keong mas, dan ikan betik (betook) bisa menjadi hama bagi jenis ikan ikan lokal atau endemik.
Ikan betik atau ikan puyu ini sudah banyak ditemukan di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Ikan ini dalam bahasa Jawa disebut ikan betik, kalau orang Sunda menamakannya ikan betok. Sedangkan orang Kalimantan Timur dan Malaya menyebutnya ikan puyu.
Ikan betook ini semakin banyak berkembang biak di Merauke karena banyak rawa dan sungai-sungai. Laporan warga beberapa waktu lalu mengatakan banyak burung –burung Pelikan dari Australia mati karena memakan ikan puyu yang berduri itu.
Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai climbing gauramy atau climbing perch, merujuk pada kemampuannya memanjat ke daratan. Ikan ini berduri tajam, jika burung-burung pemangsa ikan memakannya akan tersendak dan mati. Laporan para peneliti menyebutkan bahwa banyak burung pelican mati akibat memakan ikan-ikan betook ini.

Mengutip sebuah artikel di situs agroindonesia.co.id yang menyebutkan bahwa para ilmuwan Australia bimbang setelah menemukan spesies ikan asing bisa berhijrah ke wilayah negara mereka di selat Torres, bagian utara Australia, sebagai ikan pendatang.
Pakar Australia menyatakan ikan betok ini akan memusnahkan ekosistem Australia karena bisa menyebabkan burung dan ikan asli negara itu tercekik akibat memangsa ikan betook atau puyu.
Ikan betok adalah salah satu jenis ikan air tawar dan payau, seperti dikutip dari situs perikanan.sariagri.id yang juga menyebutkan nama ikan ini sangat beragam di daerah Indonesia. Ada yang menyebutnya dengan nama ikan betik, puyo, puyu, dan papuyu.
Ikan betok termasuk jenis ikan omnivora, sebab ia dapat memakan segalanya. Saat masih kecil, anakan ikan betok memakan plankton, lumut, eceng gondok dan gulma. Kemudian ketika dewasa, ikan ini beralih menjadi karnivora dengan memangsa serangga, udang renik dan ikan kecil yang ada disekitarnya.

ABC News melaporkan, seorang ilmuwan dari James Cook University, Dr. Nathan Waltham percaya bahwa ikan puyu telah datang dari Papua Nugini, dan akan menjadi ancaman kepada kehidupan liar setempat.
“Insang mereka tajam dan bila terbuka bisa menyebabkan ia akan terperangkap di dalam kerongkongan ikan atau burung yang memangsanya. Ini memungkinkan binatang pemangsanya mati. Ikan ini telah ditemukan di Pulai Boigu dan Pulau Saibai yang merupakan pulau paling dekat dengan Papua Nugini. Ikan-ikan itu telah berenang menyeberangi selat Torres menuju pulau Boigu dan Saibai,” kata Dr Waltham.
Ikan betok dalam bahasa latin adalah Anabas testudineus dan memiliki beragam keistimewaan. Diantaranya dilengkapi dengan organ labirin untuk membantu dalam proses pengambilan udara pada saat perairan mulai dangkal dan kekeringan.
Ikan betok dikenal sebagai predator dalam perairan tawar yang mampu bergerak bebas dan aktif dalam mencari makanannya. Sama halnya dengan ikan lain, kebiasan makan dan cara memakan ikan betok secara alami bergantung kepada lingkungan tempat ikan itu hidup. (*)























Discussion about this post