Jayapura, Jubi – Wakil Ketua ASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia) Papua Ibastanta Ginting menyebutkan setidaknya ada dua masalah pariwisata di Papua terkait dengan agen perjalanan, yaitu ketersedian pemandu dan potensi wisata yang belum maksimal.
Diwawancarai Jubi usai Talkshow Pariwisata pada Festival Cenderawasih yang diadakan Kantor Bank Indonesia Perwakilan Papua di Eks Terminal PTC Entrop, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (18/5/2024), Ibastanta Ginting mengatakan pemandu wisata selain bahasa Inggris tidak tersedia di Papua.
“Kemampuan bahasa yang dibutuhkan, yaitu Perancis, Rusia, Mandarin, dan Jerman. Ada banyak yang dibutuhkan, tapi umumnya itu, karena mereka (wisatawan asing) tidak bisa berbahasa Inggris,” katanya kepada Jubi usai talkshow tersebut.
Menurut Ibastanta permasalahan ini sudah lama terjadi. Wisatawan asing pun, katanya, sudah tahu bahwa tidak tersedia pemandu sesuai yang mereka inginkan. Sehingga wisatawan tersebut membatalkan rencananya berkunjung ke Papua.
“Hal itu karena mereka harus menyewa jasa guide dari Bali atau Jakarta, sehingga cost-nya lebih mahal,” katanya.
Selanjutnya, kata Ibastanta, pengelolaan potensi wisata yang dimiliki Papua belum maksimal. Pengelolaan itu terkait publikasi yang luas untuk menjangkau masyarakat dan kepastian tanggal kegiatan wisata.
Ia mencontohkan, kegiatan festival budaya seharusnya sudah diinformasikan setahun sebelumnya agar bisa mengundang wisatawan lebih banyak.
“Kami tidak bisa mengundang wisatawan mancanegara karena tanggal kegiatan belum pasti. Bule biasanya merencanakan kedatangannya dengan matang (on schedule), seperti pemesanan tiket,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Boni Asso mengatakan untuk menambah pendapatan daerah Provinsi Papua dari sektor pariwisata agak susah. Sebab, melihat pembangunan pariwisata di Papua hari ini, kunjungan wisatawan internasional sangat minim.
Ia mengatakan di sektor pariwisata itu ada ‘quality tourism’ dan ‘quantity tourism’. Quality tourism maksudnya adalah kunjungan wisatawan sedikit, tapi daya belinya tinggi. Sedangkan quantity tourism, jumlah wisatawannya banyak tapi transaksinya sedikit.
“Biasanya daya beli yang besar itu dari wisatawan asing, karena mata uangnya besar sehingga harga yang menurut kita mahal, menurut mereka murah,” katanya saat berbicara pada acara Talkshow Pariwisata.
Untuk itu, ia berharap ada kerja sama menggunakan sistemik, holistic, interdisciplinary, dan participatory sebagai konsep untuk membangun pariwisata di Provinsi Papua sebagai bagian pembangunan ekonomi. (*)























Discussion about this post