Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Provinsi Papua Matias B Mano mengatakan potensi pariwisata di Papua besar, namun ditemukan sejumlah kendala atau tantangan agar bisa menarik wisatawan untuk datang ke Papua.
Hal itu disampaikan Kadinas Pariwisata saat menjadi pembicara pada Talkshow Pariwisata di Festival Cenderawasih yang diadakan Kantor Bank Indonesia Perwakilan Papua di Eks Terminal PTC Entrop, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (18/5/2024).
Menurut Matias B Mano, ada dua tantangan atau masalah utama pariwisata di Papua, yaitu masalah ketertiban-keamanan dan kebersihan.
Terkait ketertiban dan keamanan, tantangan di Papua adalah kalau tempat wisata itu bagus dan nyaman maka di situ juga biasanya dijadikan tempat untuk mengonsumsi miras.
Miras, kata Mano, ada aturan dan tempat mengonsumsinya, yaitu di tempat bisnis hiburan malam, seperti tempat karaoke. “Tapi kalau dibawa keluar, misalnya di pantai atau gunung, itu lain cerita,” ujarnya.
Aturan dan penggunaan miras seperti ini, tambah Mano, yang harus dipahami masyarakat. Terutama ada masyarakat yang meminta toko miras ditutup, padahal miras itu ada aturannya.
“[Miras] itu diatur dan diawasi. Jadi, jangan ada lagi yang salah persepsi di masyarakat, ‘tutup saja, tidak boleh ada miras di sini’. Tidak bisa, karena orang dari luar (bule) mereka datang juga butuh,” katanya.
Karena di Papua miras sering disalahgunakan, maka Mano menyarankan agar masyarakat lebih baik meminum kopi daripada mengonsumsi miras. Tujuannya agar tidak mengganggu keamanan dan ketertiban.
“Jadi, otak su terganggu karena miras, jadi lebih baik ngopi saja. Habis ngopi ko ngobrol pintar, tra mungkin orang habis ngopi trus lempar-lempar gelas di aspal,” katanya.
Situasi ketertiban-keamanan lainnya, kata Mano, adalah Jayapura aman dari konflik. Namun kalau misalnya ada yang mendengar informasi di Papua ada konflik, maka orang-orang di luar Papua jadi berpikiran bahwa Jayapura tidak aman sehingga berpengaruh terhadap kedatangan orang dari luar Papua.
“Tra usah orang dari luar negeri, kita yang dari Indonesia saja yang belum pernah datang ke Jayapura, pas dengar terjadi konflik di Papua orang su tidak mau datang,” ujarnya. “Jadi faktor keamanan sangat berpengaruh sekali untuk bisnis dan investasi.”
Terkait kebersihan, menurut Kadinas Pariwisata Kota Jayapura masalahnya perlu dituntaskan bersama-sama, karena persoalannya datang dari hulu ke hilir.
Ia mencontohkan komunitas yang mengadakan bersih-bersih pantai. Menurutnya, meskipun satu juta truk atau armada disediakan untuk mengangkat sampah, bila sampah tidak dipotong dari hulunya maka tidak akan menyelesaikan masalah sampah di Jayapura.
“Kalau kita yang ada di sini, pegang air mineral atau makanan, setelah itu dibuang ke jalan, lalu saat hujan bawa ke selokan, lalu nanti dibawa ke kali, lalu kali bawa ke laut, pantai lagi yang kotor,” ujarnya.
Jadi, menurut Mano, dari dua persoalan tersebut, yaitu ketertiban-keamanan dan kebersihan, kata kuncinya adalah kesadaran. “Kesadaran menjaga keamanan dan kebersihan,” katanya. (*)























Discussion about this post